Madiun

Bantaran Tol Jadi ’’Hotel’’ Tikus?

JNK Buka Pintu Pemberantasan

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Pernyataan mengejutkan dilontarkan Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Dispertan Kabupaten Madiun Sumanto. Dia menduga bantaran tol menjadi ’’kamar VIP’’ hama tikus yang belakangan membuat pusing petani.

Lahan-lahan tak terjangkau di tepian jalan bebas hambatan dimungkinkan menjadi tempat perkembangbiakan binatang pengerat itu. ‘’Tikus yang tidak tertangkap atau selamat (dari gropyokan) bisa membentuk koloni baru di tempat yang tak terjangkau dan makanan selalu ada,’’ ujar sumanto Minggu (19/1).

Apakah dispertan punya bukti bantaran tol menjadi ’’hotel’’ bagi hama tikus? Sumanto mengatakan, serangan tikus merata di Jawa Timur, terutama daerah-daerah yang dilintasi ’’ular beton’’ itu. ‘’Tikus itu binatang yang cerdik. Mereka mencari tempat aman untuk berlindung dan berkembang biak,’’ tuturnya.

Dia menyebut, kawasan bantaran tol adalah lokasi yang aman bagi tikus. Sebab, terdapat larangan bagi warga memasuki kawasan di tepian tol. ‘’Karena ada aturan seperti itu, gropyokan tidak bisa dilakukan di pinggiran tol. Dimungkinkan jadi ’’hotel’’ tikus itu,’’ ungkap Sumanto.

Dia menambahkan, sapasang tikus dapat berkembang biak menjadi ribuan ekor dalam setahun. Perkembangbiakan akan menjadi-jadi jika ditunjang ketersediaan pangan. Sebagai contoh, area persawahan yang dapat ditanami padi setahun tiga kali. ‘’Sudah dilakukan gropyokan dan pemberantasan dengan emposan, tapi tikus masih ada,’’ bebernya.

Dirut Jasa Marga Ngawi Kertosono Kediri (JNK) Dwi Winarso angkat bahu terkait dugaan bantaran tol menjadi sarang tikus. Menurutnya, hal itu masih perlu dibuktikan. Di sisi lain, jika memang benar bantaran tol menjadi sarang koloni tikus, pihaknya akan melakukan evaluasi lebih lanjut. ‘’Kalau merongrong ada kemungkinan akan memengaruhi badan jalan tol,’’ katanya.

Soal kawasan bantaran tol yang tidak sembarang orang bisa keluar-masuk, Dwi menyebut hal itu sudah menjadi aturan. Meski begitu, pihaknya bakal membuka pintu lebar-lebar bagi para petani maupun pemerintah setempat jika diperlukan pemberantasan hama tikus bersama-sama. ‘’Tapi, perlu ada komunikasi lebih dulu. Biar kami bisa mendampingi dan sekalian ikut (memberantas tikus), karena berbahaya kalau masuk tol tanpa ada petugas,’’ ujarnya.

Sekadar diketahui, hama tikus telah meludeskan sedikitnya 100 hektare padi baru tanam. Perinciannya, di Kecamatan Wonoasri 16 hektare, Balerejo (30), dan Pilangkenceng (54). Serangan mamalia bernama latin Rattus argentiventer itu terjadi berkesinambungan sesuai masa tanam di masing-masing daerah. (den/c1/isd)

Wahyu: Jangan Lupakan Dampak di Belakangnya

WAKIL rakyat meminta dispertan tidak terburu-buru menerapkan rencana pembatasan penanaman padi. Melainkan terlebih dulu harus benar-benar dikaji matang. ‘’Tujuan baik, untuk mengurangi populasi tikus. Tapi, jangan lupakan dampak di belakangnya,’’ kata Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Madiun Wahyu Widayat Minggu (19/1).

Ya, muncul wacana dispertan membatasi tanaman padi. Pembatasan itu akan diterapkan di enam kecamatan yakni Sawahan, Madiun, Pilangkenceng, Saradan, Balerejo, dan Mejayan. Lahan yang bakal terimbas rencana tersebut seluas 200 hektare.

Wahyu menyebut, rencana itu berpotensi memunculkan pro-kontra di kalangan petani. Pasalnya, selama ini mereka terbiasa menanam padi. ‘’Bisa jadi akan memunculkan perbedaan pendapat dari petani, antara mau atau tidak,’’ ujarnya.

Menurut dia, perbedaan pendapat itu tidak hanya muncul dari perhitungan ekonomi. Melainkan juga kemampuan petani dalam menggarap sawah. ‘’Selain pertimbangan untung-rugi, yang perlu digarisbawahi adalah para petani itu punya kemampuan atau tidak untuk menanam dan memelihara sawah selain padi,’’ tuturnya.

Produktivitas padi di Kabupaten Madiun juga disebut Wahyu patut menjadi pertimbangan. Dia khawatir, jika rencana itu direalisasikan, predikat lumbung padi Jawa Timur tergeser. ‘’Prinsipnya, jangan sampai petani merugi. Harus ada alasan rasional dan ilmiah tentang rencana itu,’’ ungkapnya. ‘’Harus dilakukan sosialisasi juga kalau pembatasan itu benar-benar dilakukan,’’ imbuh Wahyu.

Diberitakan sebelumnya, pembatasan penanaman padi direncanakan dilakukan saat kemarau yang jatuh pada periode tanam Juli-Oktober. Tiga tanaman seperti cabai, bawang merah, dan tembakau disebut-sebut sebagai pilihan tanaman yang tidak disukai hama tikus.

Model tanam dua kali padi dan sekali palawija juga dianggap baik untuk tingkat kesuburan tanah. Sementara, soal produktivitas padi, dispertan mengklaim tidak ada pengaruh signifikan. Dengan angka produktivitas 64 ton per hektare, dari 200 hektare lahan akan kehilangan padi sebanyak 12.800 ton. (den/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close