Ponorogo

Atap Bocor, Dagangan Membusuk, Pedagang Terpuruk

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Hati para pedagang eks Pasar Legi semakin teriris. Selain menanti janji rebuild yang tak kunjung direalisasi, pasar relokasi yang mereka tempati semakin tak nyaman.

Sebulan ini, hujan deras yang mengguyur menimbulkan genangan di los sisi timur pasar. Tersebab kebocoran tiga titik atap. Kemalangan itu dirasakan pedagang los 3. Kondisi itu membuat dagangan basah cepat membusuk. Pembeli pun ogah-ogahan datang. ‘’Buah-buahan yang busuk sampai 15 kilogram,’’ keluh Ratmi, pedagang buah di pasar relokasi, Jumat (27/12).

Kebocoran atap mulai diketahui sejak awal bulan ini. Ketika hujan mulai sering mengguyur Ponorogo. Selain membuat buah dagangannya menjadi busuk, air hujan juga menggenangi jalan-jalan. Pasar relokasi menjadi semakin sepi. ‘’Becek. Konsumen tidak mau mampir, pilih pulang,’’ ujarnya.

Selama ini pedagang bahu-membahu membersihkan genangan. Termasuk ketika hujan lebat mengguyur kemarin sore. Ada tiga genangan dengan luasan sekitar satu meter. Saat Jawa Pos Radar Ponorogo menyambangi sekitar pukul 16.00, kondisi los 3 sepi dari transaksi jual beli. ‘’Harapannya yang bocor-bocor ini bisa segera diperbaiki supaya tidak mengganggu,’’ ucap Ratmi.

Keluhan juga diutarakan Yusuf Asyari. Pedagang empon-empon dan jamu itu mengeluhkan dagangannya yang dirusak trocohan air hujan. Padahal, sebagian besar dagangannya adalah jamu kering. Ketika basah karena hujan, otomatis dagangannya rusak. ‘’Ini terjadi terus-menerus sebulanan ini,’’ katanya.

Sejatinya pedagang sudah melapor kepada petugas pasar. Pun, sempat dilakukan perbaikan. Namun tetap kembali bocor dan los pun digenangi air hujan. Menurut Yusuf, mengatasi kebocoran pasar seharusnya tidak sekadar menambal yang bocor. ‘’Harus dilihat bahwa saluran air di atap itu kalau hujan deras, pasti penuh airnya. Pasti ada kotoran yang menyumbat,’’ ungkapnya. (naz/c1/fin)

Tinggal Dua Hari Kurang 12 Persen

ALARM pembangunan Pasar Tamansari, Desa/Kecamatan Sambit, menyala kuning. Empat hari jelang tutup tahun, proyek senilai Rp 3,61 miliar yang didanai APBN itu belum rampung. Hingga Jumat (27/12) progres pekerjaannya baru 88 persen. ‘’(Terkendala) faktor cuaca. Tapi tetap dikerjakan maksimal,’’ kata Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Proyek Pembangunan Pasar Sambit Okta Herriyadi kemarin.

Kasi Pemeliharaan dan Kebersihan Pasar Disperdakum Ponorogo itu mengungkapkan, Pasar Tamansari baru dilelang 11 September melalui layanan pengadaan secara elektronik (LPSE). Dikerjakan CV Dwi Cipta Persada. Penandatanganan kontrak dilaksanakan 16 Oktober. Proyek mulai dikerjakan empat hari berselang pada 20 Oktober. Batas waktu pekerjaan paling lambat 30 Desember ini. Waktu tersisa tinggal dua hari. ‘’Progres 88 persen,’’ sebutnya.

Okta mengatakan bahwa rekanan terus mempercepat pekerjaan. Mereka memberlakukan sistem sif dan lembur sampai malam. Diakuinya, faktor cuaca sedikit memperlambat lantaran hujan deras yang acap turun di lokasi proyek. Pekerjaan rekanan, kata Okta, sudah memasuki tahap finishing. ‘’Ada kelebihan volume pekerjaan sekitar Rp 50 juta, salah satunya pada keramik yang realisasinya tidak sesuai dengan rencana awal,’’ bebernya.

Okta masih optimistis proyek bisa rampung tepat waktu. Pun, setelah itu pekerjaan masih dilanjutkan lewat mata anggaran APBD. Itu untuk menangani material yang tidak di-cover oleh APBN. Yakni, pavingisasi di halaman pasar hingga pemasangan instalasi listrik dan air. Nantinya anggaran disiapkan Rp 155 juta di APBD 2020. ‘’Untuk paving, listrik, dan air tidak dianggarkan di APBN,’’ sebut Okta. ‘’Selain pasar ini, ada tiga pasar lain yang tahun ini didanai APBN, meliputi Badegan Rp 1,34 miliar, Somoroto Rp 1,1 miliar, dan Karangan Rp 882 juta. Untuk ketiganya sudah selesai semua,’’ imbuhnya. (naz/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button