Madiun

Anak Spesial Sukar Belajar Virtual

Home Visit Solusi Penangguhan Tatap Muka

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – M. Taher Baidowi sudah rindu sekolah. Meski tak bisa mengungkapkannya secara lisan, siswa kelas VIII SLB Dharma Wanita Kota Madiun itu menyambut hangat kedatangan Isfatunnisa, guru yang berkunjung ke rumahnya.

Siswa tunarungu dan wicara itu langsung meraih tangan gurunya yang baru saja menghentikan kendaraannya di depan rumahnya di Manisrejo, Taman. Sebelum berjabat tangan, Isfatunnisa bergegas menuju tempat cuci tangan. Barulah, Taher menuntunnya masuk ke dalam rumah. ‘’Enak belajar di sekolah,’’ kata Taher dengan bahasa isyarat seperti yang diterjemahkan gurunya.

Kerinduan Taher bukan tanpa alasan. Sejak pemerintah menangguhkan aktivitas pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan Maret lalu, hingga kini Taher belum menginjakkan kaki di sekolah. Di saat beberapa SMA, SMK, dan SLBN melakukan uji coba, dia pun harus tetap di rumah. Mengikuti pembelajaran virtual tiap pukul 08.00 selama satu jam. Kemudian dilanjutkan malam harinya. ‘’Cepat bosan,’’ ujarnya.

Namun, tidak semua pelajaran dapat disampaikan secara virtual. Seperti pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) seperti yang diampu Nisa. ‘’Harus berkunjung ke rumah,’’ katanya.

Karena itu, Nisa berkunjung ke rumah siswanya satu pekan sekali. Meski dapat mengobati kerinduan sekolah, home visit juga mengandung risiko. Covid-19 yang tidak kasatmata bisa saja menempel di tangan, pakaian, atau barang yang dia bawa saat kunjungan. ‘’Kekhawatiran itu dilawan dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan,’’ lanjutnya.

Protokol kesehatan harus dia terapkan. Sebelum memasuki rumah, Nisa mencuci tangan terlebih dahulu. Kemudian wajib mengenakan masker. Anak didik juga diwajibkan mengenakan face shield. ‘’Saya sebenarnya guru tari. Pembelajaran tari saat ini tidak bisa dijalankan,’’ bebernya.

Menurutnya, pembelajaran TIK kepada anak berkebutuhan khusus (ABK) kurang optimal jika dilaksanakan melalui virtual. Terutama saat berinteraksi dengan anak didiknya. Sebab masing-masing siswa mendapatkan perlakuan berbeda menyesuaikan kebutuhan. ‘’Pembelajaran tatap muka saja kadang belum paham, apalagi virtual,’’ ungkapnya.

Menurut Nisa, materi pembelajaran TIK sangat dibutuhkan siswa. Guna mendukung sekaligus menjadi bekal bagi siswa untuk melaksanakan pembelajaran virtual. Sehingga materi seperti keterampilan mengetik sepuluh jari serta mengoperasikan Microsoft Office harus dikuasai siswa. ‘’Mereka mengerjakan tugas dan menjalankan pembelajaran virtual, bekalnya pembelajaran TIK ini,’’ sebutnya.

Tantangan lainnya, mayoritas ABK memiliki emosi yang labil. Mereka akan merasa cepat bosan jika melakukan aktivitas. Terkadang juga sangat betah dengan aktivitas tersebut. ‘’Anak-anak spesial ini sangat mudah kehilangan mood belajar atau cepat bosan,’’ tuturnya.

Tiap Jumat, Nisa harus mengunjungi rumah siswanya. Tiap pembelajaran biasanya berdurasi maksimal 1,5 jam. Sebelum memberikan materi pembelajaran, dia harus memberikan terapi untuk menjaga mood belajar peserta didiknya. Terapi bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya, mengajak bermain atau bernyanyi peserta didik 10-30 menit. ‘’Ketika mood belajar mereka sudah mulai stabil, barulah diberikan materi pembelajaran,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Penanganan ABK Tak Dapat Digeneralisasikan

EMPAT ratusan anak berkebutuhan khusus (ABK) di Kota Madiun harus sabar menerima pembelajaran lewat home visit. Sampai kini belum ada kepastian lagi, kapan pembelajaran tatap muka dibuka kembali.

Midin, pengawas Pendidikan Khusus Layanan Khusus (PKLK) Kota Madiun Cabdindik Jatim Wilayah Madiun, menegaskan bahwa sejak uji coba tatap muka ditangguhkan, seluruh sekolah kembali menjalankan pembelajaran virtual. ‘’Lihat situasinya, semakin hari diperketat. Sepertinya belum dapat dipastikan kapan bisa tatap muka lagi,’’ katanya.

Berdasarkan evaluasi pembelajaran virtual, sejumlah hambatan dirasakan. Seperti hambatan intelektual dan keterbatasan yang dimiliki peserta didik. Pun, siswa kesulitan mengoperasikan smartphone saat pembelajaran virtual. ‘’Tidak semua anak bisa mengoperasikan HP (handphone, Red),’’ bebernya.

Sejumlah kendala itu telah dilaporkan dengan harapan opsi tatap muka dapat kembali terselenggara. Jika pembelajaran virtual tetap dipaksakan, dikhawatirkan berpengaruh pada menurunnya kemampuan anak. Apalagi ada siswa yang harus mendapatkan terapi setiap harinya saat di sekolah. ‘’Seperti harus memulai dari nol lagi,’’ ujarnya.

Bagi ABK seperti autis, hiperaktif, dan tunagrahita memerlukan terapi sebelum memulai pembelajaran. Bentuknya menyesuaikan dengan kebutuhan anak. Tujuannya untuk meningkatkan emosi siswa. Setelah connect barulah masuk ke materi pelajaran. ‘’Semua guru pasti menerapkan terapi ini setiap hendak memulai pembelajaran,’’ ungkapnya.

Midin menegaskan penanganan ABK tidak dapat digeneralisasikan. Tiap siswa harus mendapatkan perlakuan khusus menyesuaikan kebutuhan. Hal itu tidak dapat dilakukan jika guru harus memaksakan pembelajaran virtual. Salah satu caranya melalui home visit. ‘’Kunjungan ke rumah wajib bagi guru-guru SLB,’’ sebutnya.

Melalui home visit, guru tidak hanya dapat mengoptimalkan pembelajaran. Tapi juga dapat berkoordinasi intens dengan orang tua. Melalui itu, segala keluhan dan perkembangan anak didik dapat diketahui. Tanpa pendampingan orang tua, home visit tidak berjalan optimal. ‘’Seluruhnya harus berperan, mulai orang tua, guru, hingga siswa. Komunikasi menjadi kunci. Home visit solusi agar pembelajaran optimal bagi ABK. Satu pesan kami, tetap disiplin protokol kesehatan,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close