Mejayan

10 Persen Wali Murid Tolak Tatap Muka

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Caruban – Klaim sukses uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) tahap pertama urung membuat wali murid luluh. Menjelang pelaksanaan PTM tahap dua hari ini, sejumlah orang tua masih tidak rida anaknya belajar di kelas di masa pandemi Covid-19. ‘’Sekitar 10 persen belum menghendaki anaknya bersekolah,’’ kata Ketua Musyawarah Kerja Kepala (MKK) SMAN Kabupaten Madiun Tejo Suseno Minggu (4/10).

Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Jawa Timur Wilayah Madiun menunjuk SMAN 2 Mejayan sebagai pelaksana uji coba PTM tahap pertama Agustus lalu. Lembaga pelaksana ditambah tiga untuk pelaksanaan tahap dua. Yakni, SMAN 1 Mejayan, 1 Nglames, dan 1 Geger. ‘’Penunjukan dengan mempertimbangkan telah siapnya sarana dan prasarana protokol kesehatan. Tapi, tetap poin pentingnya adalah izin dari wali murid,’’ tegasnya.

Tejo mengatakan, orang tua punya peran penting menyukseskan uji coba PTM. Terutama pascarampung pembelajaran di kelas. Anak harus dipastikan langsung pulang ke rumah, bukan nongkrong di tempat umum. Di sisi lain, tenaga pendidik lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan. Jangan sampai terpapar Covid-19 dan menulari lainnya. ‘’Alhamdulillah uji coba PTM tahap pertama tidak terjadi yang seperti itu,’’ klaim kepala SMAN 2 Mejayan tersebut.

Dia menyebut, goal uji tahap kedua, seluruh sekolah bisa menjalankan PTM. Namun, tetap memperhatikan kategori zona di masing-masing wilayah. Pelaksanaan uji coba diharapkan menjadi permulaan baik bagi dunia pendidikan di masa pandemi. ‘’PTM diutamakan untuk pendidikan karakter,’’ sebutnya.

Pasien Usia Produktif Meninggal

Sementara itu, AS, pasien Covid-19, meninggal Sabtu (3/10). Meninggalnya warga Desa Sangen, Geger, itu menambah kasus kematian korona menjadi sembilan. Yang membedakan dengan delapan kasus sebelumnya, pasien kali ini termasuk usia produktif. ‘’Usianya 33 tahun,’’ kata Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setdakab Madiun Mashudi Minggu (4/10).

Mashudi mengungkapkan, AS meninggal di RSUD Dolopo. Sehari setelah hasil swab keluar Jumat (2/10). Hasil pengecekan, AS menderita penyakit paru-paru. ‘’Memang AS termuda dari seluruh pasien meninggal. Tapi, komorbid (penyakit pernyerta)-nya itu yang memengaruhi,’’ terangnya.

Sebelum meninggal, AS sempat berobat di salah satu rumah sakit swasta di Kota Madiun, 21 September. Karena punya riwayat penyakit paru-paru, dia hanya rawat jalan. Kesehatannya membaik setelah diberi oksigen tambahan. Empat hari berselang, gangguan pernapasannya kembali kambuh. AS berobat ke RSUD Kota Madiun dengan keluhan sesak dan batuk. ‘’26 September dirujuk ke RSUD Dolopo dan langsung masuk ruang isolasi,’’ beber mantan camat Dolopo tersebut.

Mashudi menyebut, AS sempat di rumah selama lima hari. Enam anggota keluarganya kini berstatus kontak erat. ‘’Mereka isolasi mandiri karena tidak menunjukkan gejala klinis. Tapi, tetap dalam pemantauan medis,’’ paparnya. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button