Pacitan

169 Pelanggar Protokol Kesehatan Ditindak

24 September Berlakukan Sanksi Denda

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Pelanggaran protokol kesehatan pencegahan Covid-19 masih mudah ditemukan di Pacitan. Hasil analisis dan evaluasi satpol PP menunjukkan ada 192 pelanggar selama Agustus dan September. ‘’Paling banyak tidak memakai masker saat keluar rumah,’’ kata Plt Kasatpol PP Pacitan Sugeng Widodo Minggu (6/9).

Temuan itu ditindaklanjuti dengan sejumlah sanksi. Seperti menghafalkan Pancasila, menyanyikan lagu nasional, dan menyapu tempat umum. ‘’Tapi, akhir-akhir ini jumlah pelanggar sudah menurun. Bahkan dalam sehari terkadang kita hanya menemukan enam pelanggaran,’’ ujar pria yang juga menjabat staf ahli bupati bidang politik, hukum, dan pemerintahan tersebut.

Sugeng mengatakan bahwa anggotanya telah disebar ke berbagai penjuru wilayah. Mereka memantau kedisiplinan protokol kesehatan. Paling utama pemakaian masker. ‘’Mulai 24 September, pengusaha yang mengabaikan penggunaan masker dikenai denda Rp 500 ribu. Sedangkan, warga didenda Rp 50 ribu,’’ ungkap mantan camat Arjosari itu.

Namun, dia menyebut pemberlakuan sanksi denda itu tidak dipukul rata. Besarannya tergantung seberapa berat pelanggaran yang dilakukan. Semisal jika sebelumnya pernah dikenai peringatan sampai tiga kali. ‘’Setiap pelanggaran kami catat datanya. Baik itu secara personal maupun unit usaha. Kalau didapati sudah melanggar 2–3 kali, baru kami kenai denda,’’ jelas Sugeng. (gen/c1/her)

Lima Kasus Impor, Satu Transmisi Lokal

KASUS impor menjadi problem yang sulit dikendalikan oleh Tim Gugus Tugas Penanggulangan (TGTP) Covid-19 Pacitan. Pada Sabtu  lalu (5/9) mereka melaporkan tambahan enam pasien baru terkonfirmasi. Lima pasien di antaranya merupakan imported case. ‘’Mereka mempunyai riwayat perjalanan dari Sidoarjo, Surabaya, dan Jakarta,’’ kata Jubir TGTP Covid-19 Pacitan Rachmad Dwiyanto Minggu (6/9).

Beberapa pasien kasus impor itu tersebar di sejumlah wilayah. Dua pasien dari Desa Bangunsari, Kecamatan Pacitan; serta masing-masing satu pasien asal Desa Ploso, Kecamatan Tegalombo; Desa Sooko, Kecamatan Punung; dan Desa Ngumbul, Kecamatan Tulakan. ‘’Yang dari Ngumbul, Tulakan, belum kami ketahui penularannya dari mana. Saat ini masih kami tracing,’’ terang kepala diskominfo itu.

Sedangkan, satu kasus baru lainnya merupakan transmisi lokal. Dia merupakan kerabat dari pasien ke-84. Dari hasil penelusuran dinkes, yang bersangkutan diduga terpapar korona setelah pulang ke Desa Arjowinangun, Kecamatan Pacitan. ‘’Total sampai kini ada 93 kasus dengan 12 orang masih dirawat,’’ ungkap Rachmad. (gen/c1/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close