Bupati Menulis

KETIKA saya membaca buku karangan Snouck Horgronje (1857-1936) yang berjudul Orang Aceh yang ditulis relatif singkat setelah mengunjungi Aceh selama delapan bulan antara 16 Juli 1891 sampai 4 Februari 1892, sungguh terkesima. Dalam kurun waktu yang singkat tersebut sudah mampu menulis sebuah buku yang aslinya berjudul De Atjehers sangat rinci. Buku ini ditulis dalam bahasa Belanda sebanyak dua jilid kemudian diterbitkan tahun 1893.

Studi etnografi Snouck Horgronje tersebut dan saran lainnya terbukti diantaranya dapat mengubah sejarah Belanda dalam menaklukkan Aceh. Tentu studi yang relatif singkat tersebut memerlukan data dari para informan dalam membuat tulisannya yang demikian tebal dan sangat rinci. Saya sendiri membaca buku yang demikian tebal tersebut, sangat kagum dalam ketelitian dan kedalam tulisannya. Dimana waktu itu sarana dan prasarana masih sangat terbatas, sudah mampu menulis karya yang luar biasa tersebut.

Namun saya dibuat lebih kagum lagi ketika membaca buku The History of Java karangan Thomas Stamford Raffles yang pernah menjadi Gubernur Jenderal di Jawa tahun 1811-1816. Berbeda dengan buku karangan Snouck Horgronje sebagai studi etnografi yang sangat minim angka. Maka buku Thomas Stamford Raffles yang berjudul The History of Java tersebut sangat sarat dengan data yang demikian rincinya.

Sampai-sampai catatan ekspor dan impor saja juga ada. Apalagi informasi berupa angka tentang jumlah penduduk tentu juga tersedia. Catatan tersebut tentu akan sangat berguna bagi pembuatan kebijakan tentunya. Baik pada masa itu, maupun masa sekarang. Untuk masa penjajahan, tentunya kebijakan yang diambil untuk kepentingan penjajah. Sedang pada masa sekarang dapat sebagai sumber informasi untuk pembuatan kebijakan di masa sekarang minimal bisa sebagai pembanding.

Buku ketiga yang membuat lebih spesifik dilingkup Eks Karesidenan Madiun adalah buku karya Ong Hok Ham yang berjudul Madiun dalam Kemelut Sejarah. Buku yang awalnya dari sebuah disertasi yang telah dipertahankan di Yale University USA telah terbit dan sungguh menjadi sumber menarik khususnya untuk warga kabupaten Eks Karesidenan Madiun.  Tentu termasuk Kabupaten Magetan.

Selain narasi yang menjadi catatan sejarah. Data-data yang ditampilkan sungguh menarik. Selain mulai dari gaji bupati sampai jumlah penduduk tercatat dengan baik dan jelas sumbernya. Ambil contoh tahun 1880 penduduk Karesidenan Madiun masih 992.184. Dan tahun 1900 telah berubah menjadi 1.227.761. Sedang Magetan sendiri tahun 1880 jumlah penduduknya 159.394 dan tahun 1900 telah menjadi 264.991.

Tentu data tersebut belum selengkap kebutuhan sekarang. Namun saya yakin pemikiran untuk mendapatkan data yang valid, tentu pasti sudah ada. Hanya karena berbagai kendala menyebabkan keinginan itu belum bisa terwujud. Baru pada tahun 1930 di jaman penjajahan Belanda dilakukan sensus penduduk resmi yang pertama. Dalam sensus penduduk yang pertama ini masih sederhana. Selain jumlah penduduk, kompoisis migrasi keluar dan masuk, penyebaran penduduk per wilayah juga telah dijabarkan lebih rinci.

Setelah Indonesia merdeka, telah enam kali dilakukan sensus penduduk. Sensus penduduk setelah merdeka dilakukan yang pertama pada tahun 1961. Kemudian disusul berturut-turut pada tahun 1971, 1980, 1990, 2000, 2010. Timbul pertanyaan mengapa harus ada sensus penduduk. Sensus penduduk tujuan diantaranya adalah sebagai bahan perencanaan dan evaluasi pembangunan. Dengan sensus penduduk dapat direncanakan pembangunan jalan, sekolah, rumah sakit, program-program lainnya untuk kesejahteraan masyarakat banyak. Bagaimana mungkin kita dapat merencanakan pembangunan bila tidak ada yang akurat sebagai pegangan. Tentu akan sangat sulit sekali.

Karena sensus penduduksalah satunya bertujuan untuk perencanaan dan evaluasi pembangunan, maka diperlukan partisipasi seluruh masyarakat Indonesia agar hasilnya akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Kalau hasilnya baik, tentu turunannya akan baik. Seperti kalau digunakan untuk perencanaan akan membawa akibat perencanaan yang baik. Tentu karena informasinya baik. Apalagi dalam sensus sebesar dan seluas negara Indonesia ini diperlukan biaya dan tenaga yang sangat besar.

Badan Pusat Statistik (BPS) yang memang bertanggung jawab terhadap tugas pemerintahan dibidang statistik, telah melakukan persiapan secara matang. Yang unik untuk sensus tahun 2020 menggunakan dua metode. Adapun dua motode tersebut adalah metode manual dan online. Saya kemudian jadi ingat pilkades yang dilakukan kemarin di Magetan. Juga menggunakan dua metode. Memakai metode manual dan e-voting haaaaaaa. Tentu dalam metode manual, pelaksanaan sensus dengan cara petugas sensus mendatangi yang akan disensus satu-persatu. Atau kita sering mendengar mendatangi rumah ke rumah (door to door).

Waktunya juga berbeda. Untuk yang online sensus mulai tanggal 15 Pebruari 2020 kemarin sudah dimulai. Dan berakhir tanggal 31 Maret 2020. Saya sendiri sudah mengisi kemarin. Cukup mudah untuk mengisi secara online. Apalagi bagi anak melineal yang sudah akarab dengan teknologi. Akan amat mudah.

Apalagi lewat online bisa dilakukan via komputer, laptop, tablet maupun hp. Tentu semua perangkat tersebut terhubung dengan internet. Sangat memudahkan. Yang perlu dipersiapkan diantaranya kartu tanda penduduk (KTP), KSK, surat nikah, alamat dsb. Seperti pengalaman saya, karena anak-anak saya sekarang sudah berpisah, artinya sudah mandiri. Tentu saya tidak hafal yang namanya rumahnya jalan apa, kecamatan mana, desa atau keluarahan apa. ditambah juga ditanyakan RT dan RW segala. Apalagi anak saya yang nomer dua domisili di Washington DC USA.

Kalau menghadapi hal demikian jangan risau. Kita tetap bisa mengisi secara online walaupun tidak bisa tuntas selesai. Pengisian untuk sensus tersebut dapat disimpan sementara. Tetapi pesan saya jangan dikirim dulu kalau pengisian belum selesai. Sekali lagi jangan dikirim dulu. Mencari data dulu secara lengkap, dan setelah diisi kembali dan lengkap baru dikirim. Karena kalau sudah dikirim tidak bisa diperbaiki. Dan ingat batas waktunya sampai tanggal 31 Maret 2020. Bagi yang akan akan melakukan sensus secara online bisa akses melalui: sensus.bps.go.id.

Kita tahu belum semua masyarakat kita melek teknologi. Juga sadar akan pentingnya memberikan data kalau semua harus melalui online, sehingga secara sukarela mau mengisi. Oleh sebab itu metode manual tetap dilakukan. Adapun metode manual akan dilaksanakan pada bulan Juli 2020. Malahan rencananya BPS akan merekrut petugas sensus sebanyak 320.000 orang petugas untuk membantu pelaksanaan sensus ini. Tentu sebelumnya perlu pelatihan dulu.

Saya tentu sebagai Bupati sangat antusias mendukung sensus penduduk 2020 ini. Karena hasilnya nanti salah satunya untuk perencanaan dan evaluasi pembangunan di Magetan. Salah satu contoh saja. Coba bayangkan tahun 1880 sd 1900 jumlah penduduk di Magetan dua kali lipat selama 120 tahun. Kok ya kebetulan tahun 2020 ini kalau ditung dari titik 1900 juga 120 tahun. Apakah juga menjadi dua kali lipat. Ternyata tidak. Malahan sudah hampir tiga kali lipat selama kurun waktu 120 tahun. Karena penduduk Magetan saat ini berkisar antara 700.000 orang. Tentu angka pastinya nanti hasil dari sensus penduduk 2020. Namun saya yakin kalau angkanya sudah lebih dari itu.

Dengan jumlah penduduk sebanyak itu, kemudian dari waktu ke waktu akan terus bertambah tentu mulai sekarang kebijakan harus visioner. Artinya tidak hanya memikirkan saat sekarang tetapi juga memikirkan masa yang akan datang. Yaitu anak cucu kita yang mempunyai hak yang sama dengan kita. Oleh sebab itu mari sukseskan sensus penduduk 2020. Sensus penduduk sukses akan diperoleh data yang valid dan pada gilirannya penanganan permasalahan di Indonesia akan semakin tepat.

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close