Opini

Azab Apalagi?

Oleh: H Soenarwoto Prono Leksono (Pimpinan Ladima Tour & Travel)

BENCANA demi bencana terus terjadi. Seakan selalu datang silih berganti. Terjadi hampir setiap tahun, bulan, minggu, dan bahkan setiap hari. Atau datang setiap saat dan waktu yang dikendaki. Bencana demi bencana itu seakan tidak pernah berhenti. Itulah fenomena  alam yang terjadi pada akhir zaman ini.

Sering terjadi bencana banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, gunung meletus, dan bencana tzunami. Ini belum lagi bencana kecelakaan lalu lintas di darat, kapal  tenggelam di laut, dan pesawat terbang jatuh. Bencana demi bencana itu terus terjadi susul menyusul.

Usai bencana banjir, menyusul bencana tanah longsor. Bencana banjir bulan lalu belum surut dan kering, bulan ini bencana banjir sudah datang menerjang lagi. Tidak lama berselang menyusul bencana kekeringan dan kebakaran hutan. Kebakaran hutan bulan lalu belum padam, kini bencana hutan terjadi lagi. Kian berkobar dan menjadi-jadi.

Bencana-bencana itu telah merenggut ribuan jiwa. Menimbulkan kerugian mencapai miliaran hingga triliunan rupiah. Dan luka itu belum sembuh, jerit dan tangis belum sirna dari pendengaran kita, kini datang lagi bencana dan lebih mengerikan. Itulah Covid-19 atau virus corona yang kini mewabah di seantero dunia.

Virus asal Wuhan, China ini datangnya sangat sunyi dan senyap. Tanpa gemuruh dan dentuman keras laiknya gunung meletus atau gelombang tzunami. Tapi, dampaknya sungguh lebih menyentak dan menghentak  dunia. Mencekam dan menakutkan. Apalagi, masa pandemi Covid-19 itu juga tidak jelas kapan berhentinya. Satu bulan lagi, dua bulan, tiga bulan, atau setahun lagi? Tidak pasti.

Covid-19 bentuknya sangat kecil, lembut dan pipih, serta tak bisa dilihat dengan mata. Meski begitu, hembusannya telah membuat ratusan ribu nyawa melayang. Berdasarkan catatan Badan Kesehatan Dunia (WHO) saat ini di dunia terdapat 2,4 juta orang positif terinfeksi Covid-19 dan 165 ribu orang lebih di antaranya telah meninggal dunia.

Sebarannya bukan sebatas daerah, negara, dan benua. Tapi, virus yang “tidak berkaki”  dan “tidak bersayap” itu telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Tidak mengenal batas. Negara miskin, negara berkembang, atau negara adidaya diganyang. Amerika Serikat (AS), misalnya, sekitar 40 ribu warganya meninggal dunia digerumus Covid-19.

Hembusannya tidak tebang pilih. Tidak pandang bulu, pun tidak pilih kasih. Tua maupun muda diserang. Tidak peduli pejabat atau rakyat disikat. Tidak peduli kiai atau santri dijangkiti. Tidak peduli orang kaya atau miskin terpapar. Pandemi Covid-19 tidak mengenal status dan kasta. Para tokoh dunia yang sangat tinggi privasinya dan pejabat negara yang dijaga ketat protokoler keselamatannya oleh aparat pun tak luput dari serangannya.

Ini daftar sejumlah tokoh dunia yang terpapar virus vorona. Di antaranya Cermen Calvo (wakil perdana menteri Spanyol), Michel Barnier (kepala negosiator Uni Eropa Brexit), Jeremy Isscharoff (duta besar Israel untuk Jerman), Abba Kyari (kepala staf kepresidenan Nigeria), Bento Albuqueque (menteri pertambangan dan energi Brasil), Rand Paul (senator Amerika Serikat),  Massoumeh Ebtebar (Wapres Iran), dan Ali Larijani (ketua DPR Iran).

Ada pula Kozo Tashima, komite olimpiade di Jepang. Pangeran Albert II Monaco, Pangeran Carles, pewaris tahta Inggris. Selain itu masih banyak tokoh dunia, menteri, pejabat negara, dan pangeran yang terserang Covid-19. Konon, ada belasan keluarga pangeran Arab Saudi kini juga terpapar Covid-19. Menteri dan pejabat di Indonesia juga ada yang terpapar tapi tak enak penulis menyebutnya. Ringkasnya, virus corona menyerang siapa saja.

Pandemi Covid-19 bukan hanya merenggut ratusan jiwa. Dampaknya juga merusak tatanan sosial, budaya, dan perekonomian dunia. Sangat menyusahkan. Hampir semua aktivitas dan rutinitas dipaksa berhenti. Merontokkan segala sendi kehidupan manusia. Sektor perekonomian paling terpuruk. Mulai perusahan besar, UMKM hingga kaki lima kini kelimpungan. Malah tak sedikit gulung tikar. Bangkrut.

Kebijakan //lockdown//, //stay at home//, dan //physical distancing// untuk memangkas matarantai dan mencegah paparan Covid-19 sangat memukul telak keberadaan dunia usaha. Ribuan karyawan dirumahkan dan terkena PHK. Kini, banyak pengangguran atau orang tanpa penghasilan (OTP). Kondisi ini telah mendunia, pengangguran terjadi di mana-mana.

Inilah yang kini dicemaskan oleh banyak pihak. Akan meledaknya angka pengganguran, daya beli rendah, harga pangan melambung tinggi. Ketersediaan pangan dan harganya tidak terjaga. Bisa-bisa orang miskin dan OTP tak mampu beli. Ancaman “bencana kelaparan” pun akan terjadi. Orang tidak bisa makan itu akan jauh lebih berbahaya dampaknya. Untuk ini, maaf, biarlah para petinggi dan pejabat pemerintah yang memikirkannya; mengambil strategi dan memberi solusi.

Penulis hanya ingin mengajak untuk “introspeksi”. Mawas diri. Merujuk //dawuh// para kiai dan ulama bahwa, bencana demi bencana ini adalah azab. Dikirim oleh Allah untuk “menegur” manusia yang kini suka dengan salah dan bangga dengan dosa-dosa. Sombong, iri, dengki suka membanggakan diri dan tak mau peduli dengan sesama. Zalim dan bakhil, mau enak dan menangnya sendiri. Korup dan tamak lagi loba, tak mengenal halal dan haram semua dimakan asal perut kenyang dan hati senang, kufur serta ingkar kepada Allah.

Untuk itu, dengan momen bulan suci Ramadan 1441 H ini, mari kita (umat muslim) mendekatkan diri kepada Allah untuk memohon ampunan. Meningkatkan amal ibadah kita, iman dan taqwa kita. Ramadan adalah bulan penuh maghfirah atau bulan penuh ampunan. Jika dengan Covid-19 ini kita juga tidak mau mengerti atau sadar diri, lalu mau azab apalagi? (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close