Madiun

Agus Suharno, Oemar Bakrie Masa Kini, Mengajar di Pedalaman

Ban Motor Bocor di Tengah Hutan saat Hujan

Agus Suharno menjadi guru di SDN Kare 07. Jebolan rekrutmen CPNS 2018 itu bukan mengajar di kelas, melainkan langsung di rumah anak didiknya. Akses menuju ke sana bukan jalanan yang mulus.

===================== 

DENI KURNIAWAN, Madiun, Jawa Pos Radar Caruban

SUDAH biasa Agus Suharno berdiri di atas motor bebek karena jalan makadam yang dilalui. Mengerem mendadak ketika bongkahan batu terlepas dari badan jalan. Tidak jarang tuas gas harus diputar hingga mentok karena roda ban masuk kubangan air. Model berkendara seperti itu dijalani setiap hari. Demi tugas mengajar di rumah tiga muridnya di Dukuh Seran, Desa/Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun. ‘’Dijalani saja dulu, besok-besok pasti akan menuai hasilnya,’’ kata guru SDN Kare 07 itu.

Agus aktif mengajar mulai Juli 2019. Dia tidak mempersoalkan lokasi tugas yang mirip pedalaman di luar Pulau jawa. Menerobos hutan perkebunan kopi dengan jarak tempuh motor sekitar 30 menit dari SDN Kare 06. Itu batas jalan yang lumayan enak dilewati. ‘’Selalu ada sabit di tas saya. Untuk jaga-jaga kalau ada binatang buas,’’ ujar pria 28 tahun tersebut.

Suatu hari ban motor sang “Oemar Bakrie” ini bocor dalam perjalanan pulang mengajar. Mustahil menemukan tukang tambal ban, dia nekat menunggangi kendaraannya dengan ban kempes. Hujan deras yang membuat jalan menyerupai sungai tetap diterjang. Pada akhirnya dia keluar uang lebih banyak untuk mengganti ban roda luar-dalam. ‘’Beberapa bulan kemudian, motor masuk bengkel. Suara mesinnya gembrodog,’’  ungkap warga Desa/Kecamatan Wonoasri itu.

Perjuangan sulit itu sudah diketahui sejak sebelum mendapat surat keputusan (SK) pada Februari 2019. Agus mengajak Via Clara Mukti survei lokasi. Istrinya itu sempat menangis kala melihat kondisi sekolah yang terbengkalai. Orang tuanya juga menangis ketika diajak ke rumah anak didiknya. ‘’Ini namanya pengabdian. Kadang-kadang saya ajak istri menemani mengajar,’’ bebernya.

Agus terkejut mendapati kondisi tiga muridnya itu. Yakni, Eko Umar Abdul Aziz, 17, Usman Roma Widiyanto, 15, dan Galih Bayu Saputra, 10. Usia belasan tahun belum bisa membaca dan menulis. Namun, dalam administrasi, tercatat siswa kelas IV dan V. Mengenalkan alfabet butuh waktu berbulan-bulan. ‘’Sampai sekarang mereka belum lancar dan hafal abjad,’’ ungkapnya.

Membuat siswa dari yang tidak bisa baca-tulis menjadi bisa adalah kewajiban seorang guru. Kesulitan seperti itu dianggap tantangan bagi Agus. Walau terkadang hatinya seperti teriris. Setelah melewati jalan terjal, dia tidak mendapati anak didiknya. ‘’Kabur mereka, mungkin kebiasaan dari pengajar sebelum saya,’’ katanya. ***(cor/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close