MadiunPeristiwa

Balita Meninggal karena Salah Obat?

Kulit Berbintik, Melepuh, Mengelupas saat Dipegang

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Pagi masih buta kala Tarmiati, 49, membawa Mohamad Noval Mohtarom ke klinik Pramita Wahyu Husada, Dimong, Kecamatan/Kabupaten Madiun. Sekitar pukul 05.00, Minggu (1/12). Bocah empat tahun itu didiagnosis demam, batuk, dan pilek. Perawat tempat pelayanan kesehatan itu memberi enam jenis obat.

Bukan kesembuhan yang didapat setelah warga Desa Nglambangan, Wungu, itu meminumnya. Sejumlah bagian tubuhnya muncul bintik merah. Pun disusul kulitnya melepuh. Rabu (4/12) sekitar pukul 04.00, atau empat hari kemudian, Noval meninggal dunia.

Dia mengembuskan napas terakhir di RS Santa Clara, Kota Madiun. Setelah sempat dirawat dua hari sejak Senin (2/12). Pihak keluarga menuding ada kesalahan obat yang dikonsumsi. Peristiwa tersebut dilaporkan ke Satreskrim Polres Madiun. ‘’Keluarga ingin pertanggungjawaban,’’ kata Lamidi, paman Noval, ditemui di rumah duka Rabu (4/12).

Saimun, kakek Noval, tidak tahu pasti seperti apa kondisi tubuh cucunya yang melepuh itu. Berdasar cerita anaknya Tarmiati, berada di bagian tubuh atas. Mulai perut hingga wajah. Bedanya, di punggung melepuh, sedangkan bagian dada seperti gosong. ‘’Kalau dipegang kulitnya mengelupas,’’ ungkapnya.

Sabtu malam (30/11) Noval demam setelah siangnya hujan-hujanan. Esok paginya, keluarga membawa berobat ke klinik. Keanehan pada tubuh mulai muncul sekitar pukul 10.00. Dua belas jam kemudian keluarga membawa kembali Noval ke klinik.

Meski obat sudah diganti, namun kondisinya tidak juga membaik. Tarmiati membawa buah hatinya ke klinik sekitar pukul 12.00, Senin (2/12). ‘’Minta surat rujukan berobat ke rumah sakit,’’ ujar kerabat Tarmiati lainnya yang menolak namanya dikorankan.

Dia mengungkapkan, rencana awal Noval dibawa ke RSUD dr Soedono Madiun. Sambil menunggu proses administrasinya kelar, anak semata wayang pasangan Sadikan-Tarmiati itu menjalani perawatan di klinik. Namun, hingga magrib surat rujukan tidak segera keluar. Noval pun dibawa ke RS Santa Clara dan ditangani dokter kulit. ‘’Menurut dokter, obat yang dikasihkan (dari klinik) tergolong obat keras,’’ sebutnya.

Kapolsek Wungu AKP Jumianto Nugroho belum bisa menyimpulkan penyebab kematian Noval. Sebab, penyelidikan dilakukan satreskrim. Selain minta keterangan pihak yang terlibat, juga visum jasad korban. ‘’Karena tempat berobat masuk wilayah hukum Kecamatan Madiun, dan meninggalnya di Kota Madiun,’’ ujarnya.

Tim Inafis Polres Madiun tiba di rumah duka pukul 10.40. Jenazah Noval yang awalnya berada di ruang tengah dipindah ke kamar. Pemeriksaan dilakukan tertutup. Visum selesai sekitar setengah jam kemudian. Selanjutnya, para pelayat melantunkan doa. Jenazah dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) desa setempat sekitar pukul 12.00.

Karena lokasi TPU cukup jauh, jenazah tidak dibawa dengan keranda, melainkan mobil pikap. Di bak pikap, sebagian pelayat membopong jenazah yang ditutupi kain jarit itu. Sedangkan lainnya memayungi. Jerit dan tangis Tarmiati pecah kala jenazah anaknya hendak dinaikkan ke pikap. Sejumlah kerabat dan tetangga berusaha menenangkan dengan mengucap istigfar. (cor/c1/sat)

Sering Bantu Orang Tua Mencetak Bata

DUKACITA atas kepergian Mohamad Noval Mohtarom juga dirasakan Juwita. Kepala Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Restu Ibu, Desa Nglambangan, Wungu, tempat bocah empat tahun itu bermain dan belajar. ‘’Saya kaget pagi-pagi dikasih tahu wali murid kalau Noval meninggal,’’ kata Ita, sapaan akrab Juwita, Rabu (4/12).

Ita mendatangi rumah duka anak didiknya tahun pelajaran 2019/2020 itu. Dia menunggu sampai muridnya itu dimakamkan sekitar pukul 12.00. Selama ini, Ita cukup akrab dengan keluarga Noval. Sebab, sering mengunjungi rumah anak semata wayang pasangan Sadikan-Tarmiati itu. ‘’Saya jemput Noval, berangkat sekolah bareng-bareng,’’ kenangnya.

Dia menyebut, itu bukan keinginannya, melainkan permintaan Noval. Sebagai dalih mau masuk sekolah. Sebab, Noval sering mogok. Alasannya, membantu orang tua mencetak bata atau membajak sawah. Itu momen indahnya bersama Noval. ‘’Dia tidak berbohong. Saya sering lihat sama bapaknya mengaduk tanah,’’ ungkapnya.

Di mata Ita, anak asuhnya itu sosok yang ceria. Aktif di kelas dan baik dengan teman-temannya. Meski terbilang sering mogok sekolah dibanding teman lainnya. Itu wajar karena masih anak-anak. ‘’Tidak masuk sejak empat bulan lalu. Ya sejak itu saya terakhir kali bertemu,’’ ucapnya dengan mata berkaca-kaca. (cor/c1/sat)

 

Koordinasi Perawat-Dokter Hanya lewat WhatsApp

PIHAK Klinik Pramita Wahyu Husada membantah obat-obatan untuk Mohamad Noval Mohtarom tidak sesuai kondisi penyakit yang diderita. Pun penanganan sesuai standard operating procedure (SOP) dan jenis obat yang diberikan mengacu hasil rekam medisnya. ‘’Tidak ada yang salah dengan obatnya,’’ kata Kukuh Windyan Cahya, petugas yang merawat Noval, pada hari pertama berobat Minggu pagi (1/12).

Kukuh mengungkapkan, Noval tiba dalam kondisi demam. Suhu tubuhnya 37,5 derajat Celsius dari normalnya 36 derajat Celsius. Setelah diperiksa menyeluruh, bocah itu didiagnosis menderita sakit panas, batuk, dan pilek. Saat itu dokter belum berada di tempat. Koordinasi dilakukan lewat pesan WhatsApp. ‘’Tapi tidak ada masalah karena obat itu berdasarkan rekam medis,’’ yakinnya.

Dia memerinci enam jenis obat untuk Noval. Yakni, satu botol Lostacef 250 mililiter sebagai antibiotik. Kemudian tablet Progesic, Cortidex, Omeroxol, dan Bicomplex. Pengonsumsiannya ditumbuk jadi satu jadi puyer. Lalu, Cetirizine untuk mengatasi alergi. Jenis dan dosis tersebut umum diberikan kepada penderita demam. ‘’Sakitnya tergolong tidak berat,’’ sebutnya.

Penggantian obat sempat dilakukan perawat klinik ketika Noval kontrol sekitar pukul 22.00 Minggu (1/12). Itu disesuaikan kondisi kesehatannya. Salah satunya kemunculan bintik-bintik merah seperti campak di beberapa anggota tubuh. Namun, pihak  klinik enggan menyebut jenis obat pengganti tersebut. Dalihnya, petugas jaga malam itu tidak ada di klinik. ‘’Kami perlu menanyakan ke dokter. Saat ini (kemarin, Red) masih di rumah sakit,’’ kilah Sumijati, pemilik klinik Pramita Wahyu Husada.

Sumijati mengungkapkan, Noval tercatat sebagai pasien lama. Sering berobat ke klinik sejak 2016. Keluhannya hampir sama, yakni panas, batuk, pilek, dan pernah diare. Obat-obatan yang diberikan dalam kasus kali ini juga sama dengan sebelumnya. ‘’Jadi, tidak punya alergi dengan obat yang kami berikan,’’ ujarnya seraya menyebut kronologis kejadian telah disampaikan ke dinas kesehatan (dinkes).

Menurut dia, tubuh bagian atas Noval melepuh ketika kontrol Senin siang (2/12). Namun, tidak sampai mengelupas. Paling dominan pada bagian wajah dan tangan. Sedangkan dada dan punggung tidak terlalu banyak. Mendapati kondisi itu, penanganan yang diberikan lewat terapi. Karena tidak ada perubahan, keluarga minta dirujuk ke rumah sakit. ‘’Tapi harus menunggu dan tidak bisa langsung karena prosesnya lewat sistem online,’’ bebernya sambil menyebut Noval dirawat inap dengan diinfus sembari menunggu proses administrasi tuntas.

Klinik berencana merujuk pasien umum itu ke RSUD dr Soedono Madiun. Sebab, fasilitasnya lebih lengkap. Namun, hingga sekitar pukul 18.00, jawaban rumah sakit pelat merah itu tetap masih menunggu. Klinik lantas merekomendasikan ke RS Santa Clara, Madiun. Sebelum akhirnya Noval tutup usia. ‘’Kami sudah berupaya semaksimal mungkin,’’ ungkap Sumijati.

Terpisah, Fransisca Zuther Sustriana, humas RS Santa Clara, belum bisa memberikan keterangan ihwal kasus Noval. Alasannya masih dikoordinasikan oleh jajaran manajemen. Mulai direktur, dokter, hingga perawat. ‘’Untuk menyampaikan rekam medis juga harus ada surat kuasa dari keluarga,’’ katanya. (mg1/cor/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button