Opini

Allah Maha Pengampun, Covid Tiada Ampun

Oleh: H Soenarwoto Prono Leksono (Pimpinan Ladima Tour & Travel)

ORANG miskin jangan sakit! BPJS Kesehatan sekarang naik selangit. Amit-amit. Harus sehat, BPJS katanya defisit. Masih ada pandemi Covid-19, jika sakit bisa sulit. Perut sembelit tambah melilit. Tak ada jaminan orang miskin pasti dirawat di rumah sakit. Atiiit.” Begitu seorang teman menulis status di akun Facebook-nya kemarin siang. Satire dan menggelitik.

Saya suka membacanya. Alih-alih sebagai hiburan atau obat kejenuhan dalam stay at home yang sudah hampir dua setengah bulan ini saya jalani. Di rumah terus-menerus terasa membosankan. Untuk mengusir kejenuhan itu saya suka membaca hal-hal yang lucu. Hal-hal yang membuat saya bisa tersenyum. Tersenyum pertanda hati gembira. Bahagia.

Dengan gembira, kata dokter, imun bisa meningkat. Imun meningkat, badan jadi sehat. Bisa menolak ragam penyakit, termasuk Covid-19. Senyum juga ibadah. Asal tidak “senyum-senyum” sendiri di tempat sepi. Bisa dianggap tidak waras. Mengingat kini banyak orang dilanda stres berat. Jenuh terlalu lama tinggal di rumah, terkena PHK, dan ketakutan terpapar Covid-19.

Soal ungkapan dan tingkah polah lucu, dalam masa pandemi Covid-19 ini memang sangat menjamur di medsos; Facebook, WhatsApp,  dan Instagram. Ungkapan dan video tingkah polah lucu itu, mungkin, sebagai cara orang untuk melawan kejenuhan terlalu lama tinggal di rumah. Biar tidak stres berat. Mereka bikin lucu-lucuan di rumah. Apalagi, sekarang juga dilarang mudik. Orang bisa tambah stres. Tapi, beruntung kita masih diperbolehkan “pulang kampung”.

Maaf, untuk ini pembaca tak usah mesem apalagi tertawa. Bisa-bisa kena perkara. Sekarang ini zaman orang mudah diperkarakan oleh para pemangku kuasa. Maka, biarlah masing-masing orang mendefinisikan sendiri kata “mudik” dan “pulang kampung” itu. Menurut KKBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kedua kata itu memiliki arti sepadan. Mudik, ya pulang kampung. Pulang kampung, ya mudik. Pengucapannya saja yang berbeda. Artinya, tak jauh beda.

Bicara soal mudik memang selalu mengasyikkan. Dirindukan oleh banyak orang, khususnya mereka yang urban. Karenanya, banyak orang melanggar pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk bisa mudik atau pulang kampung. Untuk menghindari aparat, ada yang nekat naik truk bercampur ternak sapi dan kamping. Rela berlama-lama mencium bau tlethong sapi dan kambing dalam perjalanannya dari Jakarta. Ada pula yang rela bersembunyi di mobil boks angkutan barang yang pengap. Dan, ada yang membeli “surat sehat” dari oknum yang mengaku pegawai rumah sakit agar bisa naik angkutan Lebaran.

Setahun sekali untuk bisa menikmati Hari Raya Idul Fitri. Mudik atau pulang kampung bukan sekadar kita bisa bertemu dengan orang tua dan keluarga tercinta, tapi bisa melihat indahnya panorama desa. Berhampar sawah, ngarai, perbukitan, sungai, dan gunung. Bisa menikmati segarnya alam pedesaan, jauh dari polusi udara kota. Kalau sudah begini, saya jadi teringat masa kecil di tanah kelahiran. Teringat pula dengan rancaknya lagu anak-anak “naik-naik ke puncak gunung” itu.

Tapi, bayangan masa kecil itu mendadak ambyar. Ketika membaca syair lagu “naik-naik ke puncak gunung” karya Bu Sud (alm) itu dipelesetkan. “Naik-naik BPJS naik, tinggi-tinggi sekali. Kiri kanan kulihat banyak orang susah, susah sekali. Tidak kerja, dirumahkan, kena PHK. Pengangguran kini banyak, banyak sekaliii.”

Kini, banyak orang protes dengan cara yang jenaka. Orang Jawa bilang itu guyon parikena. Ini untuk menyikapi kebijakan pemerintah yang “nekat” menaikkan BPJS Kesehatan menjelang Lebaran. Dibilang nekat, karena kebijakan tersebut ditetapkan pada masa pandemi Covid-19, banyak orang dilanda susah. Tidak bekerja, tidak memiliki penghasilan, dan tidak bisa beli sembako. Sebenarnya sudah banyak pihak menolak dan MA telah membatalkan, tapi pemerintah tetap menaikkan BPJS Kesehatan. Aneh.

“Jangan cari penyakit, salat di rumah saja. Jangan ke masjid, Covid-19 masih menjangkit. Allah Maha Pengampun, Covid tiada ampun.” Tulisan teman di Facebook ini juga tak kalah kocaknya. Tapi, untuk yang terakhir ini butuh sedikit pemikiran atau perenungan. Meskipun untaiannya sederhana, maknanya cukup dalam. Setidaknya dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini. Di mana ketika ulama dan umara riuh “melarang” umat tidak boleh pergi ke masjid untuk salat berjamaah: salat Jumat, Tarawih, fardu, dan salat Idul Fitri 1441 H.

Diakui atau tidak, larangan pergi ke masjid itu membuat tidak sedikit umat muslim bersedih. Apalagi, Masjidilharam dan Masjid Nabawi pun ditutup. Pelaksanaan umrah malah sudah dihentikan sementara sejak 27 Februari lalu. Bahkan, kini terpetik kabar pelaksanaan Haji 2020 terancam ditunda tahun 2021. Ini karena sekitar 50 ribu warga Arab Saudi kini terpapar Covid-19.

Jangan bersedih, apalagi merasa berdosa. Allah itu Maha Pengampun. Allah akan mengampuni segala salah dan dosa hambanya, meskipun salah dan dosanya setinggi langit dan seluas lautan. Tidak mengapa salat di rumah saja. Tidak mengapa umrah dan haji tertunda. Tidak mengurangi pahala, juga tidak berdosa. Begitu kata sejumlah ulama dalam fatwanya. Ini demi memutus mata rantai pandemi Covid-19. Sudah banyak contoh mereka yang nekat pergi ke masjid terpapar Covid-19. Bahkan, di antara mereka ada yang meninggal dunia. Jika Covid-19 sudah menyerang, memang tiada ampun bagi korbannya. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close