HukumNgawi

140 Petugas Sweeping Home Industry Arak Kerek

NGAWI – Sejarah dicatat Kapolres Ngawi AKBP Pranatal Hutajulu. Baru lima bulan menjabat, perwira menengah asal Palembang itu berani menghabisi produksi arak Kerek. Total ada 10 home industry dan 76 KK di Dusun Poncol, Desa Kerek, Kecamatan/Kabupaten Ngawi yang memproduksi minuman keras (miras) tersebut.

Sesuai maklumat Kapolres Ngawi AKBP Pranatal Hutajulu, Rabu (2/5) merupakan hari terakhir bagi para pelaku home industry pembuatan arak Kerek menutup usahanya. Kapolres memberikan deadline sejak 25 April agar para pelaku usaha ilegal itu menghentikan produksinya. ’’Hari ini (kemarin, Red) sudah genap seminggu, makanya kami laksanakan razia,’’ tegas Pranatal kepada Radar Ngawi.

Perwira dengan bintang dua di pundak itu tidak lempar gertak. Maklumat itu ditindaklanjuti. Dia tak segan menutup 10 home industry. Aktivitas sampingan 76 KK dari 145 KK di Dusun Poncol yang memproduksi arak Kerek juga dihentikan. Pranatal kemarin menerjunkan 140 personel gabungan polisi, Kodim 0805 Ngawi, Bataliyon Armed 12 Angicipi Yudha, satpol PP, dan perangkat desa. Mereka melakukan sweeping di semua lokasi penjuru Dusun Poncol. ’’Kalau aktivitas (produksi miras) memang sudah tidak ada lagi. Tapi kami berhasil mengamankan beberapa barang bukti,’’ terang Pranatal.

Barang bukti yang dimaksud berupa tetes tebu sebagai bahan baku arak Kerek. Selain itu, diamankan peralatan milik warga yang digunakan untuk memproduksi miras. Sesuai prosedur, pihaknya langsung memasang police line di lokasi produksi. Termasuk menyita sejumlah barang (peralatan). Dia juga menegaskan bahwa semua lokasi maupun peralatan yang sudah dipasangi police line itu tidak boleh digunakan lagi. ’’Tidak boleh dibuka (police line) tanpa seizin dari penyidik Polres Ngawi,’’ tegasnya.

Lantas bagaimana nasib para pelaku home industry? Pranatal menegaskan, karena sudah tidak aktivitas maka pengenaan proses pidana tidak dilakukan. Justru, setelah ini pihaknya akan segera melakukan langkah koordinasi dengan pemerintah daerah. Dalam hal ini bupati dan ketua DPRD. Salah satu tujuannya agar pemkab memberikan perhatian serius terhadap nasib para pelaku usaha itu pasca penutupan. ’’Untuk mencari solusi alternatif, kira-kira pekerjaan apa yang bisa memenuhi penghidupan dan juga mata pencarian mereka,’’ jelasnya.

Razia kemarin dimulai sekitar pukul 09.00. Sebelumnya digelar apel persiapan yang dipimpin langsung Kapolres Ngawi AKBP Pranatal Hutajulu. Dari jumlah personel gabungan yang ada dibagi menjadi delapan tim. Tugasnya mengecek semua lokasi pembuatan arak Kerek. Tidak hanya itu, Pranatal juga meminta semua peralatan pembuatan miras dikumpulkan jadi satu dan disegel menggunakan police line. Dari laporan polisi, ada seratusan peralatan. Di antaranya drum, ember, gentong, slang, dan lainnya yang disita dari sepuluh home industry terbesar. Kendati mengamankannya ke Mapolres Ngawi, namun Pranatal meminta agar warga tidak membuka paksa police line. Sebab, hal itu merupakan tindakan melanggar hukum.

Di sisi lain, warga Poncol yang juga pelaku home industry mengaku pasrah melihat aparat menutup dan menyita peralatan. Mereka juga tidak melakukan perlawanan.  Mislan, salah seorang warga, mengungkapkan tak masalah dengan penutupan produksi miras itu. Namun, yang menjadi persoalan saat ini mereka masih bingung mau kerja apa. ’’Karena mayoritas warga sini semuanya pembuat miras, sumber penghasilannya dari sini (membuat miras, Red),’’ terangnya.

Bahkan, menurut Mislan, memproduksi arak Kerek itu sudah menjadi warisan turun temurun dari leluhurnya. Saat ditanya sejak kapan pertama kali membuat miras, Mislan tak bisa menjawab pasti. Dia hanya menyebut sejak zaman Belanda dulu leluhurnya sudah memproduksi miras itu. Dan terus dilestarikan oleh generasi penerusnya sampai sekarang. ’’Selama ini, untuk makan, menyekolahkan anak, semuanya juga dari membuat miras,’’ ungkapnya.

Mislan sempat menjelaskan proses pembuatan miras jenis arjo yang sudah turun temurun itu. Dia menerangkan, untuk menghasilkan miras jenis arjo, bahannya hanya tetes tebu dan air. Tidak ada campuran lain. Proses pembuatannya dimulai dengan merendam tetes tebu yang sudah ditambahkan air itu selama tiga hari tiga malam. Lalu, direbus menggunakan gentong hingga menghasilkan uap dan dicairkan memalui pipa penyulingan. ’’Jadi, miras di sini murni, tidak ada campuran apa-apa,’’ jelasnya.

Sebenarnya, dari penjelasan Mislan, keuntungan membuat miras itu tak begitu besar. Dia memerinci, untuk membuat miras jenis arak Kerek sebanyak 20 liter, dibutuhkan bahan baku tetes sebanyak dua pikul (dua gentong besar). Bahan baku itu didapat dengan cara membeli seharga kurang lebih Rp 150 ribu plus upah angkut Rp 10 ribu. Setelah diproses menjadi miras, dijual dengan harga sekitar Rp 12 ribu per liternya. ’’Kalau dihitung, keuntungannya memang tidak besar. Tapi mau kerja lain juga tidak bisa, karena mayoritas tidak punya lahan (pertanian),’’ paparnya.

Jika Mislan mengaku tak ada masalah, beda dengan Siban. Selama ini, Siban tidak memproduksi miras. Namun, dia membuat tetes tebu sebagai bahan baku miras jenis arjo. Saat penutupan itu, Siban mengaku rugi besar lantaran sudah tidak bisa lagi mengoperasikan pabrik tetes tebunya. Padahal, dari pengakuannya, selama ini dia hanya memasok para produsen miras tak lebih dari 20 persen dari total produksi setiap harinya. ’’Lainnya untuk memasok bahan pupuk dan pakan ternak,’’ sebutnya.

Jika hanya 20 persen yang digunakan sebagai bahan produksi miras, artinya sekitar 80 persen lainnya tidak masalah. Karena itu, dia mengaku rugi besar ketika usahanya itu ikut ditutup. Apalagi, selain warga setempat yang memproduksi miras, dia juga memiliki banyak jaringan lain hingga ke luar daerah. Namun, Siban mengaku tak bisa berbuat banyak. Dia merelakan pabrik dan juga peralatannya disegel polisi dan menghentikan aktivitas produksi tetes tebu. (tif/c1/ota)

 

 

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button