Opini

Aparat Pelayan Masyarakat

SEMUA lini harus bergerak dalam menangani pandemi. Masyarakat sudah saling bantu-membantu kepada mereka yang terdampak. Ada yang bergantian menyiapkan makanan bagi yang isoman. Ada yang berbelanja berbagai bahan kebutuhan pangan untuk dibagikan. Baik yang perseorangan maupun yang menghimpun donasi. Baik dari pribadi maupun secara instansi. Semuanya bergerak karena ingin membantu. Mereka itu sejatinya juga terdampak. Tapi masih bisa menyisihkan sebagian rezeki yang dimiliki untuk orang lain.

Itu baru yang mereka bagikan secara langsung. Ada juga yang dilewatkan pemerintah Kota Madiun. Jika ditotal, jumlahnya sudah sangat banyak. Simbolis serah-terima bantuan masih sering ada sampai sekarang. Utamanya dari anggaran CSR perusahaan. Tidak hanya bantuan bahan pangan, tetapi juga masker, hand sanitizer, dan lain sebagainya. Semuanya untuk masyarakat. Mereka juga saya libatkan dalam penyalurannya. Ini semua untuk masyarakat. Karenanya, saya jamin tidak ada yang kesulitan makan di Kota Madiun.
Upaya masyarakat sudah seperti itu besarnya. Pemerintah juga harus maksimal. Karenanya, pemerintah dengan semua aparaturnya juga kita kerahkan. Mereka yang bertugas di OPD yang terkait langsung dengan pandemi Covid-19 sudah tidak perlu dipertanyakan lagi perannya. Petugas kesehatan, BPBD, PMI, petugas dinas sosial, petugas dinas perhubungan, pegawai kecamatan dan kelurahan, TNI/Polri, sampai relawan sudah berjibaku sejak awal pandemi. Bahkan, sering kali bertugas 24 jam. Seperti petugas pemulasaraan jenazah secara protokol kesehatan. Mereka adalah pahlawan dalam perang melawan Covid-19.

Karenanya, peran aparatur yang lain juga kita libatkan. Saya sengaja membentuk tim relawan yang beranggotakan ASN muda-muda. Ada 30 orang. Masing-masing kecamatan sepuluh orang. Mereka akan saya libatkan bersama petugas di kelurahan. Relawan ini akan lebih banyak turun berkeliling di masyarakat. Salah satu tugasnya memantau warga yang menjalani isoman. Warga yang tengah isoman ini memang tengah menjadi perhatian. Mereka yang berusia di atas 50 tahun wajib dipindahkan ke fasilitas isolasi terpadu. Pemindahan sudah kita mulai. Harapannya, kondisi mereka selalu terpantau setiap saat.

Jangan sampai terlambat. Sebab, kebiasaan masyarakat memilih diam meski gejala mulai terasa. Sakit tidak dirasa. Saat sudah mulai memburuk barulah berobat. Sayangnya, kondisi sudah kelewat parah. Jelas penanganan petugas kesehatan tidak bisa maksimal. Banyak kasus terkonfirmasi yang meninggal dengan pola seperti itu. Karenanya, presiden menginstruksikan agar yang isoman dipindahkan ke isoter. Agar proses pemindahan cepat selesai, saya libatkan relawan dari ASN yang muda-muda tadi.

ASN Pemkot Madiun juga saya libatkan dalam peningkatan ekonomi lokal. ASN saya instruksikan untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari di PKL dan UMKM sekitar tempat tinggal atau sekitar kantor tempat bekerja. Saya awasi betul. Kita punya aplikasi terkait itu. Jadi, mulai siapa, belanja di mana, jenisnya apa saja, habisnya berapa, bisa saya pantau. Tinggal masukkan NIK, data keluar. Setiap Senin, selalu kita evaluasi. Ternyata uang yang berputar cukup besar. Dalam dua minggu terakhir belanja ASN ini mencapai Rp 1 miliar. Harapannya dapat mencapai Rp 3 miliar dalam satu bulan. Artinya, ada duit Rp 3 miliar berputar di masyarakat tiap bulannya. ASN yang memiliki gaji tiap bulan ini bisa tetap mencukupi kebutuhan sehari-hari sekaligus membantu meningkatkan perekonomian di masyarakat. Bisa turut membantu agar dapur para pelaku UMKM ini tetap mengebul.

Itu belum donasi yang mereka galang. ASN itu kan tergabung dalam Korpri. Mereka juga menggalang anggaran peduli Covid-19. Laporan yang saya terima, jumlahnya sampai setengah miliar lebih. Ini jumlah yang besar. Padahal itu dihimpun secara sukarela. Ada yang non-PNS menyumbang sampai Rp 1 juta. Ada ASN bukan pejabat tinggi yang menyumbang sampai Rp 10 juta. Artinya, kepedulian mereka juga luar biasa. Dan, bukan sekali ini saja. Sebelumnya juga sudah pernah menggalang hal serupa. Pembagian telur rebus dan susu untuk masyarakat di awal pandemi lalu berangkat dari anggaran donasi ASN tersebut.

Anggaran yang terkumpul saat ini juga untuk masyarakat. Tetapi sifatnya sebagai penyangga. Saya tidak ingin bantuan berlebih saat ini, tetapi kemudian kekurangan di belakang nantinya. Sebab, kita tidak tahu kapan pandemi akan berakhir. Saat bantuan cukup melimpah, bantuan dari donasi ASN ini kita simpan dulu. Saat masyarakat butuh, sedang bantuan lain sudah tidak ada, donasi ASN kita keluarkan. Saya ingin masyarakat tidak kekurangan bantuan, tetapi juga tidak berlebihan. Sekali lagi, pandemi belum dapat dipastikan kapan akan berakhir. Tetapi pada intinya, ini untuk masyarakat. Karena ASN merupakan aparat pelayan masyarakat.

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button