Magetan

Antonius Yudhistira Indrasena dan Azalea Abril Hermanto Hasilkan Karya Film Pendek Kreatif

Soroti Kebiasaan Milenial Kongko di Kafe sebagai Penyumbang Sampah Plastik

Kreativitas Antonius Yudhistira Indrasena dan Azalea Abril Hermanto dalam membuat film pendek berbuah manis. Karya mereka keluar sebagai juara di kompetisi film pendek di sekolah vokasi jurusan Bahasa Inggris UGM Jogjakarta.

====================

FATIHAH IBNU FIQRI, Magetan, Jawa Pos Radar Magetan

DOA Azalea Abril Hermanto terkabul. Film pendek karyanya beserta Antonius Yudhistira Indrasena menjadi juara dalam kompetisi film pendek yang diselenggarakan oleh sekolah vokasi jurusan Bahasa Inggris UGM Jogjakarta. Wajah mereka sangat berbinar ketika mendapati kenyataan tersebut. Karena film pendek yang mereka buat mengalahkan puluhan karya lainnya dari seluruh daerah. ‘’Kompetisi ini di luar sekolah. Kami dapat info juga dari internet dan ingin mencoba,’’ kata Sena, sapaan akrab Antonius Yudhistira Indrasena, Senin (16/12).

Film pendeknya bertema pemeliharaan alam. Sedangkan, yang mereka soroti tentang kebiasaan anak muda yang suka nongkrong di kafe sebagai salah satu penyumbang sampah plastik. Dalam setiap adegannya, Lea –sapaan akrab Azalea Abril Hermanto- menjadi peran utama. ‘’Ya, pesan tersiratnya memang begitu,’’ kata Sena.

Dia menjelaskan, proses pengambilan gambar sampai editing mereka kerjakan sendiri. Tahapan itu selesai dalam tiga hari. Di mana pada hari pertama mereka take gambar di beberapa objek wisata di Magetan. Kemudian, pada hari kedua mereka syuting di sebuah kedai kopi yang ada di Kota Madiun. Setelah semua proses itu selesai, selanjutnya mereka melakukan editing. ‘’Dalam setiap pengambilan gambar kami lakukan secara tidak sengaja alias tanpa setting. Ya, cuma direkam saja. Tapi, ternyata setelah dilihat hasilnya cukup bagus,’’ jelasnya.

Sena menyebut karya film pendeknya bersama dengan Lea itu berdurasi 4 menit 14 detik. Mereka tak menyangka awalnya bisa masuk 10 besar. Bahkan, ketika diminta mempresentasikan hasil film yang dibuat di hadapan para juri.

Presentasinya juga tidak biasa. Karena harus menggunakan bahasa Inggris. Tentu itu menjadi kesulitan tersendiri bagi mereka. ‘’Pada dasarnya kami mampu berbahasa Inggris. Jadi, berani ikut serta,’’ ungkapnya.

Dalam setiap narasi filmnya, mereka memang menggunakan bahasa Inggris. Tetapi terjemahan ke bahasa Indonesia tetap dicantumkan. Tujuannya tentu untuk mempermudah penonton mencerna makna dari film yang mereka produksi. ‘’Semua pengalaman saya gunakan betul untuk kompetisi ini,’’ kata pemuda asal Kelurahn Bulukerto, Magetan, itu. ****(her/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close