Ngawi

Aksi Heroik Gunawan Selamatkan Pria Lumpuh di Tengah Kebakaran

Ada kisah heroik di balik ludesnya rumah pasutri Dimo-Wasri kemarin. Gunawan nekat merangsek ke kamar yang telah dijilati api, menyelamatkan Dimo. Sambil menahan panas dia membopong Dimo yang terbaring lemah di dipan.

—————-

HIDUNG langsung tertusuk aroma gosong saat memasuki kawasan RT/RW 07/03, Dusun Gadung, Desa Ngompro, Pangkur, kemarin siang (26/2). Jalan tanah sudah seperti kubangan lumpur basah. Tepat di depan rumah Dimo, tertumpuk beragam perabotan rumah tangga berserakan. Beberapa sudah menghitam jadi arang. Sebagian lagi berwujud puing-puing. Di bekas bangunan utama rumah, kapas kasur berserakan di atas pecahan-pecahan genting.

Dari luar, tampak beberapa orang berbincang di kediaman Gunawan tepat di samping utara rumah Dimo yang rata tanah. Dia duduk dengan sisa-sisa ketegangan di wajahnya. Mengenakan topi SMA kusam, kaus yang dipakainya juga tak luput dari noda arang.

Pantas saja, Gunawan baru selesai berjibaku dengan kobaran api. Selain sebagai yang pertama mengetahui kebakaran, Gunawan juga menyelamatkan Dimo yang lumpuh dari kobaran api. ‘’Sudah dua tahun Mbah Dimo tidak bisa apa-apa,’’ katanya.

Gunawan tidak akan melupakan kejadian yang dialaminya Senin pagi kemarin. Tanpa disadari, dia nekat merangsek begitu saja ke rumah Dimo. Padahal, api sudah menyala-nyala di bagian atap rumah korban.

Saat melihat kobaran api, yang ada di kepala pria 37 tahun tersebut hanyalah keberadaan Dimo yang lumpuh. Lantaran masih terhitung famili, Gunawan hafal betul tempat di mana Dimo biasa tidur. ‘’Setelah tahu kebakaran, saya langsung menuju ke kamar Mbah Dimo,’’ ujarnya.

Api masih berada di atap dapur rumah Dimo saat Gunawan masuk. Kendati begitu, kulitnya sudah merasakan panas. Sesampainya di mulut kamar tidur, matanya mendapati Dimo yang terbaring lemah di dipan dan berselimut. Sementara, panas kian menyengat kulit Gunawan.

Dinding gedhek kamar Dimo, separo dari bawah sudah dirambati api. ‘’Kamar Mbah Dimo gandeng dengan dapur. Posisi dipannya berjauhan dengan gedhek yang terbakar,’’ terang Gunawan.

Sejurus kemudian, Gunawan melangkah mendekati Dimo yang hanya terdiam di tengah kobaran api. Drama terjadi sesaat sebelum dia membopong Dimo. Mulanya, Dimo yang sudah tidak mengenalinya enggan diajak keluar. Sampai dua kali Dimo menolak ajakan Gunawan.

Rangkulan Gunawan berujung berontak dari Dimo. Dengan sedikit paksaan, Gunawan akhirnya berhasil membopong Dimo keluar dari kamar sarat kobaran api. ‘’Pas saya bopong itu masih seperti tidak mau,’’ ujarnya.

Gunawan setengah berlari membopong Dimo, meninggalkan rumah yang sudah terkepung api. Sebuah rumah di mulut gang menjadi tempat Gunawan menitipkan Dimo.

Tak ada yang melihat jingkat kaki Gunawan membopong Dimo. Semua orang di lingkungannya berada di salah satu rumah mempersiapkan hajat pernikahan. Sembari menahan kepanikan, Gunawan berkali ulang berteriak sesaat setelah melepaskan Dimo dari bopongan. ‘’Sekencang-kencangnya saya teriak. Orang-orang di sawah saya teriaki semuanya,’’ tutur suami Jami ini.

Serampung mengeluarkan Dimo dari rumah, kepanikan semakin menjadi-jadi. Api dengan cepat melalap bangunan rumah. Bersama sejumlah warga yang berdatangan, Gunawan ganti berjibaku memadamkan api. Peranti apa saja yang sekiranya bisa untuk ambil air, dipakai. Tidak ketinggalan selang sumur sibel dari area perwasahan juga digunakan. ‘’Sekenanya diambil untuk memadamkan api,’’ ujar ayah satu anak ini.

Atap samping rumah Gunawan tak luput dirobohkan supaya api tidak menjalar. Pun pada atap rumah samping lain dari rumah Dimo. Tidak ada yang berani masuk menyelamatkan perkakas lantaran api kadung membesar. Yang ada hanya bagaimana cara supaya api tidak merembet ke bangunan lain yang berjarak kelewat dekat.

Atap rumah satu sama lain menyambung jadi satu talangnya. Dinding papan kayu rumah Gunawan tak henti diguyuri air. ‘’Tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya rumah-rumah di sini. Untung ada sibel sawah yang besar,’’ ujarnya.

Angin yang cukup kencang dan bahan bangunan rumah yang mayoritas dari kayu membuat api dengan cepat membesar. Gunawan bersama warga lain bahu membahu melakukan upaya pemadaman. Kondisi kepanikan sempat dan nyaris berujung celaka yang lain.

Beberapa warga sempat merasakan setrum saat melakukan upaya pemadaman. Kabel menjulur ke air dan listrik lupa dimatikan. Dua kali Gunawan merasakan setrum kendati tidak begitu kuat. Pun, matanya juga menangkap salah seorang warga yang ketiban kayu saat memadamkan api. ‘’Semuanya sudah habis saat mobil pemadam datang,’’ ujarnya.

Gunawan sama sekali tidak kepikiran bakal terjadi kebakaran seperti itu sebelumnya. Pagi-pagi Gunawan merawat burung peliharaannya. Lantaran tidak ada garapan di sawah, dia berlama-lama memberi pakan dan membersihkan sangkar.

Bunyi gemrotok yang masuk telinga, sempat dikira bahwa Wasri sedang menyangrai kopi. Makin keras terdengar, akhirnya Gunawan keluar rumah dan mengecek. ‘’Api sudah besar di atap dapur rumah Mbah Dimo, langsung saya menuju kamarnya dan membopongnya keluar itu tadi,’’ ujarnya. ***(deni kurniawan/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
               
         
close