features

Ancaman Longsor Kalahkan Wasiat Almarhum Ayah

Enggan Pindah Rumah demi Masjid dan Jamaah

Dua kali rumah Suwali diterjang longsor hingga rusak parah. Beruntung dia selalu lolos dari maut. Namun, dia memilih bertahan di tengah waswas yang selalu menghantui setiap turun hujan deras itu.

ERWIN SUGANDA, Tulakan, Radar Pacitan

TEBING setinggi lebih 20 meter menjulang di belakang rumah Suwali di RT 01, RW 10, Dusun Pojok, Wonoanti, Tulakan. Setiap hujan deras mengguyur, apalagi disertai angin kencang, pria 60 tahun itu selalu waswas. Terbayang kejadian lima tahun silam ketika nyawanya nyaris melayang.

Kala itu, tebing di belakang rumahnya tersebut longsor. Materialnya menjebol tembok ruang keluarga. Dua kamar tidur rusak parah. ‘’Untungnya saat kejadian itu diajak ke rumah anak saya. Jadi, rumah pas kosong,’’ kenang Suwali Senin (8/2).

Desember 2020 kemarin, giliran bagian depan rumah Suwali terdampak longsor. Kekhawatiran pun semakin menghantui. Setiap malam, saat hujan turun dan lampu padam, dia memilih mengosongkan rumah mengungsi ke rumah anaknya. ‘’Pernah juga mengungsi ke rumah kakak saya dua minggu,’’ ujarnya.

Suwali sempat diminta anaknya pindah rumah ke tempat yang lebih aman. Namun, dia selalu teringat wasiat ayahnya sebelum meninggal dunia. Bahwa masjid di sebelah rumahnya masih ada jamaahnya. Dia diminta merawat dan menjaganya. ‘’Saya belum pindah karena mempertahankan masjid. Kalau saya tinggal, jamaahnya bagaimana,’’ tuturnya.

Sebenarnya Suwali punya sebidang tanah. Berjarak sekitar 200 meter dari tempat tinggalnya sekarang. Rencananya akan dibangun rumah baru dan akan mengosongkan rumahnya yang rawan longsor. Sayangnya, belum cukup dana. ‘’Harus persiapan dulu. Karena membuat rumah itu biayanya tidak sedikit. Kecuali ada yang membantu,’’ katanya.* (sat/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button