Madiun

Adi Suprayitno Telurkan Puluhan Buku Pendidikan

SEMUA GAGASAN MELALUI RISET PANJANG

Adi Suprayitno lekat dengan anak didiknya di SMAN 6 Kota Madiun. Dia dekat dengan semua muridnya, termasuk dengan siswa paling bandel sekalipun. Dia juga dikenal sebagai guru yang produktif menulis. Puluhan buku telah dipersembahkannya untuk dunia pendidikan.

=========================

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

BEL tanda istirahat terdengar hingga sepenjuru ruangan SMAN 6 Kota Madiun. Guru-guru menutup pertemuan. Siswa berhamburan keluar kelas. Di sela-sela itu Adi Suprayitno duduk di bawah pohon halaman sekolah. Dia tampak asyik ngobrol dengan beberapa siswanya. Tidak ada sekat antara guru dan murid. Siswa pun tak sungkan menceritakan berbagai masalahnya. Akrab sekali.

Selain rajin menampung keluh kesah siswa, Adi pun kerap menjadi tempat curahan hati teman-teman gurunya. Terutama saat menghadapi kendala dalam proses pembelajaran. Justru dari situlah Adi mendapat berbagai pengalaman. Memperkaya idenya. Masalah-masalah itu dia kumpulkan dan menjadi lahan menulis buku. ‘’Ada masalah saat pembelajaran, misalnya, kalau bisa saya jawab saya sampaikan. Tapi kalau belum pasti, saya cari referensi,’’ terangnya.

Konsistensi Adi meluangkan waktu delapan jam sehari untuk menulis berbuah manis. Berbagai penghargaan berhasil dia raih. Mulai juara I lomba Keberhasilan Guru Tingkat Nasional Kemendikbud 2004 dan 2005 hingga juara II Guru Teladan Kota Madiun 2014. Biasanya guru geografi SMAN 6 Kota Madiun itu mulai menulis pukul 18.00-02.00. Di jam itu menurutnya waktu paling baik menuangkan gagasan ke dalam tulisan. ‘’Kalau mandek cari inspirasi lagi,’’ ungkapnya.

Mengawali menulis sejak 1998 silam, kini puluhan buku berhasil dia terbitkan. Mulai Pedoman PTK untuk Berkarya, Buku Geografi Kelas X, Buku Geografi Kelas XI, Guru Berkarya lewat PTK, Buku Geografi Kelas XII, Model-Model Pembelajaran untuk PTK, Kiat Sukses ke Pangkat IV-E melalui Buku Referensi bagi Guru, Supervisi Akademik bagi Guru, Pedoman Penyusunan dan Penulisan Jurnal Ilmiah bagi Guru, hingga buku terbarunya berjudul Pedoman dan Penyusunan Pengembangan Diri bagi Guru. Seluruh karyanya dia persembahkan untuk dunia pendidikan. ‘’Karena tantangan ke depan guru itu berat. Apalagi menghadapi era revolusi industri 4.0,’’ ujar pria kelahiran Bojonegoro, 1963 silam itu.

Perjalanan kepenulisan itu harus melalui jalan panjang dan berliku. Apalagi Adi belajar menulis secara otodidak. Dia masih ingat betul buku pertamanya tentang pedoman kenaikan pangkat bagi guru yang dia tulis 2001 lalu, dua kali ditolak penerbit. Meski demikian, Adi tidak menyerah. Dia kembali merevisi buku itu dan dikirim kembali ke penerbit. Perjuangannya berbuah manis. Buku pertamanya terbit. Sejak itulah dia semakin tahu penyusunan buku yang layak diterbitkan. ‘’Jadi sebuah pelajaran penting. Karena ternyata tidak asal menulis. Harus ada standar yang dipenuhi,’’ bebernya.

Kendala lain ketika itu sulitnya mencari referensi. Karena itu, Adi sering berburu referensi. Seperti Jogjakarta, Surabaya, Malang, hingga Jakarta. Tiap kali memiliki gagasan, dia sempatkan berburu referensi ke luar kota. Sementara seluruh ide kepenulisan dia dapatkan dari pengalaman ngajar sejak 1987 silam. Kali pertama, dirinya menjadi guru di SMAN 1 Paciran, Lamongan. Selanjutnya dimutasi ke SMAN 6 Kota Madiun 1997 hingga sekarang. ‘’Meski seharusnya waktu dijadikan istirahat, itu tidak masalah,’’ ucap suami ThM Susi Ismawati itu.

Menulis setiap saat tak membuat kinerjanya sebagai guru menurun. Justru melejitkan kreativitas untuk diaplikasikan dalam pembelajaran. Terlebih menyambung ikatan batin terhadap murid-muridnya. Hal itu menurutnya penting karena dapat mengenali karakter masing-masing siswa. Sehingga nantinya dalam penerapan strategi pembelajaran disesuaikan dengan karakter siswa yang beragam. ‘’Justru kalau tidak menulis itu yang malah pusing,’’ tuturnya.

Terbukti Adi cukup dikenal dekat dengan siswanya. Terutama siswa yang bandel dalam tanda kutip. Biasanya guru lain memberikan penilaian berbeda terhadap siswa demikian. Namun, dia justru mendekati mereka dengan gaya slengekan. Dari komunikasi intens itu Adi mampu memahami permasalahan siswa tersebut. Pun dibimbing dengan mengangkat potensinya. ‘’Dari situ justru bisa memahami dan lebih mengenal karakter mereka,’’ imbuh warga Perum Bumi Mas I, Mojorejo, Taman, Kota Madiun, itu.

Selain itu, gagasan yang dia tuangkan dalam tulisan seolah menjadi pengingat. Terutama untuk dipraktikkan dalam rangka pengembangan kualitas guru. Seluruh gagasan yang sudah dia publikasikan, jika tidak dia praktikan terlebih dahulu, menurutnya sama saja bohong. Hemat kata, dia memberikan contoh terlebih dahulu sebelum menerbitkan gagasannya dalam buku. ‘’Guru harus menjadi contoh, termasuk tulisan itu merupakan potret pribadi. Semua gagasan yang disampaikan melalui kajian dan riset panjang,’’ ucapnya sembari menyebut selain menulis buku juga kerap mengisi jurnal ilmiah nasional dan internasional. *** (fin/c1)

Guru Itu Abadi, Jasanya Tidak Terganti

GURU harus merdeka. Jangan sampai guru terjebak dengan urusan administrasi di atas kertas. Terlebih guru berurusan dengan proyek saat pembangunan sarana prasarana sekolah.

Rektor Universitas PGRI Madiun (Unipma) Parji memperingatkan pemerintah melalui otonomi daerah harus menelurkan kebijakan dengan mempertimbangkan manajemen berbasis sekolah (MBS).

Guru harus merdeka dalam arti sebenarnya. Yakni, harus mampu mengasah kreativitas dan terus berkarya. Tidak hanya melulu terjebak dengan urusan administrasi di atas kertas. Disibukkan dengan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), silabus, dan perangkat pembelajaran lain. ‘’Lebih kepada substansinya dalam menyiapkan generasi mendatang. Tantangan guru ke depan semakin berat,’’ kata Parji.

Dia menambahkan, semakin ke sini guru semakin dibebani urusan administrasi. Sehingga mereka disibukkan dengan tugas di atas kertas ketimbang berinovasi. Apalagi MBS saat ini belum efektif. Karena seolah sekolah dianggap unit birokrasi. ‘’Ini penting untuk dipikirkan. Peran pemerintah daerah sangat besar di sini,’’ ujarnya.

Di era ini, penguasaan teknologi menjadi panglima. Transfer pengetahuan bisa dilakukan dengan kemajuan teknologi. Karena itu, guru diharapkan tak hanya mampu mentransfer pengetahuan. Melainkan harus mampu mentransfer karakter. ‘’Karena itu, transfer karakter itu tidak dapat digantikan mesin,’’ lanjutnya.

Guru juga harus memformulasikan setiap strategi, metode, teknik, dan taktik pembelajaran. Dalam menyiapkan peserta didik pada tiga ranah utama. Yakni, literasi data atau base data, literasi teknologi, serta literasi humanity atau yang biasa disebut karakter. ‘’Tentu setiap guru perlu mendapatkan pelatihan, pendampingan, terkait tuntutan masa depan,’’ tuturnya.

Sehingga, guru saat ini wajib melek teknologi informasi. Melalui penguasaan itu, semakin memudahkan dalam membekali siswa soft skill. Apalagi tuntutan generasi mendatang tidak sekadar hard skill. ‘’Pendek kata, indikator saat ini tidak hanya akademik tapi juga non-academic achievement yang terkait dengan komunikasi, kejujuran, kemampuan analisis, kolaborasi, dan lain-lain,’’ paparnya.

Sebagaimana gagasan Kemendikbud Nadiem Makarim. Bahwa pentingnya penguasaan bahasa asing, teknologi informasi, karakter, aspek psikologi, dan statistika. Melalui bekal itu, guru siap mencetak generasi mendatang di era yang juga sering disebut era disrupsi. ‘’Guru itu abadi. Jasanya tidak akan pernah tergantikan dan tak lekang oleh waktu. Dikenang sepanjang masa,’’ ujar Parji.

Selain itu, terpenting membangun ikatan batin antara guru dengan peserta didik. Menurutnya itu menjadi kunci keberhasilan proses pembelajaran. Akhirnya, di pundak guru masa depan bangsa bertumpu. ‘’Selamat hari guru, jangan sampai lelah berkarya dan meningkatkan kreativitas,’’ ucapnya. (kid/c1/fin) 

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button