News

Bagaimana Cara Menentukan Pelarut Dan Terlarut Pada Campuran

×

Bagaimana Cara Menentukan Pelarut Dan Terlarut Pada Campuran

Share this article

Bagaimana Cara Menentukan Pelarut Dan Terlarut Pada Campuran – Di antara ketiga jenis dispersi tersebut, koloid dan suspensi tergolong dalam campuran heterogen, karena dapat ditemukan partikel terlarut di dalamnya, namun untuk larutan sebenarnya pelarut dan zat terlarut tidak dapat dipisahkan. Dispersi merupakan sistem dispersi yang mudah mendeteksi sedimentasi karena ukuran partikelnya cukup besar sehingga menghasilkan semprotan bahan terlarut. Koloid membutuhkan waktu lebih lama untuk ditahan daripada dilepaskan karena partikelnya lebih kecil. , 2018)

Koloid merupakan suatu sistem yang padat dan tidak dapat bercampur, serta merupakan salah satu jenis dispersi yang sering kita jumpai sehari-hari, seperti gula, agar-agar, susu dan lain sebagainya. Oleh karena itu, pada artikel ini kita membahas sistem koloid, sifat-sifatnya, aplikasi dan stabilitasnya.

Bagaimana Cara Menentukan Pelarut Dan Terlarut Pada Campuran

Ada tiga jenis molekul yang ditemukan di alam berdasarkan strukturnya. Gas, cairan dan padatan. Jika dua molekul yang berbeda bentuk dan ukuran disatukan, maka akan timbul energi antarmuka antara kedua molekul tersebut. Gesekan antara kedua partikel ini menyulitkan molekul untuk bercampur. Khususnya dalam pembentukan molekul kompleks, susunan lapisan dasar atom merupakan faktor utama yang menentukan pengaruh permukaan (Birdi, 2009).

Larutan Dan Campuran

Gaya intramolekul yang bekerja pada kedua kasus ini berbeda. Telah dibuktikan juga bahwa dalam cairan padat, gaya tolak menolak dalam bentuk cair lebih besar. Efek utama gaya tolak menolak adalah memberikan jenis kemampuan lain untuk menggerakkan molekul sebagai bola kompleks. Gaya tarik menarik yang bekerja pada setiap molekul dalam fase curah bersifat isotropik jika dirata-ratakan terhadap waktu. Artinya, tidak ada efek bersih di kedua sisi. Medan yang menyebabkan hal ini disebut tegangan permukaan (ST) atau tegangan antarmuka (IFT) (Birdi, 2009).

Tegangan permukaan adalah perbedaan antara perpindahan energi bebas dan perpindahan permukaan. Peningkatan luas permukaan membutuhkan molekul dari fase curah untuk diangkut ke lapisan permukaan. Hal ini berkaitan dengan adanya dua zat cair atau padat dan cair, dan disebut tegangan antar muka (Birdi, 2010).

Ketegangan pada bagian tengah dan permukaan kulit merupakan masalah dalam penetapan bentuk sediaan. Namun Gibbs berhasil menemukan teori adsorpsi yang berasumsi bahwa permukaan air merupakan satu lapisan. Permukaan air sangat berkurang dengan menambahkan sabun atau deterjen. Konsep ini menghubungkan perubahan tekstur kulit dengan perubahan kandungan sabun. (Birdi, 2010).

Kini berbagai molekul digabungkan dengan bantuan zat yang dapat mengurangi warna kulit. Zat yang paling umum adalah surfaktan yang dapat menurunkan tegangan permukaan dan mobilitas antar muka, sehingga dua molekul berbeda dapat bercampur.

Baca Juga  Ikan Fungsinya

E Book Amazing Eco Enzyme_16x23 (5 Maret 2021)

Sistem koloid dianggap heterogen, dua fase. Bahan-bahan yang terdistribusi sebagai partikel koloid disebut fase dispersi. Kontinum lain tempat partikel koloid terdispersi disebut medium pendispersi. Misalnya, untuk larutan koloid tembaga dalam air, partikel tembaga terdispersi dan larut dalam bentuk dispersi. Fase hamburan mengacu pada fase yang menciptakan partikel. Media pendispersi adalah media yang melaluinya partikel-partikel tersebut terdispersi. Seperti disebutkan di atas, sistem koloid terbuat dari fase terdispersi dan media pendispersi. Karena fase dispersi dapat berupa gas, cair atau padat, ada delapan jenis sistem koloid. Dispersi koloid tidak mungkin terjadi dari satu gas ke gas lainnya karena kedua gas tersebut membentuk campuran molekul yang berbeda (Ogemdi, 2019).

Pada suhu tertentu, mikrosistem heterogen menunjukkan sifat yang mirip dengan koloid karena sebagian besar material berada di daerah koloid. Namun karena sebagian besar partikel berukuran lebih besar dari 100 nm, mereka terlalu besar untuk dihentikan. Mikrosistem heterogen memiliki warna yang berbeda dengan warna sistem koloid terkait. Warnanya menjadi hitam karena cahayanya terhalang oleh benda berwarna hitam tersebut (Young, 2016).

Koloid memiliki ukuran partikel 1-100 nm. Karena satu mikron adalah sepersejuta meter dan satu meter adalah sekitar 40 inci, maka satu mikron adalah empat ratus ribu inci. Jadi, ukuran koloid adalah sekitar empat persejuta inci hingga empat ratus juta inci, atau 10 angstrom pada kisaran yang lebih kecil. Hal ini menempatkan ukuran minimum koloid sekitar 10 kali ukuran atom hidrogen (Young, 2016).

Ketika cahaya terang melewati matahari dan dilihat dari sudut kanan, jalur cahaya tampak seperti cahaya biru atau kerucut. Hal ini disebabkan partikel matahari menyerap energi cahaya dan memancarkannya ke segala arah di atmosfer. “Hiburan cahaya” ini, demikian sebutannya, menerangi jalur cahaya dalam dispersi koloid. Fenomena penghamburan cahaya oleh partikel matahari disebut efek Tyndall. Berkas cahaya atau kerucut yang dihasilkan oleh hamburan cahaya oleh partikel matahari disebut sinar Tyndall atau kerucut Tyndall. Hal ini memungkinkan untuk membedakan antara koloid dan larutan alami (Ogemdi, 2019).

Tugas 13 Otk

Sifat kinetik koloid mengikuti gerak Brown. Gerakan ini pertama kali ditemukan oleh Robert Brown, dimana gerakan ini merupakan gerakan yang bergerak terus menerus dengan gerakan zigzag. Gerakan inilah yang membuat koloid menjadi padat. Pergerakan partikel koloid yang konstan dapat menyeimbangkan gravitasi, sehingga koloid tidak tertinggal (Ogemdi, 2019).

Baca Juga  Tujuan Pivot Adalah

Koloid dapat diadsorpsi, karena ukurannya yang kecil maka luas permukaannya besar sehingga adsorpsinya tinggi. Koloid dapat mengikat ion sehingga menjadi bermuatan listrik dan dapat bergerak dalam medan listrik atau disebut dengan elektroforesis (Sulistyani, 2011).

Kestabilan suatu koloid (baik padat maupun cair) ditentukan oleh energi bebas (energi bebas atau energi bebas antar muka) sistem. Parameter utama yang menarik adalah luas permukaan besar yang tersingkap antara fase terdispersi dan fase permanen. Karena partikel koloid selalu bergerak, energi hamburannya ditentukan oleh gerak Brown. Energi yang diberikan oleh tumbukan dengan molekul di sekitarnya pada suhu T = 300 K adalah 3/2 kBT = 3/2 1,38 10−23 300 = 10−20 J (konstanta Boltzmann kB). Energi dan kekuatan antarmolekul inilah yang menentukan kestabilan koloid (Birdi, 2010).

Koloid terbagi dalam dua kategori, yaitu koloid liofilik (sejenis koloid yang fase terdispersinya dapat menahan atau menarik zat pendispersi) dan liofobik (tidak dapat menahan zat pendispersi). Koloid liofilik stabil secara termodinamika, sedangkan koloid liofobik tidak stabil hingga konsentrasi serendah 0,01 M (Kuchibhatla, 2005).

Laprak Farfis Kelarutan Kelompok 1d

Stabilitas koloid dapat dipengaruhi oleh pemanasan dan pendinginan, yang mengakibatkan gerakan partikel Brown dan pencampuran elektrolit. Pencampuran atau penambahan elektrolit akan menurunkan kestabilan koloid karena koloid umumnya dapat mengadsorpsi ion. Jika ditambahkan elektrolit maka partikel koloid akan menarik lebih banyak ion positif negatif, hal ini akan membentuk cangkang dan jika cangkang terlalu dekat maka cangkang dapat memisahkan koloid sehingga menyebabkan flokulasi. Dengan kata lain, semakin kuat muatan ion maka daya tariknya terhadap partikel koloid semakin kuat, sehingga partikel koloid tersebut menggumpal (koagulasi) dan kestabilannya menurun (Sulistyani, 2011).

Mengikat dengan energi relatif untuk partikel dalam larutan. Interaksi antar partikel dapat dibagi menjadi gaya tarik menarik van der Waals dan gaya lapisan ganda elektrostatis. Jika gaya tolak menolak lebih besar daripada gaya tarik menarik, sistem yang dijelaskan dapat dipertimbangkan. Dengan kata lain, jika gaya tarik menarik lebih kuat (akibat interaksi dipol-dipol permanen), maka gaya dipol yang diinduksi dipol permanen dan gaya transisi dipol-dipol transien akan lebih kuat. alih-alih gaya tolak menolak, partikel-partikel tersebut berinteraksi satu sama lain sebagai hasilnya. Penambahan zat yang berbeda dan faktor lain seperti konsentrasi, kekuatan ion atau pH dapat mengubah jumlah energi dalam interaksi. Dalam kasus makromolekul, komposisi suspensi koloid bergantung pada mekanisme stabilisasi (Matusiak, 2017).

Mekanisme stabilisasi koloid mempunyai banyak metode, yang pertama adalah mekanisme stabilisasi sterik. Metode ikatan dan elektrosterik diterapkan pada kondisi dimana polimer melekat pada permukaan partikel. Dalam kasus stabilisasi sterik, polimer yang teradsorpsi tidak memiliki muatan elektrostatis. Stabilisasi elektrosterik mengacu pada sistem dimana polimer memiliki sifat nonionik (Matusiak, 2017). Penggunaan polimer nonionik juga membantu partikel koloid tidak bermuatan sehingga mencegah flokulasi (Napper, 2006).

Baca Juga  Berikut Yang Bukan Termasuk Perilaku Qadar Adalah

Langkah terakhir, yang disebut stabilisasi deplesi, melibatkan kondisi dimana polimer tidak melekat pada partikel padat. Rantai polimer bebas ini, yang dapat membentuk struktur berbeda, ditempatkan di antara partikel padat untuk mengurangi tarikan antar partikel dan oleh karena itu dapat mempengaruhi stabilitas. Meskipun penambahan makromolekul ke suatu sistem dapat meningkatkan stabilisasi, hal ini juga dapat menyebabkan destabilisasi. Sisi lain dari proses stabilisasi adalah flokulasi, yang terjadi ketika jumlah gaya tarik menarik lebih kuat daripada gaya tolak menolak. Dua jenis utama flokulasi yang diinduksi polimer dapat didefinisikan. Ada yang menjembatani dan berkelompok (Matusiak, 2017).

Aktivitas Zat Terlarut Artikel

Kopling melibatkan penggabungan dua atau lebih partikel koloid melalui rantai polimer yang menempel pada permukaan padat, sehingga menghasilkan agregasi sistem. Flokulasi melibatkan pencampuran partikel padat yang teradsorpsi oleh beberapa makromolekul bebas yang tidak teradsorpsi (Matusiak, 2017).

Koloid merupakan sistem terdispersi yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Koloid mempunyai kriteria tertentu, seperti kemampuan menghamburkan cahaya, kemampuan mengikat ion, dan kemampuan bergerak dalam medan listrik. Koloid merupakan agregat mirip suspensi, namun ukurannya lebih kecil. Ukuran partikel ini mencegah koloid terkompresi (gerakan Brown). Hanya karena koloid tidak stabil bukan berarti koloid tersebut tidak stabil. Koloid membentuk koagulasi ketika dipanaskan, didinginkan dan ketika elektrolit ditambahkan, namun untuk meningkatkan stabilitasnya Anda dapat menambahkan polimer.

Situs http:/// merupakan situs edukasi yang memuat “Gudang Ilmu Farmasi” atau kumpulan dokumen dan data (database) serta informasi tentang kedokteran yang tergolong informasi, tidak berubah seiring berjalannya waktu. Ini adalah kombinasi elemen yang sama dengan komposisi. Ada berbagai zat yang mudah larut dalam air seperti gula pasir, garam meja dan urea. Jika larut dalam

Bagaimana cara menentukan arah kiblat di rumah, bagaimana cara menentukan usia kehamilan, bagaimana cara menentukan kiblat, bagaimana cara menentukan harga jual produk, bagaimana cara menentukan jurusan kuliah, bagaimana cara menentukan masa subur, bagaimana cara menentukan kiblat sholat, bagaimana cara menentukan, bagaimana cara menentukan arah kiblat, bagaimana cara menentukan harga, bagaimana cara menentukan arah kiblat dengan kompas, bagaimana cara menentukan harga jual