Yayasan Bambu Nusantara Sebut Ada Pelajar SD Kecanduan Narkoba

107

MADIUN – Geliat bisnis narkotik di kota karismatik memakan korban yang tidak sedikit. Dua tahun terakhir, puluhan warga menjadi korban penyalahgunaan narkoba. Miris, seorang siswa SD bahkan menjadi korbannya. Berbagai fakta itu didapat dari Yayasan Bambu Nusantara, Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) yang bergerak untuk merehabilitasi korban-korban penyalahgunaan narkoba. ‘’Dua tahun terakhir yang kami dampingi rata-rata dari usia pelajar,’’ kata drh Titik Sugianti, ketua yayasan tersebut.

Yayasan Bambu Nusantara mendampingi penyalahguna narkoba dengan berbagai kategori. Titik menyebut, beberapa kliennya ada yang baru terkategori penggunaannya hanya sesekali (rekreasional). Namun, ada pula yang sudah kecanduan (kompulsif). Masing-masing punya penyebab tersendiri. ‘’Yang rekreasional biasanya terpengaruh teman. Ini umumnya pelajar. Yang sudah ketergantungan, rata-rata pemakaiannya di atas empat tahun,’’ terangnya.

Rata-rata setiap tahunnya, sebanyak 150-200 korban penyalahgunaan narkoba direhabilitasi Yayasan Bambu Nusantara. Setahun ini saja, sudah masuk 84 orang. Mereka berasal dari berbagai daerah sekitar. Dari puluhan orang yang ditangani yayasan tersebut, 18 di antaranya merupakan warga Kota Madiun. Jumlah itu mengalami penurunan dibanding tahun lalu (30 orang). Yang membuat miris, anak kelas VI SD ikut terseret menjadi korban. ‘’Awalnya, dia (anak SD korban narkoba, Red) merokok lalu lanjut ke obat-obatan. Itu dilakukan bersama teman-temannya,’’ cerita Titik.

Bagaimana para pelajar bisa mendapatkan obat-obatan terlarang? Rupanya, keberadaan apotek yang dengan mudah menjual berbagai jenis obat jadi sasaran empuk. Pun, beberapa obat yang disalahgunakan merupakan jenis yang memang dijual bebas. Sedangkan narkoba (berdasar pengakuan sejumlah korban yang direhabilitasi) didapat dari jaringan luar kota. Lantaran obat-obatan cenderung lebih mudah didapat, Titik menyarankan agar pengawasan lebih diperketat. ‘’Perlu disidak atau apa pun bentuknya,’’ ujarnya.

Dari hasil assessment, rata-rata korban terjebak dengan perasaan hingga akhirnya tenggelam dalam jerat narkoba. Mereka ingin mendapatkan rangsangan perasaan santai dan nyaman dari mengonsumsi barang haram tersebut. Terus-menerus hingga mereka kecanduan. Dari situlah, hukum ekonomi berjalan. ‘’Ada demand (permintaan) ada supply (pasokan),’’ kata dia.

Sejatinya, upaya membentengi generasi muda dari bahaya narkoba sudah dilakukan berbagai pihak. Kepolisian misalnya. Kasatres Narkoba Polres Madiun Kota AKP Suyono mengaku tak kurang-kurang memberi sosialisasi kepada pelajar. Dari jenjang pendidikan dasar, menengah atas, hingga pendidikan tinggi. Pihaknya juga kerap bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memberi pemahaman yang mendalam terhadap bahaya narkoba. ‘’Perang terhadap narkoba kami lakukan secara preventif sampai represif,’’ tegasnya.

Pemkot juga sudah turun tangan mencegah warganya terjatuh ke dalam lubang kesengsaraan akibat narkoba. Wali Kota Madiun Sugeng Rismiyanto (SR) memerintahkan bakesbangpol mengambil alih tugas-tugas preventif atau pencegahan dari Badan Narkotika Kota (BNK) Madiun yang telah dibubarkan, sembari berharap akan dibentuknya Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Madiun. Kepala Bakesbangpol Bambang Subanto menyebut anggaran Rp 200-300 juta digelontor setiap tahun demi upaya tersebut. ‘’Ini rutin,’’ ujarnya.

Bambang menambahkan, doktrin memerangi narkoba ditancapkan lewat berbagai lini. Mulai kalangan pelajar sampai ibu-ibu yang tergabung dalam Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Sebab, Bambang menyadari peranan perempuan vital di keluarga. ‘’Dalam setiap upaya pencegahan, sosialisasi selalu melibatkan kepolisian hingga BNNP Jatim. Khusus pengawasan terhadap peredaran obat yang mungkin rawan disalahgunakan, Dinkes KB juga punya andil di sana,’’ tandasnya. (naz/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here