Madiun

’’Bayi Musala’’ Sah Diasuh Thoha

Telah Disiapkan Nama Firdaus Salsabila Aurora

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Binar dua pasang mata bayi itu dengan polosnya memandangi Muhammad Thoha. Tangan mungilnya tak cukup untuk menggapai botol susu yang sengaja ditarik Thoha. Ceracau si bayi pun terlontar, seolah tak terima susunya diminta pria itu. ‘’Nanti diminum lagi, Nak. Jangan banyak-banyak, gumoh,’’ kata Thoha sembari ngliling bayi di pangkuannya, Kamis (17/6).

Ya, Thoha baru saja mendapat kepercayaan sebagai orang tua asuh bayi tersebut. Sebelumnya dia menjalani prosesi penyerahan adopsi di UPT Perlindungan dan Pelayanan Sosial Anak Balita (PPSAB) Sidoarjo pada Selasa lalu (16/6). ‘’Halo, panggilanku Dita,’’ ujar Thoha memperkenalkan bayinya. ‘’Nama pemberian rumah sakit dulu. Kalau nanti, sudah saya siapkan nama, Firdaus Salsabila Aurora,’’ imbuhnya.

Kemarin menjadi momen kali kedua bagi Dita berada di rumah Thoha di Desa Tiron, Kecamatan/Kabupaten Madiun. Sementara, yang pertama pada 14 Desember 2020 lalu. Beberapa saat setelah Thoha menemukan bayi itu di Musala Al Falah desa setempat.

Dia masih ingat betul saat jalan kaki dan membopong bayi yang kala ditemukan masih berbobot 2,9 kilogram itu. Sembari terus berucap syukur dan membatin akan ngopeni. ‘’Sebelumnya saya selalu berdoa dan berusaha punya anak normal. Pikiran saya waktu itu, doa saya dikabulkan,’’ ujar Thoha.

Berat badan Dita saat ini 6,8 kilogram. Perkembangan selama tujuh bulan semenjak dijemput pihak UPT PPSAB Sidoarjo. Itu saat bayi sempat dirawat di RSUD Caruban setelah ditemukan Thoha. Usai bayi diboyong ke Sidoarjo, Thoha hanya bisa mengingat wajah bayi yang dilihatnya saat menyalakan lampu musala.

Ketika hendak menyetel qariah yang menjadi rutinitasnya menjelang salat Subuh, bayi dengan selimut warna biru hanya bisa dilihat dari foto yang sempat diambil. Ya, Thoha sempat merasa kecewa setelah niatnya merawat bayi yang dia temukan itu terganjal ketentuan. ‘’Saya waktu itu langsung mengurus berbagai persyaratan untuk mengadopsi,’’ kenangnya.

Keseriusan Thoha mengadopsi ’’bayi musala’’ sudah bulat. Saban bulan dia bertolak ke Sidoarjo untuk menjenguk. Bahkan, sengaja bermalam di UPT PPSAB di gelaran tikar. Itu dilakukan agar bisa dua hari sekaligus bertemu bayi yang diidam-idamkan pada Sabtu dan Minggu. ‘’Awal-awalnya belum boleh pegang atau nggendong bayi. Hanya melihat dari luar ruangan kaca,’’ ungkapnya.

Seiring waktu berjalan, niat Thoha tak juga surut. Pun, ketika ada tawaran adopsi bayi ilegal yang datang kepadanya. Yakni, dengan memberi uang tebusan. Namun, Thoha tidak menggubris. Maklum, sebelum menemukan Dita, Thoha sudah berkeliling ke belasan panti asuhan untuk mengadopsi anak. Tak bosan-bosan Thoha setiap bulan pergi-pulang Madiun-Sidoarjo.

Keseriusan itu akhirnya terbaca. Harapan muncul ketika petugas datang ke rumah Thoha. Kondisi rumah dan ekonomi keluarga dipelototi betul-betul. Alasannya, terkait keterjaminan kesejahteraan si bayi bila diadopsi Thoha.

‘’Sudah seperti KPK, petugasnya yang survei ke sini. Tapi akhirnya senang setelah ditentukan sebagai calon orang tua asuh pada empat April lalu,’’ ungkap Thoha. ‘’Setelah itu saya seminggu sekali menjenguk ke Sidoarjo dan diperbolehkan untuk menggendong,’’ imbuhnya.

Bungah bukan kepalang kini dirasakan Thoha dan istri. Pasangan pengusaha dan pegawai negeri sipil (PNS) itu benar-benar bersyukur bisa menjadi orang tua asuh ’’bayi musala’’. Kendati demikian, masih ada enam bulan ke depan untuk menyempurkan status adopsi itu. Akan ada tim survei lagi yang bakal melihat perkembangan bayi. ‘’Insya Allah semua akan sehat, baik, dan lancar. Setelah itu dapat rekomendasi untuk mengurus berbagai surat seperti KK dan lain-lain,’’ tuturnya.

Apakah Thoha tidak memiliki anak sebagai salah satu syarat untuk melakukan adopsi? Sejatinya Thoha sudah memiliki dua anak kembar. Usianya saat ini 17 tahun. Hana dan Hani namanya. Namun, kedua putrinya itu berkebutuhan khusus. Keduanya menderita cerebral palsy, semacam gangguan perkembangan otak.

Sementara, keinginan memiliki anak lagi terkendala kondisi istri yang sudah menopause. ‘’Keduanya (Hana dan Hani, Red) tetap anak kami. Begitu pula Dita, akan kami rawat seperti anak kandung,’’ ungkap suami Ninuk Muryanti itu. (den/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button