Magetan

16 ASN di Magetan Kena Korona

Terbanyak dari Tenaga Pendidik

MAGETAN, Radar Magetan – Siapa pun bisa terinfeksi Covid-19 benar adanya. Sebanyak 16 aparatur sipil negara (ASN) di Magetan positif Covid-19. Dari belasan itu, terbanyak tenaga pendidik dengan delapan orang. Lima di antaranya mengajar di salah satu SDN di Plaosan.

Berikutnya, empat TNI, tiga tenaga medis, serta satu pejabat satpol PP dan damkar. ‘’Penyebaran Covid-19 dimulai dari guru yang akhirnya merembet ke lainnya,’’ kata Ketua Tim Penanggulangan Covid-19 Dinas Kesehatan (Dinkes) Magetan Didik Setyo Margono Selasa (14/7).

Didik mengungkapkan, penularan diawali STI, pasien ke-96, yang terkonfirmasi positif 24 Juni. Setelah ditelusuri riwayat interaksi fisik, empat guru lain diketahui positif. Keempatnya SKT, KMI, NNK, dan SLM. Dua anak pasien yang disebutkan terakhir itu juga positif. ‘’Keduanya juga tenaga pendidik,’’ ujarnya seraya menyebut belum mengetahui sumber penularan pada STI.

SLM menularkan virus korona kepada YNA, tenaga kesehatan di Puskesmas Plaosan. Akibat kontak fisik dengan YNA, SND yang juga petugas medis tertular. ‘’ASN satpol PP dan damkar di tim gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 tertular karena kontak erat dengan anak pasien ke-96 yang merupakan relawan posko Covid-19,’’ bebernya.

Didik menambahkan, empat anggota TNI terinfeksi korona. Tiga di antaranya dinyatakan sudah sembuh. Pihaknya belum bisa menemukan sumber penularan ketiganya. Satu TNI lainnya sudah meninggal dunia. ‘’ASN yang masih positif menjalani isolasi mandiri dan perawatan di rumah sakit,’’ ujarnya. (bel/c1/cor)

Tetangga Ajak Ngobrol dari Luar Pagar

SETELAH dua pekan, FRY melakukan swab test kedua Selasa (14/7). ASN satpol PP dan damkar itu dites swab 29 Juni dan hasilnya keluar empat hari berselang. Pemeriksaan sampel lendir hidung dan tenggorokan itu juga dilakukan oleh YS. Istri FRY itu terkonfirmasi positif 9 Juli. ‘’Semoga hasilnya negatif. Kangen ngantor dan bertemu rekan kerja,’’ kata FRY.

Selama isolasi mandiri, FRY mengisi waktu berkebun di belakang rumah. Ketika menyirami tanaman di depan rumah pagi dan sore, beberapa tetangganya mengajak ngobrol dari luar pagar yang berjarak hingga 10 meter. ‘’Tetangga kanan-kiri enjoy saja, tidak masalah,’’ ujarnya.

FRY mengatakan, sikap tenggang rasa tetangganya sangat tinggi. Tidak ada yang mengucilkan keluarganya. Banyak kenalan yang mengirimkan vitamin dan bahan makanan. Padahal, kebutuhan itu telah dicukupi pemkab dan pemdes. ‘’Warga harus mendukung proses penyembuhan dengan tidak mengucilkan. Itulah kenapa pemerintah menetapkan berdampingan dengan Covid-19,’’ terangnya.

Dua anak FRY dititipkan di rumah neneknya. Komunikasi tidak terputus lewat video call setiap hari. Meski tinggal terpisah, FRY dan YS tetap menggunakan alat makan sekali pakai. ‘’Setiap hari tempat yang sering kami lalui dan pegang, disemprot cairan disinfektan,’’ ujar FRY. (bel/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close