Ponorogo

Banyak Anggaran, Kurang Reyogan

PONOROGO – Mulai bulan depan, pemkab akan mengevaluasi manfaat dari setiap pemberian bantuan keuangan khusus desa (BKKD). Terutama, di bidang kesenian. Ditengarai, banyak BKKD yang diterima desa muspro. ‘’Yang saya persoalkan, kok reyog yang aktif sekitar seratusan. Padahal, bantuan keuangan tiap tahun ada,’’ ungkap Bupati Ipong Muchlissoni.

BKKD, lanjut Ipong, digelontor sejak hampir lima tahun terakhir. Pun, BKKD yang diberikan menyasar berbagai bidang, tak terkecuali di bidang kesenian. Sejatinya dari sisi pertanggungjawaban tidak ada persoalan. Seluruh desa sanggup memenuhi pertanggungjawaban keuangan dengan baik. Satu misal, jika desa memperoleh BKKD senilai Rp 30 juta, maka seluruhnya sudah dibelikan berbagai peralatan kesenian reyog termasuk gamelan. ‘’Dari sisi pertanggungjawaban sudah klir,’’ kata dia.

Yang jadi soal, Ipong kemudian mendapati bahwa tidak semua desa aktif menggunakan berbagai peralatan dari BKKD itu. Indikator yang dilihat Ipong, hanya sekitar seratus kelompok kesenian reyog yang saat ini aktif. ‘’Berarti ada kemungkinan alat-alat itu hanya disimpan. Tidak dimanfaatkan atau dimainkan,’’ sebutnya.

Berangkat dari persoalan itu, Ipong mewacanakan aturan baru. Khususnya mengenai evaluasi dalam pemberian BKKD. Salah satunya terkait BKKD di bidang kesenian. Ipong mewacanakan, mulai bulan depan, setiap desa harus dapat mementaskan kesenian reyog, menggunakan berbagai sarpras dari BKKD. ‘’Harus dimainkan serentak setiap tanggal sebelas. Kalau sampai ada desa yang tidak bisa mementaskan, akan dipanggil,’’ imbuh Ipong.

Pementasan reyog tiap bulan itu menjadi sumber evaluasi pemkab dalam memberikan BKKD ke depan. Tentu, evaluasinya tidak sekadar menyasar pemanfaatan anggaran di bidang kesenian. ‘’Pemberian BKKD lebih didasarkan pada prestasi desa,’’ tandasnya. (naz/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close