Yudha Kusumawati, Guru yang Juga Seorang Penyebar Literasi

14

MAGETAN – Buku berjudul Door Duisterbis tot Licht yang berisi kumpulan surat R.A Kartini sangat menginspirasi Yudha Kusumawati. Buku yang diterbitkan pada 1911 itu memicu semangat perempuan kelahiran 25 Oktober 1978 tersebut untuk menyebarkan semangat menulis kepada teman dan muridnya.

Tumpukan buku tertata rapi di meja kayu kediaman Yudha Kusumawati di Kelurahan Bulukerto, Kecamatan Magetan. Sebagian besar buku tersebut berisi tentang antologi cerpen dan puisi. Sementara, Yudha yang duduk di lantai terlihat membolak-balikkan sebuah buku yang maish terbungkus plastik.

Kemudian, dia memperlihatkan cover buku yang berjudul “Jejak-jejak Pengabdianku” itu kepada wartawan koran ini. ‘’Buku ini berisi perjalanan saya mulai mengajar sampai sekarang,’’ kata Yudha kemarin (19/4).

Ya, dirinya yang bekerja sebagai guru mata pelajaran Fisika di MA Al-Hidayat Ginuk, Karas itu memang suka membaca dan menulis (literasi). Karena itu setiap pengalamannya selama mengajar di madrasah coba dituangkan ke dalam sebuah buku.

Yudha mengaku buku yang ditunjukkannya tersebut merupakan cetakan ketiganya. Sebelumnya, dia sudah lebih dulu menerbitkan dua buku lain yang saat ini menjadi koleksi Perpustakaan Nasional (Perpusnas). ‘’Saya menulis buku karena terinspirasi dari kakak,’’ aku perempuan kelahiran 25 Oktober 1978 itu.

Sang kakak, Yudha Cahyawati lebih dahulu menerbitkan buku. Dia pun iri ingin memiliki karya pula. Apalagi, dalam dunia pendidikan, baik siswa dan guru tengah dikembangkan budaya literasi. Karya itu bahkan bisa menambah poin dalam kenaikan pangkatnya sebagai PNS.

Sang kakak lantas memberitahunya jika ada penerbit yang hendak memberikan kesempatan bagi penulis pemula yang belum memiliki karya. ‘’Akhirnya saya mendaftar,’’ terang ibu satu anak itu.

Tak banyak waktu yang dimiliki Yudha untuk mengumpulkan karyanya setelah mendaftar. Pendaftaran dia lakukan pukul 14.00. Sedangkan pengumpulan karya maksimal tengah malam.

Sementara, di sisi lain, dia sedang disibukkan dengan mengajar siswa di madrasah. Sehingga, belum ada gagasan untuk membuat cerpen. Ide menulis baru muncul dibenaknya ketika teringat salah seorang muridnya yang berhasil mengikuti sebuah kompetisi akademik. ‘’Alhamdulillah lolos dan diterbitkan bersama cerpen penulis lain,’’ kata suami Muniri itu.

Dari situlah, kemudian Yudha makin pede menulis. Termasuk menuliskan perjuangan dan pengalamannya selama menjadi seorang guru. Baik itu saat menjadi guru tidak tetap (GTT) di TK IT Al Uswah, MTs Sidorejo, MAN Temboro, hingga diterima CPNS dan ditempatkan di MA Al Hidayah Ginuk.

Perjuangannya menjadi seorang tenaga pengajar itu dituangkan dalam buku setebal 75 halaman. ‘’Ini untuk menyemangati teman-teman untuk menulis juga,’’ terang warga Kelurahan Bulukerto, Magetan tersebut.

Buku itu sudah dua kali diterbitkan. Teman-teman sejawatnya banyak yang memesan. Namun, bukan materi yang diharapkan Yudha dari penerbitan bukunya itu. Namun, semangat menulis.

Menurutnya, menulis itu mudah dan cepat. Seperti penulisan buku Jejak-jejak Pengandianku yang hanya menghabiskan waktu sepekan. Itu pun dia ketika melalui note telepon genggam. ‘’Kalau ada waktu senggang, saya buka catatan di handphone dan menulis,’’ terang alumnus UNS Surakarta, itu.

Budaya menulis itu coba terus dia tularkan kepada anak didiknya. Hasilnya, sudah satu buku kumpulan puisi siswanya yang diterbitkan. Yudha mengaku membudayakan menulis pada muridnya memang tidak mudah.

Tapi, dia punya trik untuk memacu semangat siswanya menulis. Seperti memberikan iming-iming buku berlogo ISBN yang nantinya akan dipajang di Perpusnas. Lengkap disertai foto mereka di cover belakang. ‘’Syukur, anak-anak antusias dan saya merasa bangga,’’ ungkapnya.

Lebih lanjut, Yudha mengungkapkan sudah ada dua buku lainnya yang disetorkan ke penerbit. Buku pertama berkisah tentang kehidupan di pondok pesantren. Supaya pembaca tidak lagi galau dan takut masuk pesantren.

Sedangkan, buku kedua berkisah tentang mata pelajaran Fisika yang selama ini menjadi momok. Dia ingin menggugah anggapan bahwa belajar fisika itu asyik. ‘’Lewat tulisan kita bisa menyebarkan semangat, inspirasi, dan motivasi,’’ pungkasnya. ***(her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here