Ngawi

Arkeolog Belanda Terjun ke Ngawi Teliti Homo Erectus

NGAWI – Penelitian lanjutan terkait homo erectus di Ngawi berlangsung lagi. Kali ini tim dari Museum Naturalis, Belanda, dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional turun ke DAS Kali Bengawan Solo di Dusun Pilang, Desa Kawu, Kedunggalar. Satu fosil gading dan beberapa fragmen fosil-fosil fauna purba berhasil ditemukan. ’’Penelitian ini mempelajari lagi temuan Eugene Dubois di sini pada 1980 terkait homo erectus,’’ kata Shinatria Adhityatama, arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Rabu (3/10).

Adhit –sapaan akrab Shinatia Adhityatama- mengungkapkan bahwa sepanjang DAS Kali Bengawan Solo sering ditemukan fosil-fosil purba. Baik fosil manusia purba maupun binatangnya. Alasannya, tentu karena ada aliran air sebagai sumber kehidupan. Misteri kapan berlangsungnya kehidupan zaman purba bakal diulik lagi dalam penelitian kali ini. ’’Penelitian ini adalah kerja sama dengan Museum Naturalis, Leiden, Belanda, dengan durasi kerja sama sampai lima tahun ke depan,’’ paparnya.

Sampai kemarin tim peneliti belum mendapatkan fosil manusia purba. Namun, mereka menemukan bagian-bagian fosil binatang seperti tulang belakang, gigi, gading, dan tengkorak hewan dari hasil ekskavasi. Fragmen-fragmen tersebut nantinya akan dibawa ke laboratorium. Tujuannya menganalisis lebih lanjut tentang kehidupan zaman purba. ’’Batas kami di situs Trinil ini sampai 19 Oktober nanti,’’ ujar Adhit.

Jumat lalu (21/9) tim penelitian tersebut tiba di situs Trinil. Hingga kemarin terdapat sembilan personel tim yang turun ke pinggiran DAS Kali Bengawan Solo di Dusun Pilang. Sementara Josephin Joordens dari Museum Naturalis, Belanda, mengungkapkan pekerjaan di sana harus segera dilakukan dengan cepat. Fragmen-fragmen fosil yang telah ditemukan harus lekas diangkat. ’’Untuk mencari tahu usia endapan lapisan homo erectus,’’ katanya.

Melanjutkan arkeolog dari Museum Naturalis tersebut, Indra Sutisna dari Museum Geologi Bandung, ikut menjelaskan. Penelitian kali ini bertalian dengan data absolut homo erectus. Yakni, biostatigrafi (ilmu penentuan umur batuan dengan menggunakan fosil di dalamnya) yang mulanya ditaksir antara 1—900 ribu tahun lalu. Seiring berjalannya waktu, muncul penelitian yang mengerucut ke umur 500 ribu tahun lalu. ’’Intinya, untuk menegaskan umur situs di sini itu berapa tahun. Maka dari itu, dilakukan semacam penelitian lanjutan seperti sekarang ini,’’ papar Indra.

Situs Trinil memiliki nama besar di dunia. Dua tahun belakangan, kata Indra, penelitian semacam ini juga dilakukan. Para arkeolog dunia memandang situs Trinil merupakan titik untuk melakukan penelitian tentang zaman purba. Tentunya, untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Beragam metode untuk menegaskan tahun berapa zaman purba, sudah berlangsung di kawasan situs Trinil. ‘’Saat ini kami lakukan ekskavasi satu titik dan beberapa section sebagai tambahan,’’ ungkapnya.

Sejumlah fragmen binatang purba sudah diangkat dari satu titik ekskavasi berukuran 1×0,5 meter. Indra memerinci bahwa fragmen gading -ujung sampai tengah- tanduk rusa, gigi babi, dan kerang air tawar telah berhasil diangkat. Dari beberapa fosil dan beberapa section tambahan tersebut, nantinya akan bisa diteliti kontak batuan dan geologinya. ’’Fragmen-fragmen ini akan dibersihkan dulu di laboratorium. Setelah itu baru dikirim ke luar negeri untuk analisis lebih lanjut,’’ jelasnya. (mg8/c1/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button