features

Bambang Kukuh Berkreasi dengan Lukisan Ampas Kopi

Nyaris tanpa Modal, Laku hingga Rp 150 Ribu

Bagi kebanyakan orang, ampas kopi merupakan barang yang pantas dibuang. Namun, tidak bagi Bambang Kukuh. Pria itu memanfaatkannya sebagai ’’cat’’ untuk melukis. Bagaimana prosesnya?

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

SIANG itu Bambang Kukuh mendadak dapat inspirasi. Bergegas dia pergi ke dapur kafe miliknya sembari membawa dua kuas serta kertas ukuran sekitar 20×30 sentimeter. Tak ketinggalan ampas kopi alias cethe turut dibawanya serta.

Sejenak dia pandangi kertas putih di meja. Setelah mengambil sebiji kerupuk, Kukuh mulai melukis. Sebuah kuas kecil dicelupkan ke ampas kopi, lalu digoreskan ke kertas hingga akhirnya membentuk gambar sesuai imajinasinya.

Puluhan karya lukis dari ampas kopi sudah dihasilkan Kukuh di ruang dapur berukuran 3×7 meter itu. Tepatnya sejak dua bulan lalu. ‘’Sebelumya biasa melukis pakai pensil dan akrilik,’’ ujarnya.

Aktivitas Kukuh melukis menggunakan media cethe bermula saat menunggu pengunjung di kafe. Iseng, ampas kopi di gelasnya digores-goreskan hingga menghasilkan motif yang unik. ‘’Lukisan pertama kapal,’’ kenangnya.

Sejak itu, hari-harinya kerap dihabiskan dengan cethe. Setiap usai menyantap kopi, ampasnya dimanfaatkan untuk melukis. Pun, seiring waktu kemampuannya semakin meningkat. ‘’Satu lukisan bisa selesai dalam satu jam. Tapi, kalau objeknya rumit dan detail, dua jam baru selesai,’’ terang pria 52 tahun itu.

Warga Perumahan Premier Residence ini memanfaatkan ampas kopi di dasar cangkir atau gelas untuk membuat warna gelap. Sedangkan kelir cerah menggunakan cethe paling atas dan sesekali air kopinya. ‘’Lebih capek sih, tapi mengasyikkan. Enaknya lagi, nyaris tanpa modal karena memanfaatkan barang limbah,’’ tuturnya.

Selama ini Kukuh menggunakan cethe tanpa campuran apa pun untuk melukis. Pun, lukisan bisa tahan bertahun-tahun, dengan catatan dipigura dan terhindar air. ‘’Selain di kertas, ampas kopi juga bisa dilukis di kanvas,’’ ungkap pria 52 tahun itu.

Hingga saat ini, sudah puluhan lukisan cethe dihasilkan Kukuh. Objeknya beragam, mulai satwa, tokoh wayang, hingga Balai Kota Madiun. Pun, peminatnya tidak hanya warga lokal Madiun. Melainkan juga pencinta lukisan asal luar daerah seperti Jakarta dan Tangerang. ‘’Daya tariknya ya pada keunikannya,’’ ujar Kukuh.

Kukuh mematok harga bervariasi untuk lukisan cethe karyanya. Mulai Rp 125 ribu hingga Rp 150 ribu, tergantung tingkat kesulitan dan media yang digunakan. ‘’Sekarang sedang coba-coba melukis pakai pasta gigi dan abu rokok,’’ sebutnya. * (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button