Madiun

Agus Setiawan Berbagi Pengalaman 21 Tahun Geluti Seni Barongsai

Prioritaskan Prestasi daripada Tujuan Komersial

Sudah lebih dari dua dekade Agus Setiawan, warga Jalan Barito, Kota Madiun, menggeluti seni barongsai. Kini dia getol mencetak atlet barongsai berprestasi. Bagaimana perjuangannya?

________________________________

ASEP SAYEFUL BACHRI, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

MESKI usianya sudah menginjak 33 tahun, gerakan Agus Setiawan masih tampak lincah saat memainkan fuk san sore itu. Berposisi sebagai pemain belakang, Agus harus menyesuaikan gerakan dengan pemegang kepala barongsai. Pun, tenaganya begitu kuat ketika melakoni atraksi mengangkat pemain depan dan melompat di atas tonggak besi setinggi 1,5 meter. ”Sudah hobi sejak kecil,” kata Agus.

Momen tersebut terlihat saat pria yang akrab disapa A Kong itu latihan di depan rumahnya di Jalan Barito. Hal itu dilakukan menjelang beraksi dalam pertunjukan barongsai memeriahkan tahun baru Imlek mendatang. ”Belakangan ini banyak permintaan main. Salah satunya di acara pembukaan Peceland Chinese New Year Festival,” ujar pimpinan kelompok barongsai Xia Dragon Lion Dance Association Madiun itu.

A Kong belajar barongsai sejak 1998 saat masih berusia 12 tahun. Gerakan barongsai yang banyak mengadaptasi beladiri membuat dia cepat menguasai seni tradisional asal Tiongkok itu. ”Sebelumnya sudah belajar kungfu, jadi tidak butuh waktu lama untuk adaptasi,” tutur warga asli Kota Madiun itu.

Kala itu, A Kong kebagian menjadi pemain depan lantaran tubuhnya yang masih terbilang kecil. Baru setelah duduk di kelas X SMA dia digeser menjadi pemain belakang. ”Pemain belakang harus lebih kuat, karena tugasnya mengangkat pemegang kepala barongsai,” ungkapnya.

Kesenangannya pada barongsai membuatnya tetap terus berlatih saat kuliah di Surabaya pada 2004 silam. Di sisi lain, ayah empat anak itu rajin ikut pelatihan untuk mengetahui gerakan barongsai terbaru. ”Semua pelatihan itu berbayar,” tuturnya.

Keseriusannya dalam mendalami barongsai berlanjut hingga pascalulus pada 2008. Saat itu dia memutuskan menjadi pelatih salah satu kelompok di Rungkut, Surabaya. Di sela-sela kesibukannya bekerja, A Kong melatih setiap akhir pekan. A Kong sejatinya sudah merintis kelompok barongsai sejak 2010 di Surabaya. Namun, keputusannya pulang ke Kota Madiun pada tahun itu membuat grup tersebut akhirnya vakum. Dia baru kembali merintis kelompok barongsai pada akhir 2017.

Kelompok yang dirintisnya itu sudah beberapa kali berhasil memenangi kejuaraan. Dua tahun lalu, misalnya, memperoleh juara kategori tonggak di kejurda. Kemenangan itu mengantar kelompok barongsainya mewakili Jawa Timur dalam ajang kejurnas di Padang.

Kelompok barongsai yang dipimpinnya memang lebih fokus pada kejuaraan. Sejak awal A Kong getol menanamkan kepada anak didiknya untuk meraih prestasi daripada tujuan komersial. Pun, dia membuka pintu lebar-lebar bagi siapa pun yang ingin menjadi atlet barongsai. Tidak terbatas pada warga keturunan Tionghoa. ”Penyisihan PON Papua besok kelompok saya ikut,” imbuhnya.

Namun, usahanya melestarikan kesenian tradisional itu bukan tanpa halangan. Selama rezim Orde Baru berkuasa, kelompoknya harus berlatih dengan sembunyi-sembunyi. Pun, memasuki era 2000-an, alat barongsai sulit dicari di pasaran. ‘’Makanya, saya memutuskan bikin sendiri alat barongsai. Bahannya ala kadarnya. Misalnya, harusnya pakai rotan diganti bambu,” ujarnya. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button