Pacitan

Arindra Datta Adhy Prasetya Bertahan Hidup dari Batu Akik

Merugi Rp 60 Juta karena Tiga Bongkah Batu

Selain istri, cinta mati pria 25 tahun ini adalah batu akik. Setia mengoleksi dan menjual benda yang sempat jadi buruan khalayak itu sejak enam tahun lalu. Untung-rugi puluhan juta adalah hal biasa.

==========================  

DENI KURNIAWAN, Pacitan, Radar Pacitan

DI ruang tamunya, Arindra Datta Adhy Prasetya duduk santai sembari mengamati bongkahan batu segenggaman tangan. Matanya teliti mengamati lekuk batu berwarna merah gelap itu. ‘’Ini jenis brownies red chalcedony,’’ kata Arindra meletakkan batu itu ke atas meja.

Warga Dusun Kebonreti, Tanjungsari, Pacitan, itu sedang memeriksa cincin akik yang dikoleksi sejak 2013. Ada yang merah, kuning, dan putih susu. Hobinya mengoleksi itu kini menjadi jalan rezeki. Sebuah cincin akik brownies red chalcedony menjadi rekor penjualan tertinggi. Duit Rp 30 juta dari cincin akik ber-emban perak ukuran 33x12x5 milimeter itu dibeli seseoang pada akhir 2017. ‘’Senang mengoleksi, tapi kalau ada yang minat dan harga cocok, ya dijual,’’ ujarnya.

Pria 25 tahun itu sempat memotong dan memoles batu akik sendiri. Dijadikan gaco alias cincin akik khusus kontes. Dia sering ikut kontes hingga luar daerah. Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali, dan Palembang, Sumatera Selatan. Dari situ, nama Arindra dikenal luas oleh para pecinta batu akik kontes. ‘’Saya punya 30 gaco yang beberapa dipinjam pehobi akik kontes kenalan,’’ ucapnya sambil menyebut dapat bagian 20 persen dari hadiah bila gaconya menang.

Omzet dari hasil jual batu akik tembus puluhan juta rupiah. Ketika akik sedang booming, bapak satu anak itu bisa meraup Rp 20 juta dalam sepekan. Tapi, dia juga buntung. Duit Rp 60 juta melayang pada 2014. ‘’Zonk karena tiga bongkah bahan merah yang sudah saya beli, saat dibelah banyak seratnya,’’ kenangnya.

Pasang-surut dunia akik sudah dirasakan suami Fitri Nur Anafi ini. Pertengahan tahun ini dia sumringah karena pamor akik kembali bergaung. Dalam sebulan rata-rata bisa mengantongi Rp 6,5 juta. Itu termasuk bisnis pembuatan emban akik. ‘’Tidak mengira kalau sekarang punya jalan rezeki dari batu akik,’’ ujarnya.

Perkenalan Arindra dengan batu akik ketika bekerja sebagai sales rokok. Suatu ketika, dia diajak bosnya mengecek outlet di Kecamatan Bandar dan Nawangan. Namun, setibanya di sana, bukan outlet yang dikunjungi, melainkan penjual batu akik. Kala itu, dia sekadar ikut-ikutan membeli bahan. Sebanyak 13 bongkah batu akik ditebus dengan harga Rp 50 ribu. Iseng ditawarkan di media sosial, satu bongkahnya laku Rp 540 ribu. ‘’Karena untung banyak, saya keluar dari sales dan menekuni batu akik,’’ pungkasnya. ***(cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close