MadiunPendidikan

9 SDN Penuhi Pagu, 3 SMPN Minim

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Hingga pengumuman resmi hasil penerimaan peserta didik baru (PPDB) Selasa (7/7), sekitar 70 siswa lulusan SDN belum terdaftar di SMPN. Selain itu, tercatat hanya sembilan SDN yang pagunya terpenuhi 100 persen. Sedangkan SMPN, terdapat tiga sekolah kekurangan siswa.

Kabid Pendidikan Dasar (Pendas) Dindik Kota Madiun Slamet Hariyadi membeberkan, 10 persen dari total 56 SDN mendapat siswa di bawah 10 persen dari pagu. Sementara 29 persen SDN di bawah 20 persen. Untuk jenjang SMPN, SMPN 9, 12, dan 14 kekurangan siswa. ‘’SMPN 9 80 persen dari pagu, SMPN 12 75 persen, dan SMPN 14 sekitar 65 persen dari pagu,’’ kata Hariyadi.

Pihaknya bakal membuka opsi pendaftaran offline untuk memfasilitasi lulusan SDN yang belum terdaftar di SMPN. Diarahkan ke tiga SMPN yang belum memenuhi pagu tersebut. ‘’Begitu juga dengan SDN, nanti kami buka pendaftaran offline,’’ ujarnya.

Pendaftaran offline juga dibuka bagi siswa dari luar kota. Sesuai rencana, dibuka hingga 10 Juli mendatang. Pun tidak menutup kemungkinan diperpanjang hingga tahun ajaran baru pada 13 Juli mendatang. ‘’Jika belum terpenuhi, offline di awal tahun ajaran baru akan dibuka,’’ terang Hariyadi.

Dia mengklaim pemenuhan pagu tahun ini telah memenuhi zonasi yang diisyaratkan Permendikbud. Artinya, masyarakat telah mendapat akses pendidikan sesuai zona tempat tinggal. Yakni, 80 persen untuk jenjang SDN dan 50 persen untuk SMPN. ‘’Evaluasi pertama, tahun ini cukup lebih baik dibanding tahun sebelumnya,’’ sebutnya.

Sebagai bukti, tahun ini menyisakan tiga SMPN yang belum memenuhi pagu zonasi. Sementara tahun lalu terdapat tujuh SMPN. Untuk jenjang SDN, tahun lalu yang mendapat siswa di bawah 10 persen dari pagu ada 17 sekolah. Tahun ini enam sekolah. ‘’Tentu ini akan jadi kajian dan evaluasi,’’ ungkapnya.

Terpisah, Sekretaris Dindik Kota Madiun Sri Marhaendra Datta mengaku persoalan klasik ini cukup sulit diurai. Sebab, masih terdapat sekolah langganan kekurangan siswa. Contohnya, SDN Sukosari. Padahal, sekolah itu satu-satunya SDN di Kelurahan Sukosari. Sehingga, jadi kendala jika di-regrouping. ‘’Sebaliknya, di Kelurahan Madiun Lor terdapat lima SDN yang terpenuhi pagu semuanya. Nanti kami evaluasi agar seimbang,’’ beber Marhaendra.

Menurut dia, ketimpangan itu menandakan sekolah favorit masih melekat di paradigma orang tua. Padahal dindik telah menempuh berbagai cara. Mulai peningkatan kualitas guru melalui pelatihan dan webinar hingga me-rolling guru seluruh sekolah. ‘’Anggapan sekolah favorit itu masih ada, padahal gurunya sudah kami rolling. Nyatanya, sekolah yang dalam tanda kutip dicap pinggiran dapat menorehkan prestasi tingkat nasional,’’ ungkapnya.

Mulai hari ini hingga tiga hari ke depan (8-10/7) merupakan jadwal daftar ulang bagi siswa yang diterima. Untuk menghindari kerumunan, dindik telah mengatur sehari tiga sif. Setiap sif 30 siswa. Dindik juga meminta seluruh sekolah mematuhi protokol kesehatan. (kid/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close