Madiun

Bak Sungai Sejuta Sampah

Bupati Bikin Surat Edaran Kerja Bakti Pembersihan

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Bupati Madiun Ahmad Dawami diselimuti kecewa sepulang cek sungai Selasa (20/10). Setelah mata kepalanya mendapati banyak tumpukan sampah di empat titik aliran yang dikunjungi. ‘’Masyarakat kurang disiplin,’’ kata Kaji Mbing, sapaan Ahmad Dawami, di sela penyisiran sungai.

Bupati kali pertama menengok sungai di perbatasan Desa Betek dengan Dempelan, Madiun. Tumpukan sampah plastik nyaris memenuhi dasar sungai yang mengering. Penyisiran dilanjutkan ke sungai di Desa Tempursari, Wungu; serta Kebonagung dan Glonggong, Balerejo.

Tumpukan kantong plastik berisi sampah menyumbat kolong jembatan di tiga sungai tersebut. Pemandangan itu seolah mengubah sungai tidak lagi dialiri air, melainkan oleh sejuta sampah.

Dengan motor trail, Kaji Mbing turun ke bawah. Dilihatnya popok bayi mendominasi. Bupati menduga maraknya pembuangan sampah rumah tangga itu karena mitos pantangan membakar popok bayi. ‘’Mitosnya, kalau popok dibakar, bayi akan suleten (demam, Red),’’ ujarnya.

Bupati menyayangkan banyaknya sampah di sungai. Menurut dia, sampah salah satu biang banjir di sejumlah permukiman. ‘’Sungai itu bukan tempat sampah,’’ tegasnya.

Dalam waktu dekat, bupati akan membuat surat edaran kerja bakti membersihkan saluran air. Dinas pemberdayaan masyarakat desa (DPMD) diminta mengatasi persoalan sampah di sungai. Khusus penanggulangan popok bayi diserahkan ke dinas lingkungan hidup (DLH). ‘’Semoga tidak keduluan hujan,’’ tutur Kaji Mbing. (den/c1/cor)

Delapan Kilometer Sungai Dinormalisasi

NORMALISASI sungai bukan segalanya dalam mencegah banjir. Sekalipun pengerukan sedimentasi telah dilakukan, keberadaan pepohonan di dataran tinggi perlu diperhatikan. ‘’Pohon berfungsi menahan air agar sedimentasi yang terbawa ke dataran rendah tidak banyak,’’ kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madiun Muhamad Zahrowi Selasa (20/10).

Zahrowi menyebut, pepohonan di Kecamatan Kare, Dagangan, Gemarang, dan Saradan harus dijaga. Keempatnya sebagai wilayah penahan air. ‘’Yang terpenting kesadaran bersama masyarakat dan kerja sama antar-OPD (organisasi perangkat daerah, Red),’’ ujarnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Madiun Gunawi mengungkapkan, delapan kilometer sungai telah dinormalisasi. Lokasinya masuk Kecamatan Madiun dan Wonoasri. Antara lain, Desa Tanjungrejo, Sendangrejo, Sumberejo, dan Dimong. ‘’Normalisasi dilakukan Maret dan April lalu. Lokasinya hasil inventarisasi banjir tahun lalu,’’ terangnya.

DPUPR meyakini normalisasi dapat mereduksi ancaman banjir. Kedalaman dan lebar sungai telah bertambah. ‘’Penyempitan itu karena ada sawah di kiri-kanan sungai atau rumpun bambu,’’ tuturnya. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button