Madiun

Begini Pesan Pasien 05 dari Ruang Isolasi RSUD dr Soedono Madiun

Ujian Tuhan Tidak Melebihi Kemampuan

Sudah 32 hari JK berada di ruang isolasi RSUD dr Soedono Madiun. Pasien 05 itu belum bisa menyusul AR, istrinya (pasien 04) yang sudah dinyatakan sembuh dari Covid-19 sejak 22 Juni lalu.

ASEP SYAEFUL BACHRI, Jawa Pos Radar Madiun

HARI ini saya di-swab test lagi, tapi hasilnya belum keluar.’’ Seusai salat Asar Kamis (2/7), JK menjalin komunikasi dengan koran ini lewat sambungan telepon. Meski sejak awal terinfeksi pada 1 Juni lalu kondisinya sehat dan tidak memiliki gejala serius, sampai kini hasil swab test JK masih dinyatakan positif.

Pasien 05 ini termasuk orang tanpa gejala (OTG). Dia hanya mengalami gejala pada fase awal. Indra penciumannya sempat tidak berfungsi pada pekan pertama terjangkit korona. ‘’Gejala itu terasa berbarengan dengan istri saya yang mengeluhkan mual, pusing, dan lemas pada 25 Mei,’’ terang JK.

JK memang mempunyai riwayat perjalanan dari Surabaya. Pekerjaannya di Surabaya sudah selesai pada saat itu. Sebelum pulang, dia sempat bertanya kepada ketua RT tentang syarat diperbolehkan pulang. Mengetahui salah satu syaratnya mencantumkan hasil rapid test, dia pun menjalaninya di Surabaya pada 18 Mei. Sesampainya di kota ini, dia pun kooperatif melapor ke puskesmas setempat dan isolasi mandiri selama 14 hari. ‘’Saat rapid test di Surabaya nonreaktif. Tapi, beberapa hari di rumah, istri mulai sakit,’’ ungkapnya.

Setelah istrinya dinyatakan positif, JK menjalani isolasi mandiri di rumah sendirian. Kedua anaknya diungsikan ke rumah nenek, jauh sebelum istrinya dinyatakan positif. Dia sangat lega dan berterima kasih atas kepedulian masyarakat sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Semua keperluan harian dicukupi secara swadaya. Setiap pagi selalu tersiapkan makanan dan kebutuhan lainnya. ‘’Tidak dikucilkan saja saya sudah senang dan berterima kasih,’’ ungkapnya.

JK baru di-swab test empat hari setelah istrinya dinyatakan positif. Dua hari berselang hasilnya keluar dan dia dinyatakan positif. Dia lantas menyusul sang istri di ruang isolasi. JK pasrah menanti kesembuhan. ‘’Selama diisolasi, serasa di dunia ini hanya ada saya dan Tuhan. Sekarang mau minta tolong siapa, mau komunikasi dengan sesama manusia juga tidak bisa. Penularan yang cepat, wajar membuat setiap orang waspada,’’ tuturnya.

Selama isolasi, JK rajin bangun di sepertiga malam. Setiap pukul 03.00, dia selalu salat malam dan berdoa hingga tiba subuh. Setelah itu melanjutkan aktivitas sebisanya. Kelonggaran waktu dimanfaatkannya dengan baik untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. ‘’Saya tetap semangat bisa sembuh. Alhamdulillah semua pasien Covid-19 yang dirawat di RSUD dr Soedono sembuh semuanya,’’ ucapnya.

JK pun selalu berpikiran positif. Dia percaya bahwa ujian Tuhan tidak pernah melebihi kemampuan hambanya. ”Saya ikhlas menjalani isolasi. Ini peringatan untuk saya agar sementara berhenti bekerja dan memperbannyak ibadah,’’ ungkapnya.

Dia sadar betul, jika OTG berkeliaran justru berbahaya. Dia mendengar dari temannya di Surabaya, karena kapasitas rumah sakit sudah tidak muat, banyak OTG seperti dirinya yang akhirnya diperbolehkan pulang. Akhirnya persebaran tidak bisa dikendalikan. ‘’Makanya teman-teman jangan sampai terjangkit virus ini. Selalu ikuti protokol kesehatan,’’ pesannya. *** (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close