News

Bahasa Indonesia Dijadikan Sebagai Bahasa Persatuan Karena

×

Bahasa Indonesia Dijadikan Sebagai Bahasa Persatuan Karena

Share this article

Bahasa Indonesia Dijadikan Sebagai Bahasa Persatuan Karena – Pria necis berkemeja hitam berkumpul di gedung Societeit Habiprojo di persimpangan Jalan Pasar Pon dan Jalan Singosaren, Kota Solo. Mereka antara lain para cendekiawan dan sastrawan dari Jawa dan Sumatera, para guru, perwakilan keraton Yogyakarta dan Solo, serta para jurnalis yang tergabung dalam Perdi (Persatuan Wartawan Indonesia).

Meski hari sudah larut malam, namun para peserta sudah tak sabar menunggu pembukaan acara. Kebetulan pada hari Sabtu tanggal 25 Juni 1938, tepatnya 81 tahun yang lalu pada hari ini, diadakan Kongres Bahasa Indonesia (KBI) yang pertama. Meresmikan acara tersebut, Porbatjarka naik panggung menyambut lebih dari 500 tamu.

Bahasa Indonesia Dijadikan Sebagai Bahasa Persatuan Karena

Usai pidato, jurnalis Soera OemoM Surabaya Soedarjo Jokrosisoro memberikan pidato tergesa-gesa. Menurut biografi Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pondok Pesantren (2013:161), tuturan Tjokrosisoro merupakan ciri gaya bicara penuturnya, menarik dan jelas.

Tonggak Persatuan Indonesia Yang Bhinneka Tunggal Ika

Seruan pidato Soydarjo rupanya berhasil membuat seluruh Kongres tak sadarkan diri. Saifuddin juga menjuluki Soydarjo sebagai “Bintang Kongres”. Tidak heran Soedarjo menjadi bintang – Kongres dimulai dengan idenya.

Menurut Harimurthy Kridalaksa masa lalu garda depan bahasa Indonesia dalam Kongres Bahasa: Sebuah Antologi (1991: 235-236), KBI pertama berkaitan dengan spontanitas. Inisiatif datang dari masyarakat. Demikian pula, sebagian besar peserta bukanlah ahli bahasa profesional, melainkan penulis dan jurnalis yang tertarik dengan Indonesia.

Sebagai seorang jurnalis unik yang suka memperkenalkan istilah-istilah baru dalam bahasa Indonesia, Soedarjo Tjokrosisworo kerap khawatir dalam menggunakan kaidah bahasa tersebut dengan baik dan benar. Alasan mantan jurnalis Dermo Kondo memulai Kongres Bahasa dipengaruhi oleh rasa ketidakpuasan terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang melanda surat kabar sejak Sumpah Pemuda pada tahun 1928.

Masih mengutip catatan olahraga, keluhan Soedarjo sampai ke telinga rekan jurnalis Sumanang Surjovinoto. Dalam perbincangan keduanya, Soedarjo secara spontan bertanya kepada Sumanang apakah ada kemungkinan diadakan pertemuan yang fokus pada pembuatan pedoman bagi seluruh penutur bahasa Indonesia. Soedarjo yakin mampu menggerakkan pengusaha dan individu asal Solo untuk berpartisipasi dalam inisiatif ini.

Bahasa Asing Dalam Debat Capres

Sikap optimis Sumanang melatarbelakangi pertanyaan Soydarjo. Tak berlama-lama, jurnalis yang menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) setelah kemerdekaan itu berangkat ke Jakarta untuk bertemu dengan tokoh-tokoh dan mendidik orang-orang. Upaya Sumanang berhasil menarik partisipasi ulama terkemuka seperti Hossein Djazdiningrat dan Porbatjarka.

Berawal dari sebuah ide saja, ia membentuk sebuah komite di Jakarta yang beranggotakan para pemikir, penulis, jurnalis, dan tokoh pergerakan nasional. Sedangkan Hoesin Djajdiningrat terpilih menjadi Presiden Kehormatan. Sedangkan Porbatjarka terpilih menjadi Presiden dengan Amir Sajarifuddin sebagai Wakil Presiden. Turut pula bersama Maria Ulfah Santoso, Mohammad Yameen dan Mohammad Tabarani untuk melengkapi jajaran panitia yang bertanggung jawab atas pembentukan KBI pertama.

Baca Juga  Sebutkan Lima Macam

Hasil yang Memuaskan Para jurnalis dan cendekiawan pada tahun 1930-an sependapat dengan Soedarjo bahwa bahasa Indonesia belum mendapat bimbingan yang baik. Akibat keterbatasan ini, penggunaan bahasa Indonesia tidak pernah berkembang.

Dengan diselenggarakannya wadah pengendalian penggunaan bahasa berdasarkan kesepakatan bersama, diharapkan bahasa Indonesia dapat digunakan sebagai bahasa resmi pada setiap rapat Volksraad (Dewan Rakyat) dan menjadi mata pelajaran wajib di sekolah setempat.

Sekretariat Kabinet Republik Indonesia

Menurut Kridalakshna, KBI pertama berhasil mencapai hasil yang diinginkan. Setelah Kongres, M. Kelompok Nasional di Volksrad yang dipimpin oleh Husni Thamarin memutuskan untuk menggunakan bahasa Indonesia dalam setiap pertemuan.

Selain pengaruh politik, Kongres juga diharapkan mempunyai pengaruh progresif di bidang pendidikan. Berdasarkan keputusan kongres yang dirangkum Badan Bahasa (PDF), salah satu dari sembilan poin keputusan kongres lebih fokus pada rencana pembentukan perguruan tinggi Institut Bahasa dan Sastra Indonesia.

Hasilnya, kongres yang berlangsung selama tiga hari pada tanggal 25-27 Juni tersebut menunjukkan betapa kuatnya upaya yang dilakukan untuk melakukan standarisasi bahasa Indonesia. Selain pembentukan lembaga, keputusan Kongres juga mencakup perbaikan bahasa surat kabar, struktur tata bahasa baru, dan perubahan ejaan bahasa Melayu Riau.

Selain bahasa Melayu yang merupakan kesatuan bahasa Yamin, KBI Pertama juga banyak mengikutsertakan penyair-penyair asal Sumatera seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Sutan Pamantjak dan Sanusi Payne. Keterlibatan para penyair di Balai Pustak Dal yang didominasi masyarakat Sumatera ini tentu bukan suatu kebetulan.

Persatuan Dan Kesatuan: Senjata Ampuh Pemersatu Bangsa

Menurut Fahrurozi dan Andri Wiksono dalam Sekilas Bahasa Indonesia: Catatan Kebijakan Bahasa, Aturan Ejaan, Pembelajaran Sastra, Penerjemahan dan BIPA (2016:37), perencanaan bahasa di Indonesia diawali dari ejaan bahasa Melayu yang disusun oleh para ahli bahasa. pakar Charles Adriaan van Ofuijsen dan banyak penyair generasi tua di Sumatera.

Pada tahun 1901, ejaan Van Ofuijsen diakui oleh pemerintah kolonial dan secara resmi diakui sebagai ejaan resmi bahasa Melayu. Belanda kemudian menggunakan ortografi van Ofuijsen sebagai dasar pembentukan Komisi Bacaan Rakyat (Komisi Membaca Rakyat) pada tahun 1908, cikal bakal buku Balai.

Menanggapi pemaparan Sutan Pamuntjak tentang “Masalah Ejaan Indonesia”, Kongres memutuskan bahwa sangat penting menggunakan ejaan Van Ofuijsen sekarang. Deputi menganggap ejaannya terlalu mudah. Namun, perubahan ejaan harus segera dipertimbangkan melalui partisipasi serikat guru dan kelompok nasional di Volksraad.

Penelitian Kees Groeneboer yang bertajuk “Politik Bahasa pada Masa Hindia Belanda” menyebutkan bahwa dukungan pemerintah kolonial terhadap bahasa Melayu didasarkan pada asumsi bahwa bahasa Melayu lebih aman dibandingkan bahasa Belanda. Meluasnya penggunaan bahasa Belanda di kalangan pribumi diyakini justru mendorong tumbuhnya nasionalisme karena kaum nasionalis Jawa lulusan Belanda lebih memilih mengekspresikan diri dalam bahasa Belanda.

Baca Juga  Benda Bergerak Menjadi Berhenti Karena Adanya Gaya

Bahasa Daerah Sebagai Pendukung Bahasa Indonesia

Tulisan Groeneboer di jurnal Discourse, Vol. 1, tidak. 1 (1999: 43) menyatakan bahwa di kalangan nasionalis Jawa, hanya Sowerdi Sorjaningrat (Ki Hazar Dewantara) yang ingin mempertahankan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Sekembalinya dari pengasingan di Belanda pada tahun 1919, Sowerdi mulai serius membuka kursus bahasa Melayu.

Menurut Sowerdi, bahasa Melayu lebih sederhana dan demokratis dibandingkan bahasa Jawa. Meskipun pendapat ini menimbulkan ketidakpuasan di kalangan analis nasional Jawa, saya akhirnya resmi diakui sebagai orang Indonesia, baik pada Kongres Pemuda Kedua maupun KBI Pertama.

Yang disebut ‘Bahasa Indonesia’ adalah bahasa Melajoi yang pada dasarnya berasal dari ‘Melajoi Riao’ tetapi telah ditambahkan, dimodifikasi atau diperbaiki untuk mencerminkan perkembangan zaman dan kebutuhan dunia Baharo, sehingga bahasa Ito Lalo sekarang dapat digunakan. digunakan oleh seluruh masyarakat Indonesia,” kata Kee. Hajar Devantara KBI Pertama di Solo, seperti dikutip Cinta Diana Martoulina dalam Bahasa Indonesia Terapan (2018: 10).

Groenbauer mengatakan, bahasa Melayu pada akhirnya diadopsi oleh kaum nasionalis Jawa karena tidak punya pilihan lain. Bahasa Melayu dianggap sebagai satu-satunya bahasa yang digunakan dalam bisnis di Indonesia. Selain itu, sistem bahasa Melayu sangat sederhana dan mudah dipelajari oleh semua suku karena tidak mengenal tingkatan bahasa seperti bahasa Jawa (ngoko, Kromo, inggil). Apa saja Prasarana dan Prasarana Politik 31 Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPKN) di Indonesia secara umum dan menurut para ahli? Contoh dan perbedaan tugas dan hak serta kewajiban menurut undang-undang MPR

Kelahiran Bahasa Indonesia

Arti Bahasa Indonesia Sebagai Identitas dan Bahasa Nasional – Pada tanggal 28 Oktober 1928, bangsa Indonesia melalui pemuda sepakat mendeklarasikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di Indonesia. Dalam prosesnya, diperlukan perjalanan panjang hingga bahasa Indonesia resmi diakui sebagai bahasa nasional Republik Indonesia. Sebagai bahasa yang digunakan di Negara Kesatuan Republik Indonesia, bahasa Indonesia mempunyai dua kedudukan, yaitu bahasa nasional dan bahasa negara.

Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berperan sebagai lambang kebanggaan bangsa, jati diri bangsa, alat komunikasi antar warga negara, daerah, dan budaya. Sedangkan dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa resmi negara, bahasa pendidikan, alat komunikasi tingkat nasional, dan sarana pengembangan kebudayaan.

Sebagai bangsa yang dibangun di atas keberagaman suku dan budaya, memutuskan untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional di Indonesia bukanlah perkara mudah. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar dan beragam, 47 persen penduduk Indonesia pada tahun 1930 berasal dari suku Jawa.

Baca Juga  Hal Yang Paling Penting Dalam Ukhuwah Islamiyah Adalah

Artinya bahasa Jawa merupakan bahasa yang paling banyak digunakan di Indonesia. Di sisi lain, Kepulauan Melayu yang memiliki 1,6% penutur dan dipilih sebagai bahasa pemersatu Indonesia yang kemudian dikenal dengan bahasa Indonesia.

Persatuan Dan Kesatuan Bangsa, Modal Penting Wujudkan Indonesia Damai Dan Anti Radikalisme

Dipilihnya bahasa Melayu sebagai asal usul Indonesia bukan tanpa alasan. Meski jumlah bahasanya lebih sedikit dibandingkan bahasa Jawa, namun bahasa Melayu merupakan lingua franca atau bahasa penghubung bagi mereka yang tidak mempunyai bahasa yang sama di nusantara pada masa bernegara. Apalagi dalam perkembangannya, bahasa Melayu banyak digunakan oleh kaum nasionalis. Artikel-artikel surat kabar pada masa itu yang dibaca oleh para politisi Indonesia juga ditulis dalam bahasa Melayu.

Hal ini mendorong generasi muda untuk menjadikan bahasa Melayu, yang kemudian kita sebut bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional. Namun bahasa Indonesia masih belum resmi hingga diresmikan sebagai bahasa nasional tak lama setelah Indonesia merdeka. Dengan disahkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional di Indonesia, maka dengan sendirinya bahasa Indonesia berperan sebagai lambang dan identitas bangsa Indonesia.

Pada tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda dan pelajar mengumumkan Yuva Pratigya. Ada 3 butir penetapan dalam teks Resolusi Kongres Pemuda Tahun 1928, yaitu:

Berdirinya Komisi Bacaan Rakyat pada tahun 1908 dan kemudian pada tahun 1917 mentransformasikan Balai Buku menjadi lembaga Pemerintah Hindia Belanda yang menerbitkan dan menyediakan bahan bacaan kepada masyarakat dari berbagai lapisan masyarakat di Malaya, sehingga mengarah pada pengembangan dan sosialisasi. dari orang-orang. Seluruh bahasa Melayu. Kepulauan

Kronik Sumpah Pemuda: Ketika Bahasa Melayu Dan Jawa Diusulkan Jadi Bahasa Persatuan

Begitu pula dengan terbitnya majalah Pujanga Baru karya Sutan Takdir Alisjahbana dan kawan-kawan yang berwawasan nasionalisme dan kebudayaan modern, menjadikan bahasa Indonesia sebagai alat perjuangan bangsa untuk mencapai kemajuan dalam kehidupan yang maju dan modern serta turut andil dalam pembangunan dan pertumbuhan. Bahasa Inggris di Indonesia

Setelah Jepang mengalahkan Belanda, masa pendudukan Jepang di Hindia Belanda merupakan masa yang sangat penting bagi perkembangan bahasa Indonesia. Jepang menginginkan segalanya sebagai penguasa baru

Kolesterol ldl sering disebut sebagai kolesterol jahat karena, mengapa limbah dapat dijadikan sebagai kerajinan tangan, makalah bahasa indonesia sebagai bahasa persatuan, mengapa pancasila dijadikan sebagai dasar negara, pulau komodo dijadikan sebagai, pancasila sebagai ideologi persatuan, fungsi bahasa indonesia sebagai bahasa nasional, kedudukan bahasa indonesia sebagai bahasa persatuan, pancasila sebagai asas persatuan dan kesatuan bangsa indonesia, pengertian bahasa indonesia sebagai bahasa persatuan, bahasa indonesia sebagai bahasa persatuan, kedudukan bahasa indonesia sebagai bahasa nasional