Madiun

Bangunan Rumah Sakit Pahlawan Nasional Ikut Dijual

MADIUN – Eman jika rumah keprabon pahlawan nasional Mayor Jenderal (Purn) H.R Muhammad Mangoendiprojo sampai dijual. Nilai historis aset di Jalan Kapten Tendean, Demangan tentu tinggi. Beda tentunya dengan bangunan rumah sakit setengah jadi yang juga ingin dijual ahli waris. Bisa dikelola investor.

Namun, keberadaan dari kompleks bangunan itu ternyata belum banyak yang tahu. Pemkot pun belum tahu persis. Khususnya rumah kepabron dari H.R Muhammad Mangoendiprojo yang ditetapkan Presiden Jokowi sebagai pahlawan nasional pada 7 November 2014 itu. ’’Belum tahu soal itu (rumah pahlawan nasional),’’ kata Sumiati Kepala Seksi Pembinaan Sejarah, Nilai-Nilai Tradisional dan Cagar Budaya Disparbudpora Rabu (26/6).

Berpedoman Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, kata dia, sejumlah persyaratan disebut sebagai bagunan cagar budaya. Di antaranya, usia bangunan 50 tahun atau lebih. Kemudian, bangunan tersebut memiliki nilai sejarah. Didukung dengan arsitektur atau gaya yang menjadi ciri khas di masa tersebut. Dan yang tidak kalah penting berpengaruh terhadap penguatan sejarah Bangsa Indonesia. ’’Jika memunuhi unsur dilakukan pendaftaran untuk kemudian dilakukan pengkajian, penetapan sampai pencatatan,’’ imbuhnya.

Proses ditetapkan sebagai cagar budaya juga memakan waktu yang cukup lama. Seperti halnya 21 bangunan cagar budaya  Kota Madiun yang sampai setahun ini belum disahkan. Kendati sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). ’’Nanti kami akan mencoba menelusuri  ke sana (rumah nasional),’’ paparnya.

Perlu diketahui, rumah-tanah seluas 1,2 hektare milik salah satu pejuang kemerdekaan dalam Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945 itu sudah lama dijual ahli waris. Namun, belum ada investor yang membeli. Wasiat dari mendiang Qomaryatun, istri dari sang pahlawan itu sebelum meninggal berharap tanah tersebut dijadikan sebagai rumah sakit. Sesuai keterangan dari  Cahyono Indro Kusumo cucu dari mendiang H.R Muhammad Mangoendiprojo yang mendapatkan amanah mengurus rumah tersebut.

Cahyono Indrakusuma cucu sang pahlawan saat ditemui Radar Madiun sempat mengajak untuk menjelajahi bangunan rumah sakit. Dia mengajak masuk dari arah samping dekat dengan musala. Terlihat jelas, desain lantai satu tersedia ruang resepsionis. Kendati, berlantai III dan sudah beratap genting bangunan ini didesain untuk lima lantai. ’’Kamarnya ada 103, yang belakang sana kamar jenazah. Ini disediakan untuk lift dekat dengan tangga,’’ ujar pria yang berdomisili di Bandung ini.

RS itu dibangun oleh ayahnya Letjen Purn Himawan Soetanto. Putra sulung pahlawan nasional pada tahun 2002.  Pembangunan berhenti total tahun 2006 karena Himawan Soetanto sakit. ’’Selama proses pembangunan ayah bolak-balik Jakarta Madiun mengawasi proyek pembangunan rumah sakit ini. Dia menabung untuk bangun rumah sakit secara bertahap, nggak mau pinjam bank,’’ paparnya.

Di lain pihak, Andrik Suprianto salah satu member Historia Van Madioen (HVM) mengaku baru mengetahui kompleks aset milik pahlawan nasional itu. Termasuk adanya bakal bangunan rumah sakit. Hanya jika ingin dijadikan sebagai cagar budaya, memang rumah tersebut masuk kriteria berusia lebih dari 50 tahun. ’’Tapi perlu ditelusuri lagi apakah rumah itu  menguatkan sejarah Bangsa Indonesia atau tidak, karakter dan lainnya,’’’ paparnya.

Sementara itu, salah seorang warga setempat yang enggan namanya dikorankan mengaku sudah lama mengetahui kerangka gedung itu sebagai rumah sakit. Hanya bangunan itu sudah menahun dibiarkan kosong. Sempat beberapa kali berjumpa dengan calon pembeli yang berminat meminang tanah dan bangunan itu. ’’Ada yang foto saya tanya mau beli, tapi sampai sekarang nggak tahu rumah itu sudah laku atau belum,’’ pungkasnya. (dil/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button