Wow, Omzet Pedagang Pasar Tradisional Setengah Trilun

133

MADIUN – Proyeksi pendapatan asli daerah (PAD) dari retribusi pengelolaan pasar tahun ini telah dipatok sekitar Rp 4 miliar. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Madiun menyebutkan, proyeksi itu lebih besar dibanding target 2018 lalu. ’’Saat itu pendapatan dari retribusi pasar mencapai Rp 3,9 miliar,’’ kata Kepala Disperindag Kota Madiun Gaguk Hariyono kemarin (7/1).

Kendati begitu, pihaknya optimistis target pendapatan dari retribusi pengelolaan pasar tersebut dapat terpenuhi. Apalagi, omzet perdagangan pasar tradisional di Kota Madiun mencapai Rp 547,9 miliar pada 2018. ’’Adanya undian berhadiah ikut mendongkrak pendapatan dari sektor retribusi pasar,’’ ujar Gaguk.

Selain itu, ada beberapa pertimbangan yang diberikan untuk memenuhi proyeksi pendapatan dari sektor retribusi pelayanan pasar tersebut. Salah satunya perintah Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Dalam aturan itu, penyesuaian tarif retribusi bisa dilakukan selama tiga tahun sejak ketetapannya dibahas oleh pemerintah daerah.

Di Kota Madiun, retribusi pelayanan pasar terakhir dibahas pada 2017 lalu. Itu ditandai terbitnya Perda 16/2018 hasil perubahan Perda 32/2011 tentang Retribusi Pelayanan Pasar. Dalam aturan tersebut, ada beberapa tarif yang dinaikkan dalam rencana penyesuaian retribusi pengelolaan pasar. Misalnya, retribusi sewa tanah atau tempat reklame. Serta retribusi untuk kegiatan promosi di lingkungan pasar. Dari sebelumnya untuk pasar kelas I hanya Rp 3 ribu berubah menjadi Rp 10 ribu per meter persegi dan per hari.

Wakil Ketua DPRD Kota Madiun Rina Haryati mendesak disperindag untuk merealisasikan hitung-hitungan yang telah mereka buat sendiri perihal proyeksi pendapatan retribusi pelayanan pasar pada 2019. ’’Jika potensi tersebut bisa direalisasikan, tentu bagus untuk pembiayaan pembangunan,’’ katanya.

Meski demikian, Rina tak menampik kondisi pasar tradisional di Kota Madiun sudah kehilangan pamor. Misalnya, sejumlah stan yang disewa pedagang ternyata tidak pernah buka seperti di Pasar Besar Madiun (PBM). Kondisi itu membuat petugas pasar ragu-ragu menindak stan yang digunakan tersebut. ’’Itu juga harus dipikirkan oleh pemkot bagaimana membuat pasar tradisional yang ada saat ini bisa ramai,’’ ujar politikus Partai Gerindra itu.

Apa yang dikatakan Rina memang ada benarnya. Pantauan Jawa Pos Radar Madiun, belasan kios di PBM tertutup rapat rolling door-nya. Terutama di lantai dua. Pengurus Paguyuban Pedagang PBM Agus Nur Hadi mengamini kondisi pasar yang kehilangan pamornya itu. Tanpa menyebut jumlah unit, dia memastikan sejumlah kios berdiri tanpa tuan.

Sebagian pemilik kios sengaja mengalihfungsikannya menjadi gudang. Sepinya pengunjung pasar terjadi bertahap dari tahun ke tahun. Pada libur Natal dan tahun baru 2019 saja, pedagang konveksi mengalami penurunan omzet lumayan besar. Persentasenya mencapai 60 persen dibandingkan saat Lebaran. ‘’Memang pembelinya jauh menurun. Berdirinya pusat perbelanjaan bisa menjadi salah satu penyebab,’’ tuturnya. (her/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here