Madiun

Aset Mangkrak, Maidi Surati Kaji Mbing

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Aset mangkrak milik Pemkab Madiun mengganggu pemandangan. Delapan aset yang terserak di sejumlah titik itu seperti jerawat yang merusak keelokan wajah Kota Madiun. Kontraproduktif dengan semangat Pemkot Madiun yang sedang gencar-gencarnya menata kota.

Wali Kota Madiun Maidi sudah lama memendam persoalan ini. Maidi segera menyurati Bupati Madiun Ahmad Dawami. Dia belum menyebut garis besar isi surat yang bakal dikirimkan ke Kaji Mbing –sapaan bupati Madiun– dalam waktu dekat ini. ‘’Bupati akan saya kirimi surat,’’ katanya.

Delapan aset pemkab di wilayah pemkot itu tak berfungsi semuanya alias mangkrak. Tujuh aset berupa tanah bangunan eks gedung dinas yang kondisinya miris. Satu aset berupa tanah kosong di Kelurahan Demangan, Taman, Kota Madiun. ‘’Iya, mangkrak semua. Mau roboh itu,’’ ungkapnya.

Rata-rata kondisi aset pemkab rusak berat karena sudah lama dibiarkan mangkrak. Di antaranya gedung eks dinas koperasi dan UMKM di Jalan D.I. Pandjaitan, eks dinas perikanan (rumah dinas) di Jalan Salak III, dan eks KPU Kabupaten Madiun di Jalan Suhud Nasingo. ‘’Merusak pemandangan kota,’’ sebut Maidi.

Paling kentara, bekas gedung dinas koperasi dan UMKM. Bangunan berukuran 446,75 meter persegi tak jauh dari kantor Jawa Pos Radar Madiun itu berada di tepi jalan provinsi. Tak ayal, pemandangan rusak itu disaksikan pengendara yang melintasi jalur itu setiap harinya. ‘’Eman gedungnya nggak dirawat,’’ kata Ahmad Khoeron, warga Gresik yang melintas D.I. Pandjaitan hendak ke Ponorogo.

Selain merusak pemandangan, gedung itu membahayakan. Dindingnya berlumut dan konstruksinya rapuh. Bahkan sebagian sudah ambrol. Nyaris tak beratap lagi. Kondisinya tentu kian memprihatinkan di musim penghujan ini. ‘’Kok sama pemerintah nggak dimanfaatkan?’’ sindir aktivis lingkungan yang kebetulan hendak menjadi pemateri di salah satu perguruan tinggi di Kota Reyog itu.

Selain tak nyaman dipandang, aset rusak itu pun tak pernah dijamah orang. Bahkan, bekas dinas perikanan (rumah dinas) di Jalan Salak III dijuluki rumah hantu oleh warga lingkungan sekitarnya. ‘’Orang sini sudah banyak yang tahu seperti apa rumah itu,’’ kata warga setempat yang enggan namanya disebut.

Nihilnya penerangan saat malam menambah kesan angker. Apalagi areanya cukup luas mencapai 1.000 meter persegi dengan ukuran bangunan 280 meter persegi. Bahkan tak sedikit warga yang mengurungkan niat melintas di depan gedung itu saat malam. Terlepas dari itu, menurut warga gedung yang dibiarkan kosong cukup meresahkan lingkungan. ‘’Jadi resah, karena waswas,’’ ujarnya.

Aset Pemkab Madiun di Jalan A. Yani masuk Kelurahan Pangongangan, Manguharjo, Kota Madiun, tak kalah memprihatinkan. Padahal, di masa lalu merupakan hunian pejabat. Yakni, eks rumah dinas peternakan dan eks rumah dinas kesehatan. Satu aset kosong masih memungkinkan untuk difungsikan kembali yaitu eks kantor PMD, PMI, UTDC PMI, dan RKPD di Jalan Mayjend Sungkono masuk Nambangan, Manguharjo. Adapun aset tanah kosong tak difungsikan berada di Demangan, Taman, seluas 491 meter persegi.

Pemkot sendiri gencar optimalisasi aset. Aset yang kondisinya masih baik bakal direnovasi dan difungsikan kembali. ‘’Ibarat besi tua harus jadi berlian. Rusak diperbaiki, bagus direnovasi, agar optimal,’’ ucap Maidi. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button