Mejayan

Begini Kata BBWS soal Bergesernya Titik Pembangunan Embung Kresek

MADIUN – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo angkat bicara soal bergesernya titik pembangunan Embung Kresek. Perubahan koordinat itu atas permintaan PT Perhutani. Megaproyek senilai Rp 11,6 miliar itu tetap berlanjut kendati menuai kritik dari Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) Tirto Wilis. ‘’Permintaan pergeserannya saat lelang,’’ kata Kepala BBWS Bengawan Solo Charisal Akdian Manu, Selasa (16/10).

Permintaan dari pemilik lahan itu pun dipenuhi. Meski sedang proses di layanan pengadaan secara elektronik (LPSE) Kemen PUPR, Maret lalu. Pergeseran diklaim tidak memengaruhi gambar perencanaan. Sebab, perencanaan yang berdasar penelitian geologi dilakukan menyebar dan merata. ‘’Hanya memindah, tidak sampai mengubah set plan,’’ ujarnya ketika dihubungi kemarin.

Dia kurang tahu alasan Perhutani tidak memperkenankan titik lokasi yang dulunya dituju. Hanya, yang disampaikan bahwa luasan bangunan embung kelak bakal mengenai kawasan hutan di titik tersebut. Charisal mengamini pergeseran tersebut bakal memengaruhi kapasitas embung. Seperti berkurangnya volume daya tampung air hingga debit yang dikeluarkan untuk mengairi persawahan. Namun, dia tidak hafal detail angka perubahannya. ‘’Tapi kalau dilihat dari alirannya sungai kan sudah cukup besar,’’ ungkapnya kepada Radar Mejayan.

Charisal berharap HIPPA tidak terlalu menyoal perubahan titik lokasi pembangunan. Melainkan, perlu disyukuri karena proyek senilai Rp 11,6 miliar yang dikerjakan PT Inti Jawa Teknik (IJT) itu nyaris gagal terlaksana tahun ini. Karena terbentur alotnya pembahasan lokasi. Dia meminta HIPPA bisa memandang luas terhadap persoalan ketika disinggung perubahan lokasi memengaruhi cakupan irigasi persawahan. Keberadaan embung sekalipun debitnya rendah sangat membantu pasokan air persawahan. ‘’Kami berharap kelompok itu (HIPPA, Red) bersikap dewasa. Ini demi kepentingan masyarakat banyak,’’ paparnya.

Sementara, petugas administrasi teknik PT IJT Heri menyebut pergeseran titik berkaitan area pembebasan lahan. Perubahan itu tidak sampai mengganggu pelaksanaan pekerjaan. Pihaknya tetap membangun embung sesuai perencanaan. Dengan luasan sekitar 4 hektare, panjang 100 meter, serta tinggi 7 meter. ‘’Sesuai kontrak, pekerjaan kami mulai Mei,’’ ucapnya.

Terpisah, Waka Adm Perhutani KPH Madiun Mulato ketika dimintai konfirmasi justru tidak tahu-menahu soal perubahan titik pembangunan tersebut. Dia perlu bertanya ke internal tempatnya untuk memastikan benar tidaknya perintah pergeseran tersebut. ‘’Saya baru (tugas KPH Madiun, Red). Jadi, belum tahu seperti apa pembahasan penentuan titiknya embung,’’ kilahnya.

Sebelumnya, HIPPA Tirto Wilis menilai perubahan mengakibatkan perubahan kapasitas daya tampung air dan banyak kerugian. Utamanya, daya tampung berkurang karena luasan menjadi hanya 4,3 hektare dari sebelumnya bisa 8 hektare. BBWS Bengawan Solo pun harus mengeluarkan biaya lebih tinggi. Sebab, tembok embung dibangun selebar 120 meter dari sebelumnya cukup 60 meteran. Itu bakal memengaruhi debit air persawahan di Dagangan, Geger, dan Wungu. Bila sebelumnya diperkirakan 1,2 juta meter kubik, anjlok tinggal 600 ribu meter kubik. (cor/c1/fin)

 

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button