Pacitan

Awas, Antraks Lintas Provinsi!

Pacitan Pernah Endemis Penyakit Zoologi Ini

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Wabah antraks di wilayah Kabupaten Gunung Kidul meresahkan warga Pacitan. Terlebih di wilayah barat yang berbatasan langsung dengan kabupaten di Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) itu. Apalagi Pacitan pernah endemis penyakit zoologi tersebut. ‘’Kami waspadai, terutama di perbatasan,’’ kata Kepala Dinas Pertanian Pacitan Bambang Supriyoko Senin (13/1).

Pihaknya bakal memeriksa kondisi setiap sapi yang masuk ke Pacitan. Tak terkeculi dagingnya. Menurut dia, terbatasnya petugas dan tingginya potensi penyebaran penyakit tersebut rawan merambah ke Pacitan. Sehingga, pihaknya menyurati petugas lapangan termasuk kepala UPT dan penyuluh untuk mewaspadai setiap hewan ternak di masing-masing wilayah kerjanya. ‘’Tidak hanya di Pacitan, menyeluruh menjaga karena daging juga bisa dibawa ke mana-mana,’’ ujarnya.

Beberapa waktu lalu pihaknya mendapat laporan sapi mati mendadak di Desa Mendolo Lor, Punung. Namun, setelah diperiksa petugas, dipastikan hewan tersebut tak mengidap penyakit yang disebabkan spora bakteri Bacillus anthracis itu. Melainkan terserang penyakit lain. Tak mau ambil risiko, lokasi tersebut disemprot disinfektan. ‘’Mudah-mudahan tidak terjadi lagi, cakupan kewaspadaan kami perluas tak hanya di wilayah barat,’’ ungkapnya.

Rencananya, inspeksi kesehatan ternak secara menyeluruh dan terpadu bakal digelar di Pacitan. Antara lain untuk pengentasan antraks dan penyakit hewan lain. Pasalnya, spora penyakit tersebut tergolong awet hingga puluhan tahun di tanah. Terlebih Pacitan sempat jadi endemis beberapa tahun silam. Ditambah koordinasi dengan  Balai Besar Veteriner (BBVetWates untuk penyediaan vaksin bila diperlukan. ‘’Kami harapkan kalau ada gejala sapi mati mendadak segera dilaporkan,’’ tegasnya.

Bambang mengungkapkan, tak jarang peternak enggan melaporkan kematian hewan peliharaan mereka. Mengingat nilai ekonominya. Bahkan nekat menyembelih sapi sakit. Dia mengimbau warga menjaga kebersihan diri dan kandang ternak. Pun rajin membasuh tangan dengan sabun serta membersihkan kandang. ‘’Ini (penyembelihan, Red) yang harus kita edukasi kembali,’’ pungkas Bambang. (gen/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close