Pacitan

APK Paslon Miskin Kreativitas, Kalangan Seniman Sebut Mubazir

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Pembuatan alat peraga kampanye (APK) pasangan calon (paslon) bupati dan wakil bupati Ngawi dinilai miskin kreativitas. Pun, keberadaan baliho, spanduk, maupun bentuk APK lainnya dinilai mubazir alias muspro. ‘’Saya kira, selain pihak percetakan, tidak ada yang diuntungkan dari keberadaan APK itu,’’ kata Bramantyo Prijosusilo, salah seorang seniman asli Ngawi, Senin (26/10).

Menurut Bram, secara bahasa visual, APK pemilihan presiden (pilpres), pemilihan legislatif (pileg), maupun pemilihan bupati (pilbup) nyaris tak ada perbedaan. Menunjukkan gambar orang dengan nama dan tagline. ‘’Kecuali kalau desain grafisnya dahsyat, tapi saya belum pernah melihat yang seperti itu,’’ ujarnya.

Bram juga menyebut pemasangan APK tidak berpengaruh signifikan terhadap pemenangan kontestasi. Melainkan lebih pada karya nyata untuk masyarakat. Dia mencontohkan seorang calon anggota legislatif (caleg) di Jawa Timur yang tidak memasang APK sama sekali namun mampu menang karena sudah dikenal publik lewat karyanya. ‘’Kalau tujuannya hanya untuk mengenalkan paslon, saya kira mubazir, karena sebagian besar warga Ngawi sudah kenal Ony dan Antok,’’ paparnya.

Lalu, bagaimana APK yang baik dan bermanfaat bagi paslon? Bram menekankan harus mampu mengomunikasikan misi, visi, dan program paslon. Itu dapat terwujud jika digarap dengan serius sesuai pakem seni grafis. ‘’Apalagi jika dipaku di pohon, lebih disayangkan lagi,’’ ujarnya. (tif/c1/isd)

Antok: Mudahkan dalam Sosialisasi

CALON wakil bupati (cawabup) Ngawi Dwi Rianto ’’Antok’’ Jatmiko membantah keberadaan alat peraga kampanye (APK) mubazir. Sebaliknya, komponen tersebut dinilai penting untuk mengenalkan pasangan calon (paslon) kepada pemilih. ‘’Intinya memudahkan kami dalam mengenalkan diri atau sosialisasi kepada masyarakat,’’ kata Antok Senin (26/10).

Antok mengakui pembuatan APK-nya tidak terlalu berpatokan pada pakem desain grafis. ‘’Kalau kami gunakan gambar APK dengan desain yang kreatif, nanti pesan kami agar warga mengenali paslon dengan mudah malah tidak tersampaikan,’’ tuturnya.

Meski begitu, dia menyebut telah menyiapkan APK berkonsep kreatif tematik. Pembuatannya diserahkan kepada para relawan di Ngawi. Biasanya, desainnya menyesuaikan lokasi pemasangan APK. ‘’Ada yang tematik pertanian, UMKM, dan sebagainya. Tergantung di mana APK itu dipasang,’’ jelas Antok.

Di sisi lain, dia menyatakan aturan KPU memaksa pihaknya hanya dapat membuat APK dalam jumlah terbatas. Spanduk, misalnya, di satu desa hanya dibatasi dua dari KPU dan empat spanduk dari paslon. Padahal, luas wilayah desa berbeda-beda. ‘’Terlepas dari itu, kami ingin hasilnya maksimal. Secara pengenalan mudah, ketertarikan masyarakat terhadap paslon juga dapat,’’ pungkasnya. (tif/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button