Madiun

Akibat Meluapnya Sungai Moneng, 113 KK Terdampak Banjir

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Banjir luapan masih menjadi momok bagi warga sejumlah wilayah Kabupaten Madiun. Tidak terkecuali dua kawasan yang terendam banjir luapan secara berturut-turut pada Senin malam (10/2) dan Selasa dini hari (11/2). Yakni, Desa Kenongorejo, Pilangkenceng; dan Desa Sogo, Balerejo.

Banjir luapan kali pertama menyasar Dusun Telangan dan Kebonduren, Desa Kenongorejo.  ‘’Intensitas hujan tinggi, sungai tidak mampu menampung debit air,’’ kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madiun Muhammad Zahrowi.

Rowi -sapaan Muhammad Zahrowi- menyebut banjir luapan berasal dari Sungai Moneng. Pemicunya kondisi air Waduk Kedungbrubus yang meluber. Bendungan tidak mampu menampung debit air yang meningkat lantaran hujan deras. ‘’Di wilayah yang lebih tinggi, Pegunungan Pandan, diguyur hujan lebat sejak pukul 15.00,’’ ungkapnya.

Senin sekitar pukul 22.00, air mulai masuk ke permukiman warga di Kebonduren. Kemudian, berlanjut ke Telagan sekitar pukul 24.00. Sebanyak 34 kepala keluarga (KK) terdampak. Ketinggian air yang menggenangi rumah mencapai 70 sentimeter. Bersamaan itu mereka mengungsi ke rumah kerabat atau warga lain yang aman dari banjir luapan. ‘’Anggota terjun ke lapangan untuk membantu mengevakuasi warga,’’ ujar Rowi.

Banjir luapan belum berhenti sampai situ. Selasa dini hari giliran Desa Sogo, Balerejo, yang terendam. Beruntung, air tidak sampai masuk rumah warga. Melainkan hanya menggenang di sejumlah ruas jalan desa setempat dengan ketinggian 25 sentimeter. ‘’Pagi harinya, banjir berangsur surut,’’ terangnya.

Banjir luapan juga terjadi di Desa Banaran, Pacinan, dan Simo. Pun, genangan air tidak sampai meluber ke rumah warga. Rowi menyebut, dari dua wilayah kecamatan yang dilanda banjir luapan itu, terdapat 113 KK yang terdampak. ‘’Tidak ada korban jiwa. Kami juga sudah menyalurkan bantuan logistik kepada warga terdampak,’’ bebernya.

Rowi mengatakan, kondisi tersebut perlu segera ditindaklanjuti. Yakni, dengan pembersihan dan pengerukan. ‘’Perlu tindakan bersama. Kami sudah berkoordinasi dengan dinas terkait serta camat dan desa setempat,’’ ujar Rowi.

Selain sungai-sungai besar, saluran irigasi dan sungai kecil tidak boleh dikesampingkan dalam menyikapi banjir luapan. Saat ini pihaknya tengah melakukan pendataan titik-titik prioritas pembersihan dan pengerukan. (den/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button