Madiun

Begini Kisah Komarudin Melawan Covid-19

Menelan Delapan Belas Butir Obat Setiap Hari

Komarudin mengira kondisi tidak fit tubuhnya hanya flu biasa. Pemikiran itu berubah setelah sang anak bungsu memintanya berobat. Warga Desa/Kecamatan Geger itu menjadi pasien pertama Kabupaten Madiun yang terinfeksi korona.

_________________________________________ 

DENI KURNIAWAN, Geger

HASIL laboratorium yang keluar 31 Maret lalu membuat detak jantung Komarudin berdegup lebih kencang dari biasanya. Uji swab itu memastikan dirinya positif terinfeksi Covid-19. Petugas medis RSUD dr Soedono, Madiun, yang menyampaikan informasi tersebut memintanya tetap tenang. ‘’Saya berikhtiar dan membalas arahan medis dengan anggukan,’’ katanya.

Komarudin adalah pasien positif korona pertama di Kabupaten Madiun. Warga Desa/Kecamatan Geger itu telah dinyatakan sembuh Jumat lalu (10/4). Dokter yang merawat mempersilakannya pulang. Setelah 15 hari berada di ruang isolasi dengan berbagai macam perawatan. ‘’Sekarang sudah sehat, tapi tetap diminta menerapkan protokol kesehatan di rumah,’’ ujarnya.

Pria 57 tahun itu tertular korona ketika mengikuti acara pembekalan pendamping haji di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, selama 10 hari pada 10 Maret lalu. Aparatur sipil negara (ASN) lingkup Kemenag Kabupaten Madiun itu ditemani lima anggota lainnya. Dua di antaranya staf Kemenag dan tiga dinas kesehatan (dinkes). ‘’Berbagai jenis pelatihan berjalan normal sesuai jadwal. Jadi, tidak menyangka kalau beberapa peserta terjangkit Covid-19 setelah kegiatan itu,’’ paparnya.

Komarudin merasa sehat selama di Surabaya hingga pulang ke rumah 18 Maret. Perubahan pada kondisi kesehatannya baru terjadi sehari setelahnya. Badannya terasa dingin, terlebih ketika menyentuh air. Dia mengira hanya flu biasa. Penyakit itu biasa dialaminya akibat kelelahan setelah bepergian dalam tempo lumayan lama. ‘’Agak mulai berpikir (korona) ketika menelan makanan itu rasanya tidak enak. Tidak seperti saat flu biasa,’’ terangnya.

Bapak tiga anak itu enggan berpikir macam-macam mengenai virus asal Wuhan, Tiongkok, tersebut. Karenanya, meski kondisi tubuh tidak fit, dia mencoba beraktivitas seperti biasa. Komarudin membantu pekerja menjemur padi. Keringat yang keluar membuat tubuhnya terasa lebih ringan. Namun, lidahnya masih mengecap rasa tidak enak ketika menelan makanan.

Gangguan kesehatan itu diceritakan kepada putra sulungnya yang berada di Gresik lewat sambungan telepon. Setelah sekitar sepekan tidak ada perubahan, anaknya yang bekerja sebagai analis laboratorium di salah satu rumah sakit di Gresik itu menyarankan untuk periksa ke rumah sakit. ‘’Saya periksa ke RSUD Dolopo 25 Maret,’’ ujarnya.

Komarudin berangkat sendirian mengendarai motor. Di meja medis, petugas mengambil sampel darahnya. Dia juga masuk ruang rontgen untuk mengecek kondisi paru-paru. Tak disangka, hasil pemeriksaan itu membuat pihak RSUD Dolopo mengeluarkan surat rujukan ke RSUD dr Soedono keesokan harinya. ‘’Saya diantar dua petugas yang mengenakan alat pelindung diri (APD) dengan naik mobil ambulans,’’ katanya.

Komarudin tidak henti-hentinya berdoa. Meski begitu, dia tetap khawatir terjangkit korona. Apalagi, petugas medis memintanya menunggu hasil laboratorium kala menanyakan kepastian hal tersebut. Komarudin sedikit lega karena tidak sendirian tinggal di ruang isolasi. Sebab, ada tiga pasien asal Magetan yang sama-sama saling menenangkan pikiran. ‘’Petugas juga berusaha menenangkan,’’ ujarnya.

Selama diisolasi dengan jarum infus menancap di tangan, pikirannya seringkali melayang ke keluarga di rumah. Istri tinggal sendirian bersama anak bungsu. Sedangkan anak nomor dua di pondok pesantren. Hari-hari yang harus dilewati kian sepi karena pasien dari Magetan satu per satu diperbolehkan pulang.

Kawan bicaranya hanya beberapa petugas medis yang mengenakan pakaian mirip astronot. Petugas ber-hazmat itu memberikannya obat hingga 18 butir setiap harinya. Pagi minum tujuh butir, siang dua butir, dan malam sembilan butir. Masa yang tidak mengenakkan itu diisi dengan mengaji, berzikir, dan berkomunikasi dengan keluarga lewat gadget. ‘’Lebih sering video call dengan anak di Gresik. Ibunya malah sedih kalau lihat saya diinfus,’’ ungkapnya.

Komarudin melawan vonis korona bermodal keyakinan. Sesuai ajaran agama Islam, dia percaya dengan dalil bahwa segala penyakit pasti ada obatnya. Perlahan dia mulai bisa merasakan nikmatnya makan dan kondisi tubuh membaik. ‘’Ada psikolog ber-APD yang sempat datang ke ruang isolasi untuk memberikan semangat,’’ ujarnya. ***(cor/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close