Bupati Menulis

Babi Ngepet

ISU babi ngepet tidak hanya terjadi di Kecamatan Sawangan, Depok, Jawa Barat. Sebelumnya pernah terjadi di Sukabumi, Jawa Barat. Menurut warga, babi ngepet adalah makhluk jadi-jadian yang mencuri uang. Ada yang khawatir uangnya dicuri dan bahkan ada yang mengaku sudah kehilangan.

Masyarakat Jawa juga mengenal tuyul. Makhluk halus berwujud seperti bocah kecil berkepala plontos. Sama dengan babi ngepet, tuyul juga mencuri uang. Uang itu lantas diberikan kepada tuannya. Si tuan mendadak kaya raya.

Saya masih ingat kisah startup hebat Arfi dan Arie yang bisa membeli segala sesuatu. Kedua bersaudara itu lulusan SMK yang ahli design engineering internasional dari Salatiga, Jawa Tengah. Menurut warga, Arfi dan Arie kerjaannya hanya di rumah. Konsep bekerja di mata orang awam adalah keluar rumah setiap hari. Tak heran bila kemudian keduanya dianggap memelihara tuyul.

Mengapa masyarakat masih percaya babi ngepet dan tuyul? Saya ingat momen perkuliahan semester pertama. Dalam sebuah kuliah, dosen sosiologi Prof Soedjito Sosrodihardjo, SH, MA, menanyakan pertanyaan serupa kepada mahasiswanya. Mengapa kalangan yang curiga kebanyakan warga desa. Ruang kuliah menjadi hening. Semua berpikir keras untuk mencoba menjawabnya. Namun, tiada satu pun mahasiswa yang bisa menjawab dengan baik. Termasuk saya.

Profesor Soedjito lantas menjawab dan memberi penjelasan. Masyarakat, terutama yang tinggal di pedesaan, sering kali sudah tahu profesi setiap warga di lingkungan tempat tinggalnya. Seorang petani yang punya sawah dua hektare, misalnya. Kalau ditanami padi hasilnya sekitar 12 ton. Warga bisa tahu pendapatan bersihnya setelah dipotong biaya operasional.

Petani itu punya dua anak. Semuanya kuliah fakultas kedokteran di perguruan tinggi swasta. Sehingga harus mencukupi biaya kuliah dan hidup. Di tengah beban tersebut, tiba-tiba si petani bisa membeli mobil dan merenovasi rumah. Situasi tersebut menimbulkan kecurigaan warga di lingkungan tempat tinggalnya. Menurut mereka, hal tersebut tidak mungkin. Berdasar logika itu, si petani dianggap memelihara tuyul.

Kita juga menjumpai banyak kasus orang sakit. Jika pengobatan medis sudah tidak mungkin menyembuhkan, biasanya larinya ke transenden. Minta bantuan di luar kekuatan manusia. Fenomena Ponari dari Jombang bisa menjadi contoh.

Bahkan banyak yang larinya ke dukun untuk minta tolong disembuhkan. Sang dukun kemudian mengeluarkan ajian dan mantranya. Sering kali dalam advisnya, ada yang mengguna-gunai. Lalu, setelah diperiksa, keluar banyak paku berkarat beserta ciri-ciri orang yang mengguna-gunai. Dari situ timbul masalah baru.

Kasus orang yang dituduh dukun santet terjadi di banyak daerah. Seperti Sumenep, Probolinggo, Blitar, dan Merauke. Tuduhan itu karena serangan penyakit atau kematian disebabkan ada seseorang yang menyantet. Kasus semacam itu yang menyebabkan banyak konflik di masyarakat. Aparat lantas dianggap tidak adil. Padahal, hukum mendasarkan pada alat bukti dan memakai dasar ilmu pengetahuan ilmiah.

Atmosfer kepercayaan masyarakat terhadap hal klenik juga ditunjang program di tayangan televisi. Stasiun yang punya program semacam itu ratingnya bagus. Kalau dulu ada Kisah Misteri, Dunia Lain, dan Ekspedisi Alam Gaib. Tayangan yang kurang mendidik tersebut patut disayangkan. Mengapa diperbolehkan?

Kasus-kasus di atas sudah seharusnya tidak kembali terjadi. Ketika upaya transenden, ilmu pengetahuan, dan akal tidak bisa menyelesaikan, semestinya kembali ke ajaran agama. Di agama saya, perintah berpikir sangat jelas dan berulang kali ditegaskan. ”Maka berpikirlah, wahai orang-orang yang berakal budi.” (QS. Al-Hasyr [59]: 2).

Karena tidak menggunakan akal budi untuk berpikir kritis, kita sering terbawa arus di luar nalar. Nyatanya, babi ngepet di Depok hanya rekayasa. Termasuk para korban yang dituduh dukun santet. Mengapa peristiwa semacam ini selalu berulang?

Mochtar Lubis, wartawan yang sangat luar biasa, menyampaikan ciri-ciri manusia Indonesia dalam bukunya Manusia Indonesia. Yakni, hipokritis alias munafik, segan dan enggan bertanggung jawab, feodal, artistik, berwatak lemah, dan percaya pada takhayul. Saya sengaja menempatkan takhayul pada ciri terakhir agar menjadi catatan kita. Pembaca boleh setuju atau tidak dengan pendapat Mochtar Lubis. Dari banyaknya kasus, khusus takhayul, menurut saya, masih banyak benarnya. (*/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button