Madiun

16 Nakes RSP Dungus Positif

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Sebaran virus korona kian merajalela. Sejumlah rumah sakit keteteran buntut tingginya lonjakan kasus positif. Tak terkecuali  RSU Paru (RSP) Dungus. Bahkan, rumah sakit milik Pemprov Jatim itu harus mendirikan tenda darurat.

Itu lantaran belasan tenaga kesehatan (nakes) setempat terkonfirmasi positif Covid-19. Pun seorang pasien yang dirawat di tenda darurat tersebut meninggal dunia. ‘’Sabtu lalu (3/7) seorang pasien meninggal di tenda,’’ kata Direktur RSP Dungus Asmaul Husna Minggu (4/7).

Tenda darurat didirikan lantaran kapasitas maksimal rumah sakit pelat merah di Kabupaten Madiun itu telah penuh. Dari 24 tempat tidur (TT) yang  tersedia, tak ada satu pun yang kosong. ‘’Daya tampung itu baru ditambah empat hari lalu (30/6). Sebelumnya hanya 10 TT,’’ ungkap Asmaul.

Jatah TT untuk pasien korona bergejala sedang dan berat sudah habis. Sehingga, pendirian tenda darurat menjadi satu-satunya pilihan. Asmaul menuturkan, tenda darurat mulai terisi pasien Jumat lalu (2/7). ‘’Rumah Sakit Lapangan (RSL) Joglo, Dungus, untuk pasien gejala ringan atau tanpa  gejala,’’ jelasnya.

Karena itu, pihaknya tidak bisa merujuk pasien ke RSL yang juga milik pemprov tersebut, meski berada di satu lokasi. Begitu juga rumah sakit rujukan lain. ‘’RSUD Soedono, Dolopo, Sogaten (Kota Madiun), Caruban, juga sudah penuh semua,’’ sebutnya.

Terkait seorang pasien yang meninggal, dia menyebut bahwa hasil rapid test antigennya negatif. Namun, hasil pemeriksaan didapati pneumonia bilateral. Alias infeksi berupa bercak putih di kedua paru. ‘’Kondisi pasien seperti itu sudah masuk kriteria positif. Sehingga, ditangani dengan protokol Covid-19. Kalau disebabkan kuman, bercak cuma di sebelah (paru-paru),’’ paparnya.

Asmaul menambahkan, pemeriksaan PCR (polymerase chain reaction) pasien tersebut belum dilakukan. Sebab, kondisi kesehatan pasien kelewat buruk. Pun baru sempat dirawat di tenda darurat sekitar delapan jam sebelum meninggal dunia. ‘’Pasien warga Jember. Tapi, yang membawa ke sini (RSP Dungus, Red) keluarganya dari Magetan,’’ beber Asmaul.

Menurut dia, lebih baik pasien dirawat di tenda dibanding isolasi mandiri. Terutama yang bergejala sedang dan berat. Tujuannya, menekan penularan coronavirus dengan orang-orang terdekat pasien. ‘’Tenda darurat itu untuk penanganan sementara. Kalau (di ruang isolasi utama) ada kesembuhan atau rumah sakit lain bisa menampung, pasien akan dialihkan,’’ ujar Asmaul seraya mengklaim penanganan medis di ruang isolasi utama dan tenda darurat sama.

Kabar baiknya, jumlah pasien di tenda oranye bertuliskan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) itu sudah berkurang. Asmaul mengatakan sempat terisi 11 pasien. Sementara, per kemarin tinggal dua pasien. ‘’Beberapa sudah dialihkan ke RSL Joglo atau dirujuk ke rumah sakit lain yang masih bisa menampung,’’ ungkapnya.

Tidak hanya pasien yang membeludak, sejumlah nakes di rumah sakit tipe C itu juga terpapar Covid-19. Sebanyak 16 nakes terkonfirmasi positif. Namun, Asmaul menyebut bahwa penularan bukan dari pasien. Melainkan dari luar kemudian menyebar ke nakes lain. ‘’Saat ini kami juga  terus melakukan tracing terkait nakes positif itu,’’ tuturnya.

Kendati begitu, Asmaul mengklaim masalah SDM sudah bisa diatasi dengan berbagai cara. Antara lain penggeseran antarnakes linier tugas. Pun, memangkas jam laboratorium yang sebelumnya tiga sif menjadi dua sif. ‘’Soal nakes sudah teratasi. Tapi, kalau untuk penambahan TT kami sudah tidak bisa, mempertimbangkan pelayanan kesehatan reguler yang lain,’’ tandasnya. (den/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button