Bupati Menulis

Aku Pahlawan Masa Kini

TEMA peringatan Hari Pahlawan 10 November 2019 mengambil tema sebagaimana judul tulisan ini, ”Aku Pahlawan Masa Kini.” Peringatan Hari Pahlawan yang dilakukan setiap tahun, pun diadakan dan dilakukan di seluruh tanah air serta luar negeri ini, selalu akan mengingatkan kembali peristiwa pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Pada peristiwa bersejarah penuh tetesan darah dan air mata tersebut rakyat bersatu padu, berjuang pantang menyerah melawan penjajah yang akan menancapkan kembali kekuasaannya di Indonesia.

Dengan tema tersebut, menurut hemat saya sungguh tepat. Apalagi di era digital seperti sekarang ini diperlukan cara untuk mengingat sekaligus menanamkan nilai perjuangan tersebut. Bahwa kemerdekaan yang saat ini kita nikmati adalah buah dari perjuangan dari pahlawan pendahulu kita. Sudah sewajarnya dan seharusnya kita dapat melanjutkan cita-cita perjuangan tersebut sesuai dengan zamannya. Bukankah pada setiap zaman masalah yang dihadapi tidak sama? Oleh sebab itu, tentu jawaban atas persoalan tersebut adalah barang pasti tidak sama. Tergantung pada zamannya.

Ketika masa perjuangan dan upaya mempertahankan kemerdekaan, masalah yang utama dihadapi bangsa ini adalah bagaimana melepaskan diri dari penjajahan. Setelah pernyataan kemerdekaan diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, bagaimana mempertahankan kemerdekaan tersebut dari upaya penjajah yang akan berusaha kembali mencengkeram ibu pertiwi.

Tidak heran pada masa 1945 sampai dengan pengakuan kedaulatan semua komponen bangsa bahu-membahu bagaimana mempertahankan kemerdekaannya. Dari pejuang baik yang tergabung dalam tentara, laskar, organisasi kepemudaan, kemasyarakatan, kedaerahan, masyarakat luas, hampir semua merasa aneh kalau tidak terlibat upaya mempertahankan kemerdekaan. Bahkan, media cetak yang salah satu fungsinya sebagai kontrol sosial juga ikut terlibat secara langsung dalam upaya mempertahankan kemerdekaan. Tentu utamanya media yang pro terhadap republik.

Tidak mengherankan bila dilihat dari namanya saja, media yang terbit sudah ingin menunjukkan suara yang dibawa. Seperti Harian Kedaulatan Rakyat yang terbit di Jogjakarta. Dan Harian Merdeka di Jakarta dan lain sebagainya. Bahkan ada harian yang masih terbit sampai dengan saat ini. Utamanya Harian Kedaulatan Rakyat yang menjadi salah satu harian legendaris. Bahkan sangat dicintai oleh masyarakat Jogjakarta dan sekitarnya. Malahan saya sendiri karena dulu kuliah di Jogjakarta dan hampir setiap hari membaca harian ini di perpustakaan, kalau ke Jogja rasanya belum di Jogja kalau belum membaca harian tersebut.

Penderitaan sebagai bangsa yang terjajah sudah tak tertahankan. Baik penderitaan lahir maupun batin. Oleh sebab itu, tidak heran bila nyawa saja diserahkan. Apalagi didukung oleh fatwa atau resolusi jihad dari para pimpinan NU bahwa kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan. Tentu saja resolusi tersebut disambut seluruh elemen masyarakat dengan semangat berapi-api. Resolusi inilah salah satu yang mempunyai peran strategis memantik perlawanan rakyat pada peristiwa 10 November 1945 yang kemudian setiap tahun kita peringati di mana-mana.

Saya pernah bertanya kepada Bapak saya yang kebetulan seorang pensiunan TNI angkatan 1945 dan sekaligus veteran. Bagaimana mungkin penjajah yang demikian lengkap persenjataannya dilawan dengan hanya mengandalkan senjata rampasan dan bambu runcing. Dengan tertawa Bapak saya bercerita, ”Pada waktu itu, rasanya bukan dikatakan seorang pemuda Indonesia yang sesungguhnya kalau tidak mempunyai sifat pemberani dan ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Nyawa saja diserahkan. Hanya satu yang ada di pikiran Bapak. Jangan sampai anak-anak dan cucu kelak menderita seperti saya. Bayangkan Bapak hanya bisa sekolah sampai sekolah angka loro. Tidak bisa sekolah yang berbahasa Belanda karena anak orang biasa dan miskin. Dan harga diri diinjak-injak rasanya menjadi bangsa terjajah.”

Tidak heran kalau kemudian seluruh elemen masyarakat, juga para pemuda termasuk Bapak saya, ikut masuk dalam jajaran prajurit untuk mempertahankan kemerdekaan. Malahan para prajurit yang berjuang (walaupun pangkat rendah) menjadi idola. Malahan sebagai bentuk penghormatan dan bukti idola pejuang kemerdekaan waktu era perjuangan, Ismail Marzuki menggubah lagu dengan judul Kopral Jono.

Oh Kopral Jono

Gadis mana yang tak kenal akan dikau

Oh Kopral Jono

Gadis mana yang tak rindu akan dikau

Gayamu yang perkasa

Mirip banget panglima

Ramah tamahmu membikin gila hati wanita

Oh oh Kopral Jono

Kopral Jono, Kopral Jono, Kopral Jono

Dikau buah tutur gadis nan remaja

Oh oh Kopral Jono

Dikau sensasi gadis gunung dan kota

………dst

Bayangkan waktu itu seorang kopral menjadi idola remaja sebagaimana digambarkan dalam lagu Ismail Marzuki tersebut. Salah satu alasannya tentu karena seorang pejuang yang rela berkorban bahkan nyawa pun akan diserahkan.

Tentu era sekarang tantangan yang dihadapi berbeda. Era yang dibutuhkan kecepatan bertindak, visioner, penuh inovasi, rela berkorban, namun tetap mencintai bangsa dan negaranya. Sedang yang harus tetap dijaga nilai kepahlawan 10 November ini adalah seperti tekad pantang menyerah untuk masa depan dan kejayaan bangsa Indonesia. Meminjam ajaran Ki Hajar Dewantara dalam ajaran sistem Taman Siswa, ”Sifat hakekat tidak boleh berubah, akan tetapi bentuk, isi, dan irama boleh (bahkan harus mampu) berubah sesuai dengan tuntutan perkembangan alam dan zaman.”

Tentu nilai 10 November 1945 tetap relevan dan harus tetap ditransformasikan kepada generasi penerus bangsa. Salah satu upaya Kabupaten Magetan dalam mananamkan  nilai tersebut seperti pada peringatan 10 November 2019 kemarin tamu undangan berpakaian ala pejuang (sudah dumulai sejak tahun kemarin). Selain itu, setiap tanggal 17 setiap bulan di alun-alun Magetan diselenggarakan upacara penurunan bendera oleh siswa SMP. Dan sebagian peserta, baik siswa dan guru, berpakaian adat dari 34 provinsi di Indonesia. Juga rencana tahun depan akan dilaksanakan pertukaran pelajar dengan SMP di luar Jawa.

Sejak dini para remaja sudah disadarkan bahwa kita ini ditakdirkan Tuhan dalam hidup berbangsa dan bernegara terdiri beragam suku, bangsa, agama, dan bahasa. Siapa tahu para remaja ini besok menjadi pimpinan bangsa di berbagai tingkatan. Sehingga sejak awak tertanam kecintaan terhadap bangsa dan negaranya. Bukan malah sebaliknya. Malahan ditengarai saat ini ada upaya sebagian kecil masyarakat yang justru ingin mendegradasi nilai-nilai tersebut.

Kondisi ini kemudian mengingatkan kembali kepada kita akan pesan pahlawan bangsa, salah satunya Bung Hatta, yang mengatakan, ”Jatuh bangunnya negara ini sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak, dan mencuri kekayaan ibu pertiwi.” Oleh sebab itu, menjadi sangat relevan tema peringatan 10 November 2019 ini: “Aku Pahlawan Masa Kini.” (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button