Madiun

Ada Warga Madiun di KRI Nanggala-402

KRI Nanggala-402 dilaporkan hilang kontak di perairan Bali, Rabu (21/4). Berjarak sekitar 95 kilometer arah utara Pelabuhan Celukan Bawang. Sebanyak 53 personel matra laut berada di dalam kapal buatan Jerman tersebut. Salah seorang di antaranya adalah Serda Diyut Subandriyo yang berdomisili di Jalan Salak, Kelurahan/Kecamatan Taman.

————————————–

PANDANGAN Helen sulit lepas dari layar kaca seharian Kamis (22/4). Perempuan 37 tahun itu dengan sabar menanti kabar perkembangan pencarian KRI Nanggala-402 yang dilaporkan hilang kontak di perairan Bali pada Rabu lalu (21/4).

Tak cukup sampai disitu. Sesekali tatapan matanya beralih memandangi layar handphone yang sedari awal dipeganginya. Siapa tahu ada pesan penting masuk dari kesatuan tempat Serda Diyut Subandriyo, suaminya bertugas. Helen memastikan pria yang menikahinya pada 2009 lalu itu berada dalam KRI Nanggala-402. ‘’Seharian saya tidak tidur. Terus memantau perkembangan pencarian KRI Nanggala-402 lewat televisi,’’ katanya.

Kini setelah sehari berlalu sejak kapal selam buatan Jerman tersebut dilaporkan lost contact di perairan Bali, Helen bersama dengan dua ibu dan dua orang anaknya hanya bisa memanjatkan doa. Mengharapkan mukjizat. ‘’Semoga semua masih bisa ditemukan selamat,’’ harap Helen kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Helen menuturkan terakhir berkomunikasi dengan suaminya pada Selasa (20/4) sekitar pukul 22.00. Ketika itu Diyut menanyakan kondisi kedua anaknya dan sedikit berkeluh kepada Helen. ‘’Waktu mau layar itu cuma bilang nda (bunda) minta doanya ya. Kata itu diucapkan berkali-kali. Sempat juga saya WA untuk membangunkan sahur (pukul 03.00), tapi sudah centang satu,’’ ungkapnya.

Bagi Helen apa yang dilontarkan suaminya tersebut tak seperti biasanya. Tapi, dia mencoba menguatkan hati Diyut. Dia berpesan kepada suaminya itu untuk tak lupa berdoa saat menjalankan tugas negara tersebut. ‘’Kalau firasatnya ya ada. Rasa nggak enak di hati. Cuma, saya meyakinkan dirinya bahwa tidak akan ada apa-apa,’’ terang Kepala MI Darul Ulum Taman itu.

Sementara, dia mengaku terakhir kali jumpa dengan suaminya, Minggu lalu (18/4). Saat itu Diyut diberikan izin oleh atasannya untuk pulang ke rumah bertemu keluarga sebelum menjalankan tugas keesokan harinya. Kesempatan itu digunakan Diyut untuk mengantarkan anak bungsunya terapi saraf.

Helen juga sempat mengantarkan Diyut kembali ke Surabaya naik bus di Terminal Purbaya. Bahkan, dirinya menemani Diyut masuk ke dalam terminal sampai naik ke dalam bus. ‘’Biasanya kalau ngantar cuma sampai depan terminal. Tapi, Minggu lalu itu diizinkan sampai ke dalam terminal hingga busnya jalan. Kemudian saya bacakan Al-Fatehah,’’ katanya.

Di mata Helen, Diyut merupakan sosok laki-laki penyayang dan suami yang pengertian. Terutama kepada kedua anaknya yang berusia 5 dan 11 tahun. Helen mengaku setiap kali telepon yang ditanyakan Diyut lebih dulu adalah kondisi anak mereka.

Selain itu, Diyut juga dikenal sebagai anak yang patuh kepada orang tua. Setiap kali akan berlayar, Diyut selalu sungkem kepada ibunya yang tinggal di Gang Menco, Kelurahan Nambangan Lor, Kecamatan Manguharjo. ‘’Sesuai rencana malam nanti (kemarin, Red) saya akan ke Surabaya untuk memantau perkembangan di sana,’’ kata Helen. (her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button