Zaman Modern, Hiburan Rakyat Tidak Sekarat

66

Orang-orang butuh hiburan. Sepanjang kesadaran itu ada, pasar malam tetap bertahan. Mengisi keramaian di lapangan, alun-alun dan sepenggal ruang terbuka yang tersisa di sudut kota.

———————

ANDI CHORNIAWAN, Mejayan

LIMA pekerja rebah di atas tumpukan bangku panjang di bawah gubuk kayu 4×4 meter. Sengat matahari pukul 14.00 itu membuat seorang di antaranya kegerahan. Kaos oblongnya diloloskan, dikipas-kipaskan sekenanya. Beberapa lainnya sibuk dengan telepon di genggaman. ‘’Seperti ini kegiatan kami kalau belum masuk jam kerja. Selalu nyantai,’’ kata Eko Setyono, akhir pekan lalu.

Pria yang akrab disapa Kodok ini pekerja di Cipta Manunggal Putra —jasa hiburan milik Basuki dari Nganjuk. Bosnya itu mengelola pasar malam dengan 10 wahana permainan. Di antaranya kora-kora, komidi putar, ombak air, dan tong setan. Wahana perahu sengaja tidak diikutsertakan ke lapangan Bangunsari, Mejayan sejak pasar malam dibuka 6 Mei lalu. Penyebabnya, kekurangan tenaga pekerja. ‘’Total ada 17 pekerja termasuk tiga pembalap tong setan,’’ ujar pekerja 30 tahun yang dipercaya menjadi coordinator itu.

Kodok dan kawan-kawannya tidak berbohong soal belum masuk jam kerja. Mereka baru mengecek kesiapan wahana pukul 16.30. Memeriksa peranti keamanan, seperti daya cengkeram mur dan baut, kecukupan bahan bakar, dan menyiapkan tiket di masing-masing wahana tempatnya bertugas. Pasar malam baru dibuka pukul 17.00-21.00. Selama lima jam, masing-masing pekerja berbagi tugas menjaga loket dan mengawasi pengunjung. Bila sudah tutup, tugas terakhir adalah mencatat total tiket yang terbeli. ‘’Setelah kerja, nyantai lagi,’’ beber warga Sragen, Jawa Tengah itu.

Cipta Manunggal Putra berdiri 12 tahun silam. Jasa hiburan rakyat ini menyasar daerah di eks Karesidenan Madiun, minus Pacitan. Sebelum di Mejayan selama dua pekan, Kodok dkk sudah lebih dulu membuka lapak di dua lokasi Magetan. Hari ini, bertolak ke Ponorogo dan dilanjutkan Ngawi. Praktik kerja nomaden tersebut berlangsung hampir setiap bulan. Memaksa para pekerja jarang pulang. Tidak bisa berlama-lama menghabiskan waktu bersama keluarga. ‘’Pekerja ada yang dari Madura dan Klaten, Jateng,’’ ungkap pria yang bergabung dalam rombongan sejak 2011 silam.

Bagi Kodok dan teman-temannya, pasar malam tak ubahnya sebuah dunia fantasi mini. Mereka menikmati hidup suasana gemerlap hiburan rakyat saat malam dan sepi ketika siangnya. Tempat tidur untuk istirahat tak seempuk kasur rumah. Mereka berbaring seadanya di loket karcis, wahana tong setan, atau tempat lainnya yang bisa berlindung dari dinginnya malam. Mandi sehari-hari di SPBU atau pasar. Sedangkan pakaian yang dibawa secukupnya, dicucikan ke laundry. Komunikasi lewat HP bisa sedikit meredam kangen anak dan istri di rumah. Namun, bila dalam kondisi mendesak, mereka memutuskan pulang. ‘’Misalnya, istrinya melahirkan atau ada keluarga sakit,’’ ucapnya.

Bagaimana dengan kesejahteraan? Dengan malu-malu, Kodok menjawab nilainya tidak bisa dihitung pasti. Layaknya bisnis lainnya, pasar malam juga dipengaruhi seberapa banyak pengunjung yang datang. Sesuai kesepakatan, total pendapatan sehari bakal dibagi 15 persen sebagai jatah para pekerja. Sedangkan untuk rider tong setan dijatah lebih banyak; 30 persen, mempertimbangkan faktor risiko. Misalnya Rp 2 juta, maka jatah pekerja adalah Rp 300 ribu. Duit ratusan ribu itu lantas dibagi ke belasan orang. Di luar kesepakatan persentase itu, bosnya memberi jatah uang makan Rp 25 ribu sehari dan rokok satu bungkus diambil dari duit penjualan tiket. ‘’Jadi, kalau pendapatan sehari itu tidak bisa dipersentasekan, kami hanya dapat uang makan,’’ katanya sembari menyebut kondisi tersebut sering terjadi ketika musim penghujan karena tidak ada pengunjung.

Kodok yang sebelumnya hidup di jalanan bagian dari komunitas anak punk enggan mengeluh pendapatannya pas-pasan. Dia memilih menerimanya dengan alasan rezeki ada yang mengatur. Apalagi, kondisi dirinya sulit mendapatkan pekerjaan. Dengan tubuh penuh tato dan piercing di telinga, mentok pekerjaan yang bisa didapatkan kuli bangunan. ‘’Mending bertahan di pasar malam karena tidak terlalu diatur waktu dan beban kerja tidak terlalu tinggi,’’ bebernya seraya menyebut beban paling berat kerja adalah bongkar pasang.

Samsul, pekerja lainnya, setuju dengan Kodok bahwa bongkar pasang ketika buka dan tutup pasar malam yang paling melelahkan. Dilembur agar bisa selesai setidaknya tiga hari atau menyesuaikan tenggat menempati lahan. Tidak jarang pekerja hanya bisa tidur dua tiga jam. Nah, biasanya, bongkar pasang membuat para pekerja yang baru bergabung menjadi kaget. Mereka sering mengeluh dan memutuskan untuk keluar. ‘’Mencari orang-orang yang mau kerja di pasar malam susah. Makanya, wahana perahu ditinggal,’’ ujarnya.

Samsul adalah pekerja yang masih bertahan sejak wahana permainan pasar malam didirikan Basuki. Kebetulan, bosnya itu adalah tetangganya. Dia sudah lama ikut bekerja di luar wahana permainan. Seluk beluk bisnis hiburan rakyat diketahuinya. Seperti modal awal sesuai surat izin usaha perdagangan (SIUP) Rp 500 juta. Serta tren penurunan para pengunjung sejak dua tahun silam. Digerus modernisasi dan banyaknya alun-alun yang sudah diisi wahana bermain. ‘’Mungkin ada separo turunnya,’’ taksir Bogel, sapaan Samsul.

Di luar urusan materiil, pekerja yang bergabung di dunia pasar malam mendapatkan banyak ilmu keterampilan. Mereka menjadi paham tentang kelistrikan dan mesin disel atau otomatif dari teman senior. Juga, beberapa gerakan akrobatik ketika menggerakan sejumlah wahana. ‘’Siapa tahu kelak jadi bekal menjalankan usaha sendiri,’’ tuturnya. *** (fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here