Bupati Menulis

Bangunan Vertikal

(Konsep di Masa Depan)

PADA suatu waktu, saya bertemu mantan senior saya waktu kuliah di Fisipol UGM yang kebetulan menjadi guru besar ilmu politik Unair. Sekaligus dosen pembimbing waktu saya mengambil pascasarjana ilmu politik di Unair tahun 1994. Pertemuan itu justru sering terjadi di bandara. Karena waktu itu sama-sama bekerja di Jakarta dan mau pulang ke Surabaya. Pada kesempatan pertemuan tersebut kemudian bisa saling menyapa dan mengabarkan kondisi masing-masing.

Salah satu pertanyaan saya, bagiamana kabar putra-putri beliau? Ternyata putra-putri beliau semua sekolah dan kemudian bermukim di luar negeri. Sehingga beliau hanya tinggal berdua dengan ibu (istri). Yang kemudian membuat saya terkejut, saat ini beliau berdua memilih tinggal di apartemen dibandingkan tinggal di rumah sendiri. Alasannya, tinggal di apartemen simpel. Tidak perlu pembantu untuk bersih-bersih rumah. Bersih dan terjaga lingkungannya. Aman dan tidak waswas kalau pergi. Juga alasan praktis lainnya.

Kemudian saya jadi ingat ketika awal-awal saya masih kerja di Surabaya. Kebetulan saya  memiliki atasan (kepala bagian) yang sangat baik dan bijak. Suatu ketika berbicara tentang kondisi rumah. Dan kebetulan saat itu saya belum punya rumah. Beliau berpesan begini, ”Dik Prawoto, besok kalau punya rumah pesan saya jangan besar-besar. Yang cukup saja. Karena apa? Besok kalau sudah pensiun dan anak-anak sudah mandiri biasanya anak-anak tidak mau tinggal dengan orang tua. Rumah nantinya akan terasa sepi dan sangat repot untuk membersihkannya.”

Alasan beliau mengatakan demikian itu ada dasarnya. Beliau sudah telanjur membuat rumah yang cukup besar di Surabaya. Dan saat itu hanya tinggal berdua dengan ibu. Menurut beliau sangat repot sekali. Apalagi kalau pas hari raya, pembantu rumah tangga pulang agak lama, betul-betul terasa repot sekali. Beliau kemudian membayangkan kalau besok sudah sepuh, kemudian anak-anak semua jauh. Itu yang kemudian menjadi pemikirannya. Dua peristiwa itu kebetulan terjadi di Indonesia.

Suatu saat saya pergi luar negeri. Mengunjungi negara bekas blok Uni Soviet yang saat ini sudah merdeka. Juga negara maju yang kebetulan menganut paham liberal. Namun, negaranya kecil dan wilayahnya tidak luas. Dua negara yang berbeda paham itu sangat menarik untuk disandingkan dalam membuat kebijakan dalam membangun rumah hunian.

Kalau di negara pecahan Uni Soviet, kalau kita berkunjung di kota atau malahan ibu kota, rumah-rumah rakyat justru berada di kota. Malahan kadang ada yang di tengah kota. Tidak mengherankan bila yang namanya rumah susun bagi rakyat ada di tengah kota. Sehingga kelas pekerja yang notabene penghasilan lebih rendah mendapat fasilitas dekat dengan tranportasi publik untuk menuju ke tempat kerja. Kalau ada rumah yang memiliki halaman dan berdiri sendiri bisa dipastikan, rumah orang kaya atau seorang pejabat.

Demikian juga kita saya mengunjungi negara kecil yang menganut paham liberal, rumah-rumah di pedesaan didorong untuk bertingkat. Dan malahan dibuat seperti apartemen namun dalam skala yang lebih kecil. Berlantai empat, dan satu blok dihuni oleh sekitar dua puluh keluarga. Sehingga tidak memakan tanah pertanian. Keberlanjutan akan tanah pertanian produktif bisa dijaga kelangsungannya.

Tentu kedua negara yang berbeda paham tersebut sudah mempunyai budaya tinggal bersama. Boleh jadi, yang bekas pecahan Uni Soviet tersebut bisa berjalan karena kebijakan negara. Sehingga rakyatnya mau tidak mau harus mengikutinya. Dan akhirnya diterima hingga saat ini.

Namun bagi negara yang berpaham liberal tersebut, boleh jadi kebijakan tersebut didukung rakyatnya. Salah satu alasannya karena negaranya kecil tentu harus ikut memikirkan kelangsungan hidup generasi berikutnya. Kalau tidak disadari sejak dini dalam penggunaan lahan tentu yang akan menerima akibatnya adalah anak cucunya nanti. Tanah akan habis. Dan lahan pertanian akan semakin menyempit. Dampak ikutan lainnya akan banyak. Ruang terbuka hijau akan berkurang. Resapan air juga akan berkurang dsb.

Bagi pemerintah sendiri akan lebih mudah dalam memberikan pelayannya. Seperti pemberian pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan tinggal tempatkan di lingkungan perumahan tersebut sehingga pelayanan kesehatan menjadi sangat efisien. Bisa jadi dokter bisa datang ke rumah karena jaraknya yang dekat.

Demikian juga pelayanan lainnya. Ambil contoh, untuk pelayanan listrik. Cukup menarik kabel listrik tidak terlalu panjang sudah melayani berpuluh-puluh rumah tangga. Demikian juga pelayanan komunikasi seperti jaringan fiber optic. Tinggal tarik dan tanam kabel fiber optic bisa melayani berpuluh-puluh bahkan mungkin beratus-ratus rumah tangga.

Berbeda yang terjadi di negara kita. Kebiasaan rumah pribadi kita adalah harus menginjak tanah. Rumah dengan pekarangan luas. Antar rumah jaraknya jauh. Malahan dibeberapa tempat jarak antar rumah sangat jauh. Bisa ratusan meter. Belum yang di luar Jawa. Di beberapa tempat di Kabupaten Magetan seperti Kecamatan Poncol, Parang, Plaosan, Panekan, Lembeyan ada beberapa rumah jaraknya berjauhan.

Tidak mengherankan bila beban pemerintah dalam rangka memberikan pelayanan dasar kepada masyarakat menjadi sangat mahal. Seperti dalam pelayanan kesehatan, bila rumah bisa menyatu, akan mudah dan lebih murah dalam pelayanan. Demikian juga sekolah sejak awal bisa dikembangkan dengan sistem zonasi sebagaimana kemudian dicoba ditiru di Indonesia saat ini. Walaupun kemudian saat ini ada perbaikan khususnya prosentasi kuota penerimaan siswa.

Jangan heran kemudian kalau investasi untuk pelayanan listrik, telekomunikasi menjadi mahal. Bayangkan mau melayani beberapa rumah di rumah yang berjauhan tadi harus narik kabel, mendirikan tiang dsb. Tentu menjadi sangat mahal. Dan bebannya akan diberikan kepada konsumen. Tentu salah satunya memberikan dampak kepada tarip listrik, telepon, PDAM dan sebagainya.

Di kota-kota besar sangat mungkin budaya hidup di rumah bersama seperti rumah susun. Setiap bangunan rumah susun dibangun, masyarakat yang membeli atau untuk investasi seperti membeli kacang goreng saja. Apalagi kalau tempatnya startegis dengan akses transportasi atau dekat dengan pusat aktivitas baik ekonomi maupun pemerintahan.

Untuk di tingkat kabupaten seperti Kabupaten Magetan tentu memerlukan waktu untuk peningkatan pemahamannya. Namun harus dimulai. Oleh sebab itu ketika ada program untuk rumah susun sewa saya mencoba untuk mengingatkan kepada Dinas Perkim untuk mencoba mengkaji, utamanya tanah-tanah Pemda yang didirikan rumah-rumah oleh masyarakat untuk tempat tinggal. Khususnya di wilayah perkotaan. Karena dekat dengan aktivitas ekonomi dan pemerintahan. Namun biasanya kondisinya serba kurang. Baik dari sisi lingkungan, estetika dsb.

Program ini mestinya juga perlu ditawarkan kepada daerah yang rawan bencana, utamanya tanah longsor seperti kecamatan yang saya sebutkan di atas. Kalau musim hujan seperti sekarang ini kita semua berdoa mudah-mudahan tidak terjadi dan jangan sampai terjadi longsor. Namun kita tentu tidak hanya berhenti pada usaha melalui doa. Tindakan nyata untuk megenalkan rumah tinggal bersama seperti rumah susun perlu ditawarkan utamanya kepada pasangan muda atau milenial.

Tentu mekanisme partisipasi masyarakat harus terus dikedepankan. Masyarakat diajak bicara. Bagaimana kalau dibangun rumah susun dengan sistem sewa. Demikian juga bentuk dan lingkungannya. Semua atau stakeholder diajak bicara. Suka tidak suka kehidupan ke depan akan sangat sarat dengan perhitungan untuk keberlanjutan menjaga lingkungan hidup. Salah satunya menjaga ruang publik dan memperbanyak ruang terbuka hijau. Apalagi baru saja terjadi banjir di ibu kota dan tempat lainnya. Salah satu sebab, jauh berkurangnya tangkapan air baik hutan lindung, ruang terbuka hijau dsb.

Demikian juga kantor pemerintah, sekolah, layanan publik seperti rumah sakit, puskesmas, pasar harusnya tetap diberikan tempat untuk ruang terbuka hijau. Seperti rumah sakit sudah semestinya dikembangkan ke arah verikal buka horizontal. Sehingga akan diperbanyak ruang terbuka hijaunya. Sayangnya kantor pemerintah Kabupaten Magetan sudah sejak awal sudah dibangun dengan konsep horizontal. Namun harus mulai dipikirkan menerapkan konsep vertical.

Perntanyaan kemudian, bagaimana dengan kantor yang sudah terlanjur dibangun konsep horizontal yang tersebar dipelbagai tempat. Tentu salah satu jawabannya, ke depan bisa saja bekas kantor pemerintah tersebut kelak dibangun rumah susun vertikal. Dan saya yakin akan menjadi hunian masa depan. Khususnya bagi anak milenial. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close