Yon Armed Tambah Fasilitas Benteng Van den Bosch

49

NGAWI – Ada langkah kreatif dari Batalyon Artileri Medan 12/Angicipi Yudha (Yon Armed) Ngawi memoles Benteng Van den Bosch. Selaku pengelola, Yon Armed sengaja menyediakan sebuah mini museum. Isinya tentang dokumentasi serta deskripsi bangunan bersejarah warisan penjajah Belanda itu. ’’Kami sudah buat, pengoperasian saat kunjungan Pak Presiden Jokowi ke benteng Van den Bosch bulan Februari,’’ ujar Komandan Yon Armed 12/Angicipi Yudha Ngawi Mayor Arm. Ronald F. Siwabessy kepada Radar Ngawi.

Ronald menjelaskan, alasan penambahan mini museum ini agar pengunjung tahu seluk beluk bangunan yang berusia 174 tahun itu. Bukan hanya sekadar berwisata fotografi. ’’Tapi kami ingin ada semacam edukasi juga kepada masyarakat terutama mengenai keberadaan benteng ini,’’ ungkapnya.

Kata dia, di mini muesum yang berukuran sekitar 8×20 meter itu dipasang sejumlah foto dokumenter di semua sisi dinding mini museum tersebut. Semuanya disusun secara memutar searah jarum jam. ’’Kami memasangnya tidak asal. Semua menggambarkan kronologi adanya benteng ini,’’ jelas Ronald.

Jika melihat ke dalam mini museum tersebut, di dekat pintu masuknya memang terdapat foto besar Pangeran Diponegoro dan Johanes Van den Bosch. Itu mengilustrasikan bahwa pembangunan benteng tersebut dilakukan ketika era Pangeran Diponegoro. Sedangkan, Johanes Van den Bosch sendiri merupakan pimpinan dari tentara Belanda yang menduduki benteng tersebut. ‘’Kami juga sediakan deskripsinya supaya pengunjung bisa membaca sejarah dari adanya benteng ini,’’ imbuhnya.

Tidak hanya itu, pihak Yon Armed 12 juga menyediakan sebuah televisi besar yang menayangkan video rana atau video singkat. Isinya tentang cerita sejarah yang berkaitan dengan benteng tersebut. Fasilitas itu sengaja ditambahkan, sebab pihak pengelola menyadari di zaman sekarang masyarakat lebih mudah menangkap cerita melalui tayangan visual. ’’Kami ingin orang belum tahu mengenai sejarah benteng ini, setelah keluar dari museum sedikit banyak menjadi tahu. Itu tujuan utamanya,’’ paparnya.

Apakah hanya itu? Tentu saja tidak. Pihak pengelola masih memiliki rencana lagi untuk melengkapi keberadaan mini museum tersebut. Salah satunya dengan menambah galeri foto dengan tema benteng Van den Bosch. Dalam waktu dekat, Ronald mengaku bakal menggelar event lomba Fotografi di benteng itu. Hasilnya yang masuk kategori terbaik akan dipajang di galeri tersebut. ’’Dari galeri itu pengunjung jadi tahu, mana spot-spot fotografi di benteng ini yang bagus,’’ ungkapnya.

Untuk sementara, lanjut Ronald, semua fasilitas itu dapat dinikmati pengunjung mulai pukul 08.00 hingga pukul 18.00. Tidak ada syarat apapun bagi pengunjung yang mau masuk ke mini museum tersebut. Tapi, tetap harus menjaga kebersihan dan tidak merusak barang-barang di dalamnya. Lalu, bagaimana jika benteng Van Den Bosch tersebut direstorasi nanti? ’’Kami pastikan untuk fasilitas mini museum ini nanti tetap ada. Jika ada perubahan lokasi atau konsep, itu wajar. Karena harus menyesuaikan proses restorasinya nanti,’’ jelasnya.

Ketika Presiden Joko Widodo berkunjung ke benteng Van den Bosch beberapa bulan lalu, memang sempat menginstruksikan supaya warisan sejarah itu direstorasi. Supaya tidak hilang ditelan usianya. Namun, kala itu presiden juga meminta agar benteng itu sebisa mungkin diperuntukkan bagi komunitas masyarakat. Makanya Ronald memastikan keberadaan mini museum tersebut akan tetap ada. ‘’Justru nanti kemungkinan akan ditambah dengan ruang baca dan sebagainya,’’ ungkapnya. (tif/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here