Ponorogo

Bedol Anggaran Demi Pengungsi Wamena

Bupati Ipong Salurkan Bantuan Finansial

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Faktor kemanusiaan jadi  alasan utama pemkab membedol anggaran untuk para pengungsi dari Wamena. Senin (4/11), para pengungsi diberi bantuan jutaan rupiah untuk menata kembali hidup mereka di Bumi Reyog. Sebagian berencana menggunakan bantuan itu sebagai modal merintis usaha. ’’Sebelum memberi bantuan, kami kaji regulasinya dulu. Karena ini beda kasus dengan bencana alam,’’ ujar Bupati Ipong Muchlissoni, kemarin.

Sebanyak 22 warga Ponorogo yang mengungsi dari Wamena diundang Ipong ke rumah dinasnya di Pringgitan. Disana, mereka mencurahkan uneg-unegnya pasca meninggalkan tanah Papua yang membara. Tanpa harta benda mereka meninggalkan Kabupaten Jawayijaya. Kini puluhan warga itu banyak menggantungkan hidup dari uluran bantuan sanak saudara mereka.

Pemkab akhirnya merespon. Setiap KK dari 22 pengungsi mendapat bantuan Rp 7 juta. Dengan rincian, Rp 5 juta dari pemkab, dan Rp 2 juta dari PMI. ‘’Angka maksimal bantuan sosial (bansos) yang tidak direncanakan itu maksimal Rp 5 juta,’’ ujar bupati.

Menurut Ipong, pemberian bantuan terhadap para pengungsi itu butuh waktu karena pemkab perlu mengkaji regulasi yang ada. Karena itu, pemkab baru bisa memberikan bantuan kemarin. Dia memberi contoh, syarat mengenai bansos yang tidak direncanakan. Ipong menyebut, ada syarat jika pemkab hendak membedol anggaran besar dari pos belanja tersebut. ’’Syaratnya penerima harus miskin. Dan kalau tidak menerima, orangnya bisa sekarat. Nah, warga dari Wamena ini kan tidak memenuhi semua syarat itu,’’ kata dia.

Bantuan Rp 7 juta yang dikucurkan, lanjut Ipong, hendaknya digunakan sebagai modal usaha. Itu untuk mengembalikan hidup normal mereka yang terenggut di Wamena. Ipong tunjuk contoh Siti, salah seorang pengungsi. Di Wamena, perempuan parobaya itu bekerja sebagai penjahit. ‘’Di Ponorogo, Bu Siti ingin menjahit kembali. Kan tidak mungkin kami pekerjakan karena tidak ada pegawai seperti itu. Yang bisa dilakukan, ya membantu dengan mesin jahitnya,’’ ujarnya.

’’Ini semua kami lakukan demi mempertimbangkan aspek kemanusiaan. Akhirnya saya mendapat keberanian untuk mengambil langkah-langkah diskresi yang mungkin tidak sesuai aturan,’’ sebut Ipong.

Errisa Dwi Siswandani, salah seorang pengungsi, berterimakasih atas bantuan pemkab. Dia dan warga lain mengaku mengalami kesulitan keuangan. Sebab, tak ada harta benda yang bisa diselamatkan dari Wamena. Karena itu, para pengungsi ingin difasilitasi administrasi kependudukannya untuk menetap di Ponorogo, serta mendapat bantuan untuk menata kembali hidup. ‘’Ada yang ingin kembali buka usaha, ada yang ingin bekerja. Termasuk tiga PNS dari Ponorogo yang bertugas di Wamena. Kami sangat berterimakasih,’’ ujarnya. (naz/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button