features

Akurasi dan Cover Both Side Itu Darah Daging Jurnalisme

Harry Tjahjono kenyang asam garam menjadi wartawan. Dia lama berkiprah di dunia jurnalistik. Selain moncer sebagai penulis novel dan skenario film. Di usianya yang mendekati tujuh puluh tahun, dia tetap aktif sebagai pekerja budaya yang berkecimpung di tengah masyarakat.

SRI MULYANI, Jawa Pos Radar Madiun

JARI Harry Tjahjono sudah gatal menulis sejak masih duduk di bangku SMP. Tulisannya yang rata-rata menceritakan tentang lingkungan tempat tinggalnya menjadikan dirinya sebagai seniman berbakat. ”Awal menulis karena senang membaca. Sederhana saja,” kata Harry.
Namun, jalan kreatif yang dilakoni tidaklah instan. Sampai kini dia terus mengasah kemampuannya secara intensif. Dari sejak melakoni kerja-kerja kebudayaan pada akhir 70-an. ”Semua ini berkat proses belajar secara tekun, konsisten, dan terus-menerus,” tutur budayawan kelahiran Madiun, 5 Februari 1954, itu.

Sudah tak terhitung lagi penghargaan yang telah diraihnya. Skenario film Si Doel Anak Sekolahan yang populer di layar kaca akhir 90-an itu ditulis olehnya. Karya lainnya, serial Aisyah, ditayangkan di salah satu stasiun televisi Singapura. Harry juga menulis novel Selamat Tinggal Duka yang difilmkan Soekarno M. Noor/Syumandjaya, Langitku Rumahku difilmkan Slamet Rahardjo, dan masih banyak lainnya. ”Selamat Tinggal Duka itu tulisan pertama saya sekitar 1978. Saya juga membuat theme song sinetron Keluarga Cemara, Si Doel Anak Sekolahan, dan 1 Kakak 7 Keponakan,’’ ungkapnya.

Tulisannya juga kerap termuat di berbagai surat kabar nasional. Harry pun pernah menjadi pengisi sebuah program TV dengan ratusan episode. ”Saya terjun di dunia jurnalistik sejak 1970 hingga 2007,’’ terangnya.

Tak terhitung pula pesohor negeri ini yang dikenalnya. Harry pernah menjadi sutradara Perangkap Perkawinan yang diperankan Reza Artamevia, Cornelia Agatha, dan Derry Drajat. Perpisahan yang Indah yang diperankan Ria Irawan, Alex Komang, dan Ade Irawan, serta serentetan proses kreatif lain yang membuatnya menyabet penghargaan sejak 1982-2019. Meski begitu, budayawan yang tinggal di Petukangan Utara, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, itu tetaplah pribadi yang sederhana. Sejak 2000 hingga sekarang Harry mendirikan LSM Abimantrana di Madiun bersama Herutomo. Gerakan ini pun mendapat dukungan Ibu Sinta Nuriyah Abdurahman Wahid. Bergerak di bidang rehabilitasi pengguna narkoba lewat pendekatan budaya dan pemberdayaan keluarga. Sejak 2005 hingga sekarang, Harry juga mendirikan Komunitas Peduli Hutan Kritis Lereng Wilis Madiun. ”Sampai kini saya masih terus menulis dan menelurkan berbagai skenario film dan iklan,” tuturnya.

Di Hari Pers Nasional (HPN) ini, Harry berpesan kepada jurnalis agar senantiasa menjunjung pemberitaan cover both side. Senantiasa mengedepankan akurasi dengan daya kritis objektif. Baginya, cover both side dan akurasi adalah darah daging jurnalisme. Tidak sekadar logis alias asal masuk akal. ‘’Kesungguhan kerja jurnalistik cerminan upaya menelisik, menemukan, dan menalar realitas psikologis dan realitas sosiologis yang berkelindan di dalam realitas faktual,’’ paparnya. * (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close