Madiun

Anak Berurusan Hukum, DPPKB-P3A Kabupaten Madiun Sebut Pengaruh dari Keluarga

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Kabar dua bocah ingusan yang berkomplot membobol panti asuhan hingga Rp 102 juta menjadi pergunjingan. Kasus ini semakin menambah daftar anak berhadapan hukum (ABH) di Kabupaten Madiun. ‘’Selama dua tahun terakhir, 2019 dan 2020, total 51 kasus ABH,’’ kata Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindunan Anak (DPPKB-P3A) Kabupaten Madiun Widiasih Murtamengrum, Selasa (10/8).

Aksi panjang tangan dengan pelaku anak di bawah umur mendominasi. Widiasih menyebutkan, 31 dari 51 kasus ABH itu adalah pencurian. Sementara 20 kasus sisanya penganiayaan, persetubuhan, kekerasan, laka lantas, penggelapan, dan obat-obatan terlarang. ‘’Kasus pencurian dengan anak sebagai pelaku memiliki pola yang sama, latar belakang keluarga,’’ ungkap Widiasih.

Dia menjelaskan, background keluarga yang mendorong anak melakukan aksi panjang tangan ada dua faktor. Pertama, kondisi ekonomi. Kebanyakan karena keinginan mereka tidak terpenuhi. Faktor ekonomi keluarga yang tidak mendukung mengakibatkan anak berbuat nekat. ‘’Keharmonisan keluarga juga menjadi faktor anak-anak pilih jalan pintas,’’ ujarnya. (den/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button