Madiun

18 Pengusaha Belum Punya Hak Paten Brem

MEJAYAN – Wacana menjadikan usaha brem di Desa Kaliabu, Mejayan, Kabupaten Madiun, sebagai wisata edukasi masih jauh dari garis finis. Konsep untuk 20 home industry brem di desa itu agar bisa menyerupai kawasan produksi bakpia di Jogjakarta belum dibarengi dengan fasilitas yang memadai. ‘’Belum ada progres berarti dari pelatihan pengolahan tahun lalu,’’ kata Supriadi, salah seorang pelaku usaha brem.

Menurut Supriadi, permasalahan ada pada sistem pengolahan. Selama ini, banyak yang masih memakai cara tradisional dengan menggunakan tungku. Jumlah brem yang dihasilkan lebih sedikit tapi ongkos lebih banyak. Namun, bila sudah menggunakan cara modern dengan kompor, biaya operasional bisa terpangkas. Kuantitas pun lebih banyak. ‘’Kalau kualitas saya yakin tidak kalah dengan produk asal daerah lainnya,’’ ujarnya.

Dalam sehari, Supriadi bisa memproduksi lebih dari 20 kilogram brem. Selain dijual sendiri, dia juga memasok pesanan untuk pengusaha yang sudah punya brand. Nah, persoalan branding dan hak paten produk itu membelenggu puluhan produsen brem di desanya. ‘’Pamor kami kalah dengan Kota Madiun,” ucapnya kepada Radar Caruban.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro (Disperdakop-UM) Kabupaten Madiun Anang Sulistyono menyatakan, dukungan untuk Kaliabu tidak pernah kendor. Upaya menjadikannya sebagai desa wisata edukasi masih masuk dalam agenda kerja. Dinas pariwisata pemuda dan olahraga (disparpora) pun sengaja digandeng. Di sisi lain, pelatihan pengolahan 20 home industry juga tidak berhenti demi menunjang kualitas. ‘’Agar bisa menyuguhkan proses yang higienis ke wisatawan,’’ ujarnya.

Anang mengungkapkan, ada dua dari 20 produsen brem Kaliabu. Karena baru dua pengsuaha itu yang dinyatakan layak. ‘’Kami fasilitasi hak paten, tapi standardisasi juga harus dipenuhi,’’ tandasnya. (fat/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button