Magetan

168 Kasus Positif Covid-19 Magetan, Masyarakat Belum Disiplin

MAOSPATI, Radar Magetan – Penularan Covid-19 terhadap tenaga pendidik di Magetan terus meluas. Kamis (6/8) seorang guru SD di Kecamatan Maospati terkonfirmasi positif Covid-19.

Ketua Tim Penanggulangan Covid-19 Dinas Kesehatan (Dinkes) Magetan Didik Setyo Margono mengungkapkan, seluruh orang yang punya kontak erat dengan pasien ke-168 itu dites swab.  “Sampel dikirim ke laboratorium,” katanya.

Tiga orang positif korona Rabu (5/8). Dua di antaranya terungkap hasil pelacakan kontak erat pasien positif sebelumnya. Yakni, pasien ke-165 asal Kecamatan Karangrejo dan pasien 167 asal Kecamatan Plaosan.

Sementara, sumber penularan pasien ke-166 belum diketahui. Gadis 19 tahun dari Bendo itu awalnya menjalani rapid test. Karena reaktif, ditindaklanjuti swab dengan hasil positif. ‘’Penambahan ini menandakan masyarakat belum disiplin menjalankan protokol kesehatan,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Magetan Saif Muchlissun.

Muchlis menyebut, sembilan pasien asal Kecamatan Plaosan sembuh. Namun, mereka harus isolasi mandiri. Perkembangannya dipantau petugas medis. ‘’Belum boleh beraktivitas seperti biasa,” ujarnya. (bel/c1/cor)

Mantan Pasien Ke-132 Ragukan Konfirmasi Positif Covid-19

SUJINAH, 55, warga Desa Giripurno, Kawedanan, Magetan, meragukan klaim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 yang menyatakan dirinya sebagai pasien ke-132. Tempo penyerahan surat keterangan hasil swab yang selalu molor menjadi musababnya. ‘’Dinas kesehatan (dinkes) dan GTPP Covid-19 terkesan ada permainan,’’ katanya Kamis (6/8).

Sujinah mengungkapkan, konfirmasi dirinya positif bermula ketika menjemput keponakannya yang punya riwayat penyakit asma dari Surabaya. Belakangan, saudaranya itu dinyatakan positif korona. Sehingga dirinya masuk lingkaran pelacakan kontak erat. Hasil uji cepat yang reaktif membuatnya harus di-swab pada 14 Juli. ‘’Dari empat anggota keluarga, hanya saya yang hasilnya positif,’’ ujarnya.

Menurut dia, terdapat keanehan dalam proses pengambilan sampel lendir dari hidung dan tenggorokan itu. Surat keterangan hasil pemeriksaannya tidak langsung diterima. Petugas baru memberikannya tiga hari kemudian. Molornya penyerahan juga terjadi pada swab kedua. ‘’Saya dinyatakan sembuh karena hasilnya negatif. Tapi, suratnya juga baru diberikan tiga hari kemudian,’’ ungkapnya.

Sujinah juga mempertanyakan konfirmasi positif keponakannya. Ketika berobat di RSUD dr Soedono, Madiun, hasil pemeriksaannya tidak mengarah ke Covid-19. Dokter, kata dia, meminta untuk rawat jalan. Namun, karena tidak sanggup wira-wiri ke Kota Madiun, keponakannya beralih berobat ke RSUD dr Sayidiman. ‘’Tapi, di sana malah ujungnya positif Covid-19,’’ bebernya.

Dia menambahkan, dampak buruk dialaminya karena harus isolasi mandiri di rumah. Selain tidak ada pemasukan karena tokonya harus tutup, mantan pekerja imigran itu juga dikucilkan warga.

Ketua Tim Penanggulangan Covid-19 Magetan Didik Setyo Margono menyatakan, pemeriksaan Sujinah sudah sesuai prosedur. Pengambilan spesimen swab sudah sesuai aturan yang berlaku. Yakni, 14 hari sejak pengambilan spesimen pertama atau tujuh hari setelah dinyatakan positif Covid-19. ‘’Jaraknya sudah pas,’’ katanya.

Didik menjelaskan, lambatnya penyerahan surat keterangan swab karena antrean cukup panjang. Proses pencetakan memakan waktu yang tidak singkat. ‘’Berhubung pasien ke-132 itu tanpa gejala, maka diperbolehkan isolasi mandiri,’’ ujarnya. (fat/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button